Profil | April-Juni 2020

Dari Mancing ke Mulung Sampah

Para sukarelawan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) yang tekun membersihkan sampah Ciliwung di Bogor. Sampah makin berkurang

Robi Deslia Waldi

Bekerja di Fakultas Kehutanan IPB

EMPAT puluh tahun lalu, Suparno Jumar tak sungkan nyemplung ke sungai Ciliwung di sekat Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat. Ia lahir dan besar di dekat aliran sungai yang bermuara di Laut Jawa di Jakarta Utara itu. “Dulu sungai bersih,” katanya awal Maret lalu.

Kini, laki-laki 47 tahun ini masih nyemplug ke Ciliwung. Tapi bukan untuk berenang, melainkan memunguti sampah yang memenuhi badan sungainya. Ia bergabung dengan Komunitas Peduli Ciliwung yang rutin memunguti sampah tiap Sabtu. “Sudah lebih dari sepuluh tahun,” katanya.

Syahdan, pada 2009 sejumlah pemancing di Bogor kesulitan menemukan spot memancing yang asyik di sepanjang Ciliwung. Dari Katulampa hingga Cilebut mereka tak mendapatkan lokasi bagus memancing karena sungai mendangkal dan dipenuhi sampah. Pulang dari penelusuran itu mereka membicarakannya dalam ngobrol ngalor ngidul tentang menyelamatkan sungai ini.

Dari kumpul-kumpul setelah memancing itu, mereka sepakat mendirikan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) pada 15 Maret 2009. Penggagasnya adalah Hapsoro, alumnus Fakultas Kehutanan IPB yang menjabat Direktur Forest Wacth Indonesia. Ia meninggal di usia 41 pada 2012. Hari Yanto dan Andi, dua pemancing, yang juga cemas dengan nasib sungai ini.

Soalnya, gunungan sampah di badan sungai itu berasal dari tidak sadarnya penduduk di sekitar sungai terhadap kesehatan mereka sendiri. Mereka membuang sampah rumah tangga begitu saja ke sungai. Juga keterbatasan akses. Di sepanjang sungai, hidup penduduk di rumah-rumah perkampungan dengan gang sempit. Akibatnya, mobil pengangkut sampah tak tembus ke depan pintu rumah mereka.

Pemerintah Kota Bogor menghitung ada 30 ton sampah yang masuk ke sungai Ciliwung tiap hari. Dari plastik hingga sisa makanan. Dari styrofoam sampai kasur spring bed. Perhitungannya sederhana. Ada 87 titik pembuangan sampah sepanjang Ciliwung di 13 kelurahan. Jika satu titik menghasilkan 2 meter kubik sampah, jumlah sampah sehari sebanyak 30 ton.

Sampah sebanyak ini seper-dua puluh total sampah yang dihasilkan Kota Bogor sehari. Ini catatan tempat penampungan akhir sampah di kota ini. Padahal, sampah dari pasar tradisional, dari rumah tangga, tak sepenuhnya diangkut petugas sampah ke tempat pembuangan.

Ciliwung adalah problem pelik pengelolaan sungai di Indonesia. WWF memperkirakan 80 persen sungai yang melewati permukiman penduduk rusak karena tertimpa sampah sehingga keanekaragaman hayatinya tumpas. Kebiasaan dan pengelolaan sampah yang kacau membuat sungai menjadi tempat akhir pembuangan sampah. Karena itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat 37% sampah berakhir di laut.

Sampah Ciliwung (Foto: Asep Ayat)

Keadaan ini membuat para pemancing penggagas KPC makin bulat bergerak mengampanyekan sungai Ciliwung yang sehat. Mereka mulai memunguti sampah di Ciliwung lalu mengirimkannya ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor. “Biar mereka malu,” kata Hapsoro, seperti dicatat Ridzki R. Sigit dalam obituarium untuk temannya itu di web Mongabay.

Hapsoro dan para relawan KPC juga menanami badan sungai dengan pelbagai pohon yang bibitnya mereka ambil dari kampus IPB Darmaga. Hingga meninggal, Hapsoro tak sempat menunaikan cita-citanya menangkar ikan-ikan spesies asli Ciliwung untuk mencegah tak punah.

Menurut Suparno Jumar, awal pendirian KPC banyak yang memandangnya sebelah mata. Pengumuman mulung (memungut) sampah tak ada yang memedulikannya. Pernah, kata Suparno, KPC hanya dihadiri satu relawan mungut sampah dan hanya bisa mengumpulkan satu karung sampah seberat 25 kilogram dari pukul 8 hingga 11.

Berkat kegigihan para pegiat KPC memungut sampah tiap Sabtu, dengan hasil yang dikirim ke kantor pemerintah Bogor, kegiatan mereka mulai dilirik. Sekali waktu “Mulung Ciliwung” diikuti 2.000 orang yang mengumpulkan sampah mencapai 20 ton. “Kami justru sedih dengan perolehan itu karena ternyata masih banyak penduduk yang belum sadar,” katanya.

Relawan Komunitas Peduli Ciliwung.

Kini Pemerintah Kota Bogor menjadikan mulung Ciliwung sebagai program rutin dan mengadopsinya sebagai program resmi. Truk pengangkut sampah pemerintah mengangkutnya sampah yang terkumpul tiap Sabtu ke tempat pembuangan akhir di Galuga.

Setiap peringatan Hari Jadi Kota Bogor tiap 3 Juni ada Lomba Mulung Sampah Ciliwung yang diikuti wali kota. Pada 2013, KPC mendapat rekor Museum Rekor Indonesia karena jumlah relawan yang ikut mulung hampir 2.500 orang.

Berkat kampanye di media sosial dan memodifikasi kegiatan Sabtu dengan membuat pagelaran musik dan kopi, KPC dan mulung sampah Ciliwung makin terkenal. Para artis acap datang ke sana ikut memeriahkan acara.

Inisiatif KPC juga mengilhami kegiatan serupa yang dilakukan oleh organisasi lain di sektor lain. Ciliwung membentang hingga Jakarta Utara yang melewati Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Jakarta. Tiap tahun beberapa organisasi melakukan gerakan bersihkan Ciliwung di beberapa titik di wilayah Depok dan Jakarta.

Suparno Jumar sedang mengangkat sampah di sungai Ciliwung, Bogor, Jawa Barat.

Masyarakat juga agaknya makin sadar dengan bahaya membuang sampah ke sungai. Ukurannya sederhana. “Tiap mulung sampah jumlah yang terpungut terus berkurang,” kata Suparno Jumar.

Suparno menambahkan: “Mungkin KPC tidak membuat Ciliwung seperti dahulu sewaktu saya kecil, tapi setidaknya kesadaran masyarakat tidak buang sampah ke sungai sudah tumbuh.”

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain