Kabar Baru

Bogor Akan Buka Wisata Hutan Kota Setelah Kebun Raya

Selasa, 14 Juli 2020 10:44 WIB

Satu lokasi sedang disiapkan di hutan penelitian Darmaga yang terdapat situ Gede dan perkantoran CIFOR. Potensial menjadi hutan penelitian dan wisata pendidikan karena strukturnya masih lengkap.

Redaksi

Redaksi

PEMERINTAH Kota Bogor sedang merencanakan membangun wisata hutan kota yang diintegrasikan dengan hutan pendidikan. Luas arealnya tak jauh beda dengan Kebun Raya Bogor di pusat kota hujan ini. Jika Kebun Raya Bogor yang didirikan Caspar Georg Carl Reinwardt, botanis Belanda, pada 1870 luasnya 87 hektare, calon hutan wisata pendidikan ini luasnya 57,75 hektare.

Lokasinya terletak di Desa Situ Gede dan Desa Bubulak, 9 kilometer atau 30 menit berkendara ke arah barat dari pusat Kota Bogor. Dari arah Jakarta jauh lebih dekat karena hanya beberapa kilometer dari pintu keluar jalan tol Sentul Selatan.

Kawasan hutan dengan elevasi 244 meter dari permukaan laut ini dihuni oleh ragam tumbuhan endemik Indonesia maupun dari luar negeri.

Hutan ini secara resmi menjadi Hutan Penelitian Darmaga yang didirikan pada 1956—ketika Institut Pertanian Bogor masih jadi bagian Universitas Indonesia. Hutan ini acap dijadikan areal penelitian mahasiswa Fakultas Kehutanan yang menempati kampus di IPB Darmaga sejak awal 1960-an.

Suwarno Sutarahardja, pensiunan dosen perencanaan hutan Fakultas Kehutanan IPB, pada 2013 melakukan penelitian untuk memetakan potensi hutan penelitian ini. “Areal ini punya potensi menjanjikan jika dikembangkan menjadi kawasan penelitian, wisata pendidikan, apalagi jika disinergikan dengan Situ Gede dan sungai Cisadane,” kata Suwarno.

Suwarno sudah melaporkan hasil penelitiannya tersebut kepada Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto pada 13 Juli 2020. Kepada Suwarno dan perwakilan pengurus Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB, Atang bercerita bahwa pemerintah Jawa Barat menantang Kota Bogor mengembangkan wisata baru untuk menarik minat kunjungan ke kota ini. Pemerintah Kota Bogor lalu melirik hutan pendidikan Darmaga itu.

Dalam Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor Tahun 2011-2031 telah memasukkan areal hutan ini sebagai kawasan strategis dengan sudut kepentingan lingkungan, terutama melindungi kawasan Situ Gede, mempertahankan lahan pertanian kota, dan mengendalikan perkembangan perumahan.

Hasil pertemuan tersebut akan dibawa Atang bersama pengurus alumni Fakultas Kehutanan kepada Wali Kota Bogor Bima Arya pada Kamis, 16 Juli 2020. Menurut Atang, pemerintah Kota Bogor memang telah menyediakan dana untuk mengembangkan hutan penelitian tersebut sebagai tujuan wisata baru di kota ini.

Suwarno bercerita bahwa hasil penelitiannya juga sudah dipresentasikan di depan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menaungi hutan tersebut. KLHK setuju dengan rencana pengembangan hutan penelitian Darmaga sebagai daerah ekowisata dan areal penelitian karena berada di dekat kampus IPB.

Dari total luasnya, 10 hektare kawasan ini menjadi areal perkantoran Center for International Forestry Research (CIFOR) dan International Center Research for Agro Forestry (ICRAF). Hasil penelitian Suwarno dan para pensiunan dosen Fakultas Kehutanan tentang potensi Hutan Penelitian Darmaga pada 2013.

Potensi

  • Flora. Ada sebanyak 129 jenis tanaman di hutan ini, mencakup 95 marga dan 40 famili. Berdasarkan sebaran alaminya, tanaman tersebut terdiri atas jenis asing sebanyak 40 jenis. Yang paling banyak antara lain dari marga Pinus, marga khaya dan marga terminalia. Sedang dari jenis asli Indonesia terdapat 89, termasuk satu jenis bambu dan satu jenis rotan, lainnya jenis pohon. Jenis pohon asli Indonesia terdiri antara lain marga agathis, marga podocarpus, shorea, eugenia, dipterocarpus dan hopea..
  • Fauna. Hewan liar di areal ini antar alin ular tanah (Agkistrodon rhodostoma), tupai (Lariscus sp.) dan musang (Para-doxurus hermaphroditus) serta bermacam jenis burung. Selain itu terdapat jenis fauna yang ditangkarkan semacam rusa, jenis Timor (Cervus timorensis), rusa Sambar dan rusa Bawean.
  • Ulat sutra. Di areal seluas 20.000 meter persegi telah dikembangkan pelbagai jenis murbai dari berbagai negara yang menjadi pakan ulat sutra.
  • Mata air. Ada lima buah mata air dengan debit yang cukup besar, yang tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. Mata air tersebut lokasinya dekat dengan areal yang cocok untuk lokasi perkemahan.,
  • Lebah madu. Cukup potensial dikembangkan sebagai bagian dari perhutanan sosial yang sudah dikembangkan pegawai hutan penelitian dan keluarganya.
  • Sungai dan danau. Keberadaan sungai Cisadane bisa membuka peluang wisata arung jeram jika kelak areal ini benar-benar menjadi daerah wisata alam. Selain Situ Gede ada juga danau Situ Panjang dan Situ Burung.
  • Interaksi masyarakat. Di sekitar kawasan dengan hutan penelitian cukup intensif terutama pada hari libur untuk rekreasi. Penduduk yang tinggal di kawasan ini memiliki pekerjaan beragam. Dari pemilik sawah/lahan, petani penggarap, peternak, perikanan darat, industri ringan, perdagangan, pegawai negeri, pegawai swasta buruh dan tukang.

Dengan segala potensi itu, menurut Suwarno, hutan penelitian Darmaga layak dikembangkan sebagai areal baru wisata Kota Bogor berbasis ilmiah dan lingkungan. “Ini peluang emas bagi IPB, Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan, KLHK, dan Pemda Kota Bogor,” katanya.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain