Kabar Baru | 02 Mei 2020

Keseimbangan Baru Setelah Pandemi Covid-19

Pandemi covid-19 mendorong kita menciptakan keseimbangan baru secara ekonomi, sosial, lingkungan, bahkan kesehatan. Hidup kita berubah karena mahluk renik ini.

Lyta Permatasari

Pengajar Program Master Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin

PANDEMI covid-19 telah menyentuh rasa kemanusiaan kita. Virus corona telah membelah manusia ke dalam kelompok mereka yang optimistis dan pesimistis, mereka yang pasrah atau memilih berpikir positif dan melawannya agar kecemasan dan kegelisahan segera sirna. Kecanggihan teknologi komunikasi membuat pandemi kali ini mengamplifikasi segala hal yang menjadi dampaknya, termasuk kabar palsu dan berita bohong, juga teori-teori konspirasi tentang sumber virus ini.

Suka tidak suka, corona telah menciptakan sebuah keseimbangan baru dalam pelbagai segi: ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, bahkan tata cara kita makan. Saya sarikan beberapa dampaknya di bawah ini.

Segi Ekonomi
Covid-19 telah mengubah pola ekonomi masyarakat secara total. Kebijakan pembatasan interaksi sosial membuat masyarakat kita melakukan pelbagai transaksi secara online. Pasar yang mempertemukan tiap orang secara fisik kini berganti dengan keriuhan di dunia maya. Uang tradisional kalah pamor oleh uang elektronik.

Para penyedia makanan dan minuman juga terdorong menyediakan layanan transaksi digital. Selama pandemi virus corona, transaksi digital di McDonald naik empat kali lipat, transaksi digital harian Bank Mandiri melonjak dua kali lipat. Masjid bahkan pasar tradisional kini menyediakan kode QR untuk transaksi digital. Bank Indonesia mencatat, selama masa pandemi sejak awal Maret 2020, transaksi digital naik 18,1% menjadi 98,2 juta dengan nilai Rp 20,7 triliun.

Pola yang berubah ini agaknya akan terus meski kelak pandemi selesai. Bank Indonesia juga mendorong masyarakat bertransaksi non tunai dengan menyediakan pelbagai fasilitas bonus bagi mereka yang memakai transaksi digital, seperti penurunan batas bunga kredit, pelonggaran denda keterlambatan bayar, dan seterusnya. Ekonomi dan konsumsi memiliki keseimbangan baru di masa pandemi.

Segi Sosial
Akibat anjuran jaga jarak dan pembatasan sosial, pola berkumpul masyarakat juga berubah. Pelan-pelan kita menjadi terbiasa dengan pertemuan virtual dan diskusi online. Hampir setiap hari kita terpapar informasi webinar atau seminar melalui web dan aplikasi online. Para pekerja melakukan rapat secara online. Setelah empat pekan pembatasan sosial, kita dipaksa melakukan itu, dan kini sudah terbiasa melakukan telekonferensi. Aplikasi Zoom sampai kewalahan menampung lalu lintas online karena seluruh dunia memakainya, hingga harga sahamnya terkerek, meski banyak juga yang mempertanyakan soal keamanannya.

Bahkan berobat kini melalui daring. Kunjungan ke aplikasi Halodoc naik 6 kali lipat di masa pandemi. Aplikasi ini sangat membantu ibu-ibu yang tidak bisa membawa anaknya ke dokter karena praktik dokter tutup dimasa pandemi. Para dokter, sebaliknya, bisa membantu jutaan keluarga Indonesia berkonsultasi secara online. Obat juga bisa dipesan secara daring dengan pengiriman via jasa kurir.

Barangkali kita siap secara teknologi ketika krisis seperti pandemi corona ini datang. Yang tidak siap adalah ongkosnya.

Bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap, kebijakan pembatasan interaksi sosial tak terlalu berdampak karena pendapatannya pasti. Mereka yang terpukul akibat pembatasan sosial adalah para pekerja informal seperti pedagang asongan, pengojek aplikasi, taksi, dan jenis-jenis pekerjaan yang memerlukan pertemuan fisik antara produsen dan konsumen.

Beberapa mal juga sudah merumahkan karyawan mereka akibat tak ada pembeli. Meskipun di beberapa wilayah kita mendengar banyak pengusaha yang berganti jenis usaha menyesuaikan keadaan. Pada akhirnya, proses ini juga akan menuju keseimbangan baru akibat hubungan sosial yang baru. Kita akan terdorong mengikuti gaya hidup baru dan teknologi juga akan menyediakan jalan baru untuk menunjangnya.

Segi Lingkungan
Pembatasan sosial membuat emisi berkurang. Terhentinya aktivitas manusia di luar rumah membuat udara jadi bersih karena pembakaran akibat transportasi juga berkurang. Kendati udara bersih itu tak bisa kita nikmati langsung, bahkan kita tidak bebas menghirup udara akibat banyak penelitian melaporkan virus corona bisa bertahan di aerosol dan droplet.

Kabar buruk dalam lingkungan adalah limbah medis akibat perawatan pasien yang terinfeksi virus corona. Belum ada data persis lonjakan limbah medis yang tergolong beracun juga limbah organik sisa makanan yang menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia dari total 64 juta ton per tahun. Setiap hari ada 200 ton sampah B3 yang diproduksi di Indonesia. Hanya 57% yang terolah, sisanya tak jelas ke mana.

BACA: Pandemi Selalu Terjadi Setelah Jumlah Emisi Naik

Pemakaian masker mungkin tak akan berhenti setelah pandemi usai. Kita jadi tahu sekarang fungsi masker bahkan jenis-jenisnya dalam menangkal virus dan jasad renik lain yang menyerang kekebalan tubuh kita dengan mudah. Di perkotaan bahkan di kampung orang terbiasa memakai masker. Sebuah kebiasaan baru ketika keluar rumah.

Hidup juga menjadi lebih sehat. Sejak pandemi kita jadi lebih paham menjaga sanitasi, mengerti teknik membersihkan tangan di air mengalir, bahkan paham fungsi sabun yang merontokkan dan mematikan virus. Semua pengetahuan di masa pandemi akan mendorong kita terus mempertahankannya ketika virus corona telah terusir seluruhnya dari muka bumi, atau ketika tubuh kita telah berdamai dengan menciptakan imunitas tertentu sehingga lebih tahan pada serangan corona.

Kita juga jadi lebih paham fungsi vitamin C bagi tubuh kita. Permintaan pada produk empon-empon, jahe merah, dan rimpang naik tajam. Kelak, kekayaan rempah Indonesia itu akan menemukan keseimbangan baru dalam bisnis dan cara kita mengonsumsinya. Di Kalimantan Selatan permintaan pada bawang Dayak meningkat pesat.

Segi Budaya
Dalam dua bulan terakhir banyak kosakata baru. Pembatasan sosial, karantina wilayah, alat pelindung diri), isolasi, gabut, jaga jarak, stay at home, work from home, panic buying, adalah sederet kosa kata baru yang kita akrabi selama pandemi. Di banyak negara, pandemi juga melahirkan istilah-istilah baru. Kita mendengar istilah “covidiot” bagi mereka yang ignorant dan bandel karena meremehkan daya serang virus corona.

Tak hanya soal bahasa, secara budaya pandemi juga memberikan keseimbangan baru. Virus corona membuat kepedulian kita meningkat. Memakai masker ternyata tak hanya untuk menjaga diri sendiri dari paparan virus tapi juga mencegah orang lain terpapar virus dari tubuh kita. Masker membuat kita jadi lebih empati pada sekeliling.

Inisiatif-inisiatif membantu tetangga dan bergotong royong mencegah agar virus tak masuk ke dalam kompleks rumah kita terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Penyanyi Didi Kempot bisa mengumpulkan donasi lebih dari Rp 7 miliar dalam konser dari rumah. Kita lihat banyak sekali para penggemarnya yang menyumbang dalam jumlah kecil yang menunjukkan kepedulian dan empati masyarakat kita begitu tinggi.

***

MUNGKIN masih banyak keseimbangan baru akibat pandemi virus corona. Yang belum kita tahu kapan virus ini akan lenyap. Corona telah menyentuh rasa kemanusiaan kita, dengan kemanusiaan pula kita bisa melawannya. Indonesia bangsa yang besar, beraneka ragam, yang terbiasa dan lolos dalam menghadapi pelbagai rintangan.

Gambar oleh Miss_Orphelia dari Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain