Kabar Baru | 10 Juni 2020

Pemanasan Global dalam Kesenian

Perlu lebih banyak cara kreatif agar isu pemanasan global kian dipahami oleh publik. Kesenian dan dukungan seniman sangat diperlukan.

Swary Utami Dewi

Board Kawal Borneo Community Foundation dan anggota The Climate Reality Leaders of Indonesia.

DARI webinar “The Climate Reality Indonesia” yang bertema “Alam Semesta dalam Pentas Teater” pada 8 Juni 2020, saya tergelitik untuk menulis perlunya kreativitas pengelolaan pengetahuan terkait isu perubahan iklim—yang kini sebaiknya kita sebut “krisis iklim” karena dampaknya makin terasa nyata dalam kehidupan kita.

Perubahan iklim terjadi akibat pemanasan global. Pemanasan global timbul karena berbagai faktor, terutama beragam aktivitas manusia yang sangat memerlukan dan menghasilkan karbon. Konsentrasi karbon yang tinggi dan gas gas rumah kaca lainnya membuat fungsi atmosfer terganggu.

Pada kondisi normal, atmosfer akan menyerap sebagian panas matahari untuk membuat bumi tetap hangat dan memungkinkan kehidupan, serta mampu memantulkan kembali sebagian besar panas matahari ke angkasa. Ketika banyak gas rumah kaca terperangkap di atmosfer, fungsi normal tersebut terganggu, sehingga banyak panas matahari tidak bisa lagi dipantulkan balik ke angkasa. Akibatnya bumi makan panas.

Bentuk akibatnya adalah pelbagai bencana. Badai makin sering. Air laut kian naik karena lapisan es di kutub banyak mencair. Musim berubah, cuaca jadi tak menentu. Primbon musim tanam kini tak berlaku lagi sebagai patokan petani. Juni yang seharusnya kemarau kini makin sering terpapar hujan. Penyair Sapardi Djoko Damono agaknya perlu merevisi sajak Hujan Bulan Juni karena tak lagi melambangkan kemarau panjang. Hujan di bulan ini tak lagi melambangkan ketabahan.

Penelitian-penelitian telah mengkonfirmasi prediksi tragedi pada umat manusia jika pemanasan global mencapai titik yang dikawatirkan, yakni bumi memanas melewati 2,50 Celsius pada 2050. Jika itu terjadi separuh bumi akan terpanggang dan 3,5 miliar manusia akan mengalami suhu yang ekstrem. Suhu yang naik memicu bangkitnya virus-virus yang menyerang manusia.

Meski perubahan iklim sudah menjadi krisis iklim, banyak yang masih menyangkalnya. Masih banyak para penyangkal atau peragu iklim. Mereka berpandangan bahwa perubahan iklim hanya isu yang dibuat-buat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menuding pemanasan global hanya isu hoax buatan Tiongkok. Pendukung asumsi ini berpendapat bahwa jika pun terjadi perubahan iklim, dan bumi memanas, planet ini akan pulih sendiri, bumi akan bertahan menghadapi apa pun yang menghantamnya.

Bagaimana menghadapi para penyangkal perubahan iklim ini agar kemudian timbul kesadaran, lalu muncul perubahan sikap dan aksi-aksi penyelamatan bumi?

Dalam konteks pengelolaan pengetahuan, perlu berbagai upaya agar informasi dan pengetahuan terkait perubahan iklim bisa dikemas lebih menarik dan ciamik dan lebih mudah diterima banyak pihak. Ujungnya adalah muncul kesadaran bahwa bumi memang tengah sekarat dan perlu diselamatkan dengan cara-cara sederhana sejak individu hingga mendorong kebijakan politik yang lebih prolingkungan.

Kampanye mesti lebih gencar. Beruntung kita memiliki Greta Thunberg. Remaja Swedia itu kini jadi juru bicara terdepan mengingatkan perlunya para pemimpin dunia duduk bersama merumuskan kebijakan negara untuk menahan laju pemanasan global. Kita perlu lebih banyak Greta Thunber di banyak belahan dunia.

Liputan majalah ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya melindungi bumi di kalangan anak muda sudah meningkat. Terutama di Eropa, mereka yang sebenarnya tak terlalu repot dengan suhu udara. Tapi mereka sadar bahwa kebijakan negara kaya yang mengekspor investasi ke negara-negara miskin di Asia dan Afrika tetap saja membawa planet ini ke dalam kesengsaraan. Kita perlu membawa semangat serupa ke dalam negeri.

Kita perlu lebih banyak relawan sebagai agen perubahan. Gerakan-gerakan mereka adalah pengelolaan pengetahuan yang harus didukung oleh korporasi, lembaga-lembaga nonpemerintah, dan pelbagai pihak sehingga menjadi gerakan masif. Karena itu kita perlu gagasan dan cara-cara yang lebih kreatif agar isu pemanasan global kian dipahami dan disadari semua orang.

Salah satunya melalui seni. Naskah teater, misalnya, meski pendek bisa memiliki nafas isu perubahan iklim. Jika ini banyak dilakukan, kesadaran perubahan iklim sangat mungkin terjadi di kalangan para penggiat, pemerhati dan pencinta seni. Tari, sajak, lukisan, dan karya-karya seni lain yang lebih mudah diterima publik bisa melakukan hal serupa.

Banyak seniman sudah melakukannya. Hanya gerakan itu perlu lebih masif dan lokal dan sering. Agar isu pemanasan global kian kuat dalam mengendalikan narasi besar perlindungan planet ini.

Gambar oleh Banksy via Magnus D.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain