Kabar Baru | 10 April 2020

Jahe Merah Laris Semasa Pandemi Corona

Penjualan jahe merah petani hutan di Bandung naik seiring pandemi corona. Suplemen vitamin C.

Siti Sadida Hafsah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

PANDEMI virus corona Covid-19 melumpuhkan ekonomi. Para ekonom global telah memprediksi ekonomi dunia melambat tahun ini. Tak ada negara yang akan mencapai target pertumbuhan karena terhentinya produksi, turunnya konsumsi, akibat aktivitas masyarakat dibatasi untuk mencegah penularan virus pneumonia ini.

Ekonomi Indonesia diprediksi hanya tumbuh 1% bahkan negatif—dari target 5,3% tahun ini—akibat pandemi corona yang melumpuhkan pelbagai sektor, jika penanganannya meleset dan virus corona meluas tak terkendali. Pemerintah Indonesia tengah menggodok stimulus ekonomi tahap III untuk menahan laju penurunan itu.

Berbeda dengan perkotaan yang ekonominya terhenti karena penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar, di perdesaan ekonomi menggeliat karena permintaan terhadap produk petani hutan meningkat, seperti jahe merah, empon-empon, dan produk-produk lain yang mengandung banyak vitamin C untuk menaikkan kekebalan tubuh.

“Sebetulnya komoditas utama kami adalah kopi. Jahe merah, kunyit dan tanaman bawah tegakan hanyalah komoditas sampingan. Namun karena sekarang permintaan meningkat, alhamdulillah anggota kelompok mendapat tambahan pendapatan," ujar Yusuf, penyuluh kehutanan pendamping Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Senang pada 9 April 2020.

Yusuf mengatakan jahe merah menjadi salah satu produk petani hutan yang laris sebagai suplemen herbal penunjang stamina dan imun tubuh saat pandemi corona ini terjadi. KTH Giri Senang beranggotakan 147 petani hutan.

Salah satu daerah yang mendapat keuntungan besar dari komoditas jahe merah, yaitu Kampung Legok Nyenang Desa Giri Mekar, Cilengkrang, Bandung. Petani hutan di sana memanfaatkan kawasan hutan lindung di lereng Gunung Manglayang, dengan menanam jahe merah bersama tanaman kopi di bawah tegakan pohon pinus. Tegakan ini merupakan hasil program penghijauan hutan oleh masyarakat.

Menurut Yusuf, selama masa pandemi Covid-19, permintaan jahe merah kepada KTH Giri Senang mencapai hitungan ton, berbeda dari hari biasa yang hanya hitungan kuintal. Dengan perhitungan rata-rata sekali panen menghasilkan 1 ton jahe merah, dan harga Rp 75.000 per kilogram, omset yang didapatkan KTH mencapai sekitar Rp 75 juta sekali panen.

Selain produksi jahe merah, KTH Giri Senang juga membudidayakan tanaman empon-empon lain seperti kunyit. Di tengah pandemi corona, kedua produk petani hutan itu laris terjual karena mampu menambah stamina tubuh.

Adapun produksi kopi, kata Yusuf, juga tak mengalami gangguan berarti selama pandemi. Pada 2019 petani hanya memproduksi gabah kopi arabika, kini produknya bervariasi mulai dari pengolahan kopi greenbean dengan metode wash, natural, honey dan varian wine.

Kopi tersebut dijual dengan harga Rp 85.000-Rp 400.000 per kilogram dengan merek Kopi Bukit Palasari. Produknya telah memenuhi permintaan dalam negeri bahkan mulai menjajaki pasar Eropa. Dari usaha kopi ini beberapa anggota KTH ada yang sanggup mendapatkan pendapatan hingga Rp 300 juta per tahun.

Untuk menahan laju pelemahan ekonomi di perdesaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga membeli produk petani hutan dan menyumbangkannya ke rumah sakit rujukan virus corona. Menurut Menteri Siti Nurbaya, kebijakan ini diambil untuk menahan pelemahan ekonomi sekaligus mendukung para medis yang menjadi garda depan memerangi wabah ini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain