Surat dari Darmaga | 10 April 2020

Mengapa Tuhan Menciptakan Virus Corona?

Virus, termasuk virus corona, dan mahluk renik sudah ada sebelum manusia ada. Bagaimana kita memperlakukan mereka?

Qaris Tajudin

Sarjana Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

MENGAPA Tuhan menciptakan virus? Mengapa makhluk kecil berbahaya bagi manusia itu harus ada di muka bumi ini? Lebih tepatnya, mengapa harus ada virus corona Covid-19 yang membuat kita diam di rumah dengan was-was dan tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir?

Pertanyaan tentang apa guna makhluk kecil bagi kita, bagi plnaet ini, adalah pertanyaan purba yang sudah muncul sejak ribuan tahun lalu. Di masa Rasulullah SAW orang tentu belum mengenal virus, mikroba, atau makhluk renik lainnya yang hanya bisa dilihat di bawah mikroskop. Mereka hanya mengenal makhluk terkecil yang bisa dirasakan, seperti, nyamuk.

Saat itu orang bertanya, kenapa sih Tuhan menciptakan nyamuk yang mengganggu dan tidak memberi manfaat? Pertanyaan semacam itu pasti akan semakin kencang jika mereka saat itu tahu bahwa nyamuk juga berbahaya karena membawa banyak penyakit seperti malaria dan demam berdarah. Tapi, tanpa itu pun, pertanyaan tentang nyamuk ini sudah muncul dan menjadi perhatian Al-Quran.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 26 Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat makhluk semisal nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Orang-orang yang percaya akan tahu, (penciptaan nyamuk) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Tapi orang-orang yang menolak akan berkata, ‘Apa kehendak Allah dengan makhluk seperti ini?’ Banyak orang yang disesatkan karena hal itu, tapi banyak pula yang mendapat petunjuk. Dan tidaklah tersesat kecuali orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ada beberapa hal yang harus didudukkan dalam melihat makhluk-makhluk yang tampaknya tidak bermanfaat tersebut:

Pertama, pertanyaan itu (dalam nada yang negatif) muncul karena kita menjadikan manusia sebagai pusat dari semesta. Maksudnya, kita mengukur segala sesuatu dari bagaimana hal itu berdampak kepada kita. Sesuatu itu bagus kalau bermanfaat secara langsung untuk kita. Kita anggap jelek kalau tidak bermanfaat atau bahkan berbahaya. Termasuk soal virus, nyamuk, bakteri, lalat, dan sebagainya.

Padahal, kita tidak tinggal sendirian di bumi ini. Artinya, kita juga harus juga memikirkan manfaat dan mudarat untuk apa mahluk-mahluk renik itu untuk makhluk lain. Tapi, kita tidak pernah melihat hal itu. Kita menganggap banjir adalah musibah, padahal bagi makhluk lain banjir adalah berkah. Kita anggap gempa bumi dan gunung meletus adalah bencana, padahal jika tidak meletus sekarang mungkin akan meletus jauh lebih besar di masa depan dan membahayakan generasi setelah kita.

Jika kita mampu menerapkan masalah ini pada banyak hal, kita tidak akan membabat hutan dan mencelakai bumi. Karena kita bukanlah penguasa alam ini. Kita bukan penakluk alam. Kita adalah tamu yang Allah datangkan terakhir dengan tugas untuk hidup berdampingan dengan semua makhluk yang sudah ada sebelumnya.

Kedua, pertanyaan itu muncul karena ketidaktahuan. Nyamuk atau virus punya peran penting dalam keseimbangan alam. Virus, misalnya, membunuh triliunan mikroba lain dalam 60 detik. Itu baru satu hal, belum fungsi-fungsi lainnya yang begitu rumit. Anda bisa menemukan banyak jurnal ilmiah yang membahas peran virus dalam keseimbangan alam ini.

Intinya, dalam Islam ketidaktahuan bukan alasan untuk membuat judgment yang asal-asalan. Misalnya, ketika berita soal virus ini pertama kali muncul, para penceramah agama (Islam atau agama lain), punya reaksi yang kurang lebih sama. Para penceramah agama awalnya menganggap virus ini sebagai azab, siksaan. Hal ini dikatakan oleh mubalig Islam ataupun Kristen garis kanan di Amerika Serikat. Pesan mereka sama: virus ini adalah siksaan kepada negeri Cina yang komunis.

Saat Covid-19 mulai merebak dan menyerang semua negara, narasi virus sebagai siksaan itu berubah menjadi, “Allah sedang menguji kita.” Dari siksaan menjadi ujian. Hal yang sama. Perubahan ini mungkin hanya butuh satu bulan.

Akhirnya, kita semua tahu, ini bukanlah soal siksa dan cobaan. Keduanya hanyalah persepsi kita untuk sesuatu yang tidak kita ketahui. Yang diinginkan dari Al-Baqarah 26 di atas adalah: jangan menghakimi sesuatu yang kita tak tahu pasti. Cari tahu, biar tahu. Tapi jika belum tahu, jangan menghardik kegelapan.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain