Surat dari Darmaga

New Normal: Saatnya Ramah Lingkungan

Rabu, 08 Juli 2020 13:47 WIB

Era new normal atau normal baru setelah pandemi virus corona, seharusnya mendorong kita lebih peduli lingkungan. Virus muncul karena alam tak seimbang.

Muhammad Haidar Daulay

Asisten peneliti di Sebijak Institute

PANDEMI covid-19 yang mulai mewabah sejak Desember 2019 telah memakan banyak korban jiwa. Pemerintah di berbagai negara bergegas menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) maupun social distancing untuk mencegah penyebaran yang semakin masif.

Kebijakan ini berdampak buruk bagi kondisi ekonomi global, namun tidak bagi sektor lingkungan. Berbagai media memberitakan kondisi lingkungan membaik sejak penerapan kebijakan lockdown maupun social distancing. Di New York emisi karbon turun 50%, Tiongkok turun 25%, air tampak jernih di Venice, Italia, dan langit Jakarta tampak biru cerah selama beberapa bulan terakhir.

Lockdown maupun social distancing tentu bukan solusi jangka panjang untuk menjaga lingkungan. Setelah situasi kembali normal, risiko pencemaran lingkungan akan kembali muncul melalui berbagai aktivitas manusia.

Karena itu, sangat penting mulai membiasakan diri dengan aksi ramah lingkungan (green action) terutama untuk menyambut new normal yang sudah digaungkan di banyak negara. Apa yang bisa kita lakukan?

Meningkatkan pengetahuan tentang isu lingkungan. Sebelum melakukan aksi lingkungan adalah mengetahui dan memahami isu seputar lingkungan. Memahami isu lingkungan  akan meningkatkan kepekaan seseorang untuk lebih bertanggung jawab menjaga lingkungan hidup.

Sejak pandemi, banyak lembaga pemerintah maupun non-pemerintah yang menyediakan diskusi seputar isu lingkungan secara daring melalui webinar (seminar online). Webinar  menjadi media bagi khalayak umum untuk memahami isu lingkungan dengan akses yang mudah dan tidak berbayar.

Berbagai tema isu lingkungan seperti kebakaran hutan, penggunaan energi terbarukan, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim tersedia di webinar-webinar ini. Informasi-informasi webinar ini bisa diperoleh melalui akun sosial media lembaga pemerintah maupun komunitas yang fokus di bidang lingkungan hidup.

Memilih produk ekolabel. Produk ekolabel menandakan bahwa produk tersebut dibuat dari proses produksi, penggunaan, dan pembuangan limbah yang tidak membahayakan lingkungan. Produk ekolabel saat ini mulai diminati di pasar global terutama untuk menyasar konsumen yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Beberapa contoh ekolabel yang ada di Indonesia adalah label FSC untuk produk berbahan dasar kayu, RSPO untuk produk kelapa sawit, MSC untuk produk perikanan tangkap, dan ASC untuk produk perikanan budidaya.

Hemat energi dan mengurangi jejak karbon. Memilih produk elektronik yang lebih hemat energi, mematikan lampu di siang hari, mengolah sampah organik menjadi kompos, dan mengontrol jejak karbon pribadi merupakan beberapa langkah kecil yang berdampak positif bagi lingkungan hidup.

Jejak karbon merupakan total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh individu yang dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen. Besaran jejak karbon pribadi dapat dihitung melalui fitur carbon footprint yang dapat diakses melalui internet.

Salah satu sumber jejak karbon yang cukup besar berasal dari transportasi. Kendaraan berbahan bakar fosil tampaknya masih menjadi pilihan utama transportasi bagi masyarakat umum. Namun telah terjadi fenomena unik sejak pandemi beberapa bulan ini.

Saat ini sepeda menjadi tren transportasi di beberapa negara termasuk Indonesia. Masyarakat di beberapa kota seperti Jakarta dan Yogyakarta mulai berbondong-bondong menggunakan alat transportasi ramah lingkungan ini.

Kemunculan tren bersepeda ini mungkin disebabkan oleh rasa jenuh masyarakat setelah berbulan-bulan  bekerja dari rumah. Semangat bersepeda ini tentunya perlu dijaga dan dijadikan gaya hidup baru dalam situasi new normal ini. Selain itu, perlu dukungan pemerintah untuk menjadikan sepeda sebagai gaya hidup baru, contohnya dengan memfasilitasi jalur yang aman bagi pesepeda.

Menanam pohon dan urban farming. Pohon memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca terbesar di bumi ini. Menanam satu pohon saja sangat berarti bagi upaya mitigasi perubahan iklim.

Bagi yang terkendala menanam pohon karena keterbatasan lahan, saat ini telah tersedia beberapa platform yang menerima donasi pengadaan bibit, penanaman, perawatan, bahkan sampai pemantauan kondisi pohon. Selain menanam pohon, konsep urban farming juga telah dikembangkan di kota-kota besar Indonesia sebagai alternatif pemanfaatan ruang dan upaya mitigasi perubahan iklim.

Menyebarluaskan informasi aksi ramah lingkungan. Tindakan ramah lingkungan kolektif tentu akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan aksi individu. Setelah berhasil menerapkan aksi ramah lingkungan, saatnya mengajak keluarga, rekan kerja, dan teman-teman untuk memulai mencoba gaya hidup ramah lingkungan.

Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia, membuktikan kepada dunia bahwa aksi individu dapat menggerakkan aksi kolektif. Dalam situasi pandemi ini, penyebarluasan aksi ramah lingkungan bisa dilakukan melalui sosial media seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Lingkungan hidup yang membaik selama beberapa bulan ini bisa saja membuat masyarakat dunia terlena, hingga lupa bahwa kondisi seperti ini hanya bersifat sementara. Kebijakan lockdown maupun social distancing tidak dapat dijadikan sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga lingkungan hidup.

Oleh karena itu, penting untuk mulai membiasakan diri menerapkan aksi ramah lingkungan sehingga ketika memasuki kondisi normal (new normal), kita sudah terbiasa dengan gaya hidup ramah lingkungan.

Gambar oleh OyeHaHa dari Pixabay.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain