Kabar Baru | 11 Mei 2020

Kreativitas Petani Hutan Bertahan di Masa Pandemi

Di masa pandemi, para petani hutan tak menyerah pada keadaan. Banyak kreasi dari daerah yang membuat wabah justru jadi berkah.

Rakhmat Hidayat

Bekerja di World Resources Institute. Anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial

LAGU lama Koes Plus mengalun ketika saya membaca hasil tugas mandiri para peserta Pelatihan Pendampingan Perhutanan Sosial Pasca Izin jarak jauh secara elektronik (e-learning) Gelombang II Angkatan 3.

Buat apa susah,
buat apa susah,
lebih baik kita bergembira...

Jam dinding menunjukkan pukul 01.26 WIB, namun bunyi tek.. tik.. tuk.. tanda pesan masuk ke aplikasi WhatsApp dari para peserta masih terus terdengar. Sebagai narasumber dan tutor, saya memang sudah menyediakan waktu kapan pun untuk berdiskusi dengan para peserta yang datang dari tiga zona waktu berbeda.

BACA: Cara Perhutanan Sosial Memaknai Pandemi

Biasanya waktu yang paling enak adalah seusai salat tarawih. Saya senang bisa menjadi bagian dari insiatif cerdas yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi masyarakat pengelola hutan sosial juga sebagai media untuk sosialisasi mitigasi/penanganan covid-19.

Wabah virus corona covid-19 mengubah pendekatan pendampingan di lapangan, juga aktivitas para pemegang izin perhutanan sosial. Pertemuan kelompok, diskusi penyusunan rencana pengelolaan bahkan gotong royong pengembangan kebun bibit yang melibatkan puluhan bahkan bisa sampai ratusan anggota harus ditiadakan untuk menghindari makin meluasnya Covid-19.

Selain itu juga pemasaran produk hasil hutan bukan kayu seperti karet, kopi, coklat, kayu manis, pala, kemiri dan lainnya terhambat akibat tutupnya beberapa pabrik pengolah, gerai, kafe juga hambatan distribusi. Kondisi yang sama juga menghantam lokasi-lokasi ekowisata yang telah dikembangkan oleh kelompok petani hutan sosial, yang biasanya masa-masa menjelang dan sesudah Lebaran adalah waktu puncak kunjungan para wisatawan. Tidak ada lagi pemasukan bagi kelompok juga masyarakat yang terlibat di dalam rantai pasarnya.

Dari proses pembelajaran dalam pelatihan online, muncul semangat dari para peserta bahwa wabah covid-19 bukan untuk ditangisi dan membuat semangat ambruk. Tapi justru mesti dihadapi dengan ide dan kreativitas baru.

Para peserta yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau (Batam dan Tanjung Pinang), Jambi (Kerinci) serta Bengkulu (Kepahiang) menceritakan bahwa ekowisata di Batam, Tanjung Pinang, Kerinci dan Kepahyang menjadi lokasi kunjungan wisata domestik maupun asing yang menjadi sumber penghasilan masyarakat. Kini sepi dan tutup.

BACA: Menjaga Semangat Petani Hutan Sosial di Masa Pandemi

Bagaimana anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Sungai Telang dan Sungai Pua di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi yang terkenal sebagai penghasil kopi, kayu manis, serta sayur-sayuran harus kehilangan sumber mata pencarian karena produk yang tidak terjual. Atau para anggota KPS di Kabupaten Kepahyang Bengkulu yang selama ini penghidupannya ditentukan oleh kopi, mengalami hal yang sama seperti kawan-kawannya di Kabupaten Kerinci.

Lain lagi yang dihadapi KTH Harapan Sukses di Kota Batam yang punya obyek ekowisata andalan Puncak Beliung, yang biasanya banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dari Singapura, saat ini juga harus tutup. Dampaknya adalah penghasilan dari kegiatan ekowisata menjadi terputus. Setali tiga uang hal ini juga terjadi di KTH Sumber Rezeki Tanjung Pinang.

Apakah kehidupan menjadi berhenti karena covid-19 ini? Para petani itu menjawab tidak! Justru menjadi tantangan bagi mereka untuk menemukan jalan keluar serta kreasi baru. Banyak inspirasi cerdas yang muncul untuk mulai berdamai dengan keadaan, salah satunya adalah mengembangkan alternatif sumber penghidupan baru.

Indri Khairiyah, pendamping KTH Harapan Sukses dari KPHL Unit II  Batam menyampaikan bahwa tutupnya usaha ekowisata Puncak Beliung akibat dampak covid-19 harus segera dicarikan jalan keluarnya. Bayangan kunjungan ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara dari Malaysia dan Singapura saat Lebaran harus dibuang jauh-jauh.

Agar operasional KTH ini dapat terus berjalan, ia dan anggota kelompok menyepakati menanam belimbing super di areal seluas 20 hektare. Penanaman dilakukan bertahap, mengingat terbatasnya biaya serta tenaga. Penanaman tahap pertama sebanyak 300 batang dilakukan pada Februari 2020.

Para petani menggandeng Pak Rizal yang punya pengalaman panjang dalam budidaya belimbing. Ia petani yang sukses hingga bisa memasarkan belimbing hingga ke luar negeri. Gayung bersambut, Pak Rizal yang menjadi satu-satunya ahli budidaya belimbing super di Batam, bersedia menjadi mentor dalam proses penanaman, perawatan, sampai dengan pemanenan. Ia bahkan membantu dalam pengolahan hasil dan pemasaran.

BACA: Hutan Sosial di Dunia Virtual

Untuk pasar lokal, buah ini dipasarkan di mal-mal besar, seperti Hypermart, dan Carrefour seharga Rp 35.000 per kilogram. Dibutuhkan waktu minimal tiga bulan agar tanaman ini mulai menghasilkan buah, di mana berat per buah bisa mencapai 700 gram. Salah satu keunggulan tanaman belimbing super ini, yaitu jika sudah mulai berbuah akan terus berbuah sampai usia 30 tahun ke depan tergantung dengan perawatannya.

Anggota KTH Harapan Sukses Batam ketika merawat belimbing super.

Kelompok tani, selain melakukan giliran menjaga kebun belimbing, juga mulai belajar pengolahan produk turunannya berupa sirop, dodol, jus, kripik, dan aneka jenis lainnya. Belimbing merupakan salah satu buah-buahan yang sangat kaya dengan vitamin C sehingga bisa memperkuat ketahanan tubuh dan imun yang sangat diperlukan di masa pandemi ini. Sehingga walaupun pendapatan dari ekowisata tidak ada, produk olahan belimbing ini diharapkan mampu menjadi pendapatan alternatif.

Lain lagi dengan Urip Azhari dari KTH Gunung Pua Kerinci. Ia memilih memanfaatkan produk lokal seperti beras, sayur-sayuran untuk memenuhi kebutuhan di desanya, daripada dijual ke pasar besar. Karena saat ini kopi dan kayu manis harganya turun dan susah menjualnya. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar di kampung, pengeluaran untuk konsumsi bisa ditekan. Karena hampir semua kebutuhannya tersedia di kampung, mereka hanya membeli apa yang tidak dihasilkan seperti minyak goreng, garam juga gula.

Di Bengkulu, Suyanto ketua KTH Daya Robusta menyampaikan walaupun saat ini harga kopi yang rendah karena pasar tutup dan produksi menurun akibat musim kemarau. Namun ia dan para petani lain tidak berputus asa, saat ini anggota melakukan upaya pemuliaan tanaman kopi dengan jalan melakukan penyambungan “stek pucuk” dengan kopi unggul (foto utama).

BACA: Keseimbangan Baru Akibat Pandemi Covid-19

Mereka berharap kopi akan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Untuk kebutuhan harian saat ini, para petani mencoba melakukan penanaman tanaman bawah tegakan seperti Jahe, cabai, dan aneka sayur-sayuran.

Covid-19, bukan sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari. Kita harus melawannya dengan kreativitas tanpa batas agar kita bisa beradaptasi dengan keadaan dan memanfaatkannya sebagai peluang untuk pengembangan usaha.

Pelatihan online ini menjadi media untuk saling belajar antar peserta dari berbagai provinsi terkait dengan strategi-strategi cerdas kelompok di dalam menghadapi covid-19. Mereka tidak kalah dan berpangku tangan, namun belajar dari alam yang terbentang luas. Memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka untuk menjadi pemenang di masa datang.

Tinggal kini bagaimana rencana setelah pelatihan komunikasi. Penguatan kapasitas teknis serta suntikan semangat serta dukungan para pihak menjadi salah satu kunci untuk implementasinya.

Lagu Koes Plus jadi relevan dengan apa yang dilakukan para petani menghadapi pandemi: buat apa susah, jika wabah mendorong jadi berkah.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain