Kabar Baru | 02 April 2020

Belajar Menangani Virus Corona Kepada Cina

Di Cina, dari lebih 80.000 kasus positif virus corona, lima paramedis meninggal akibat terpapar virus ketika mengobati pasien. Lima cara Cina berhasil menangani virus corona.

Redaksi

Redaksi

PEMERINTAH Cina mengumumkan tak ada lagi kasus baru orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 pada 19 Maret 2020, setelah mereka berjibaku meredam serangan virus flu dari kelelawar dan tenggiling ini. Sejak kasus pertama ditemukan pada 1 Desember 2020, total ada 3.318 orang yang mati dari 81.589 kasus orang positif terinfeksi virus yang menyerang sistem pernapasan ini.

Meski Cina dituduh menyembunyikan data sebenarnya, seperti dilaporkan Bloomberg yang mengutip laporan rahasia intelijen Amerika, laporan resmi pemerintah Cina itu bisa menjadi rujukan bagaimana serangan virus ini dan menanganinya. Setidaknya ada lima cara pemerintah Cina bertahan hingga akhirnya menang melawan virus mematikan ini, meskipun kini menghadapi kemungkinan serangan gelombang kedua.

Rasio kematian dengan pasien yang positif hanya 4,07%, jauh dibanding Italia yang mencapai 11,89%, bahkan Indonesia yang sebesar 9,49%. Dalam Journal American Medical Association, jumlah paramedis yang meninggal selama serangan puncak corona di Cina berjumlah 5 orang.

Bagaimana Cina menangani virus ini? “Memberlakukan pembatasan sosial itu penting karena ini virus yang menular dan menginfeksi saluran pernapasan,” kata George Gao, Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina kepada majalah Science pada 27 Maret 2020.

Menurut Gao, social distancing merupakan strategi non-farmasi yang diambil pemerintah Cina karena belum ada vaksin atau obat untuk mematikan virus ini. Cara kedua adalah mengisolasi pasien dengan ketat untuk mencegah penularannya. Ketiga mengkarantina orang-orang yang pernah berkontak dengan pasien positif Covid-19. Keempat, menunda pertemuan publik. Dan kelima karantina wilayah. “Syarat dari semua itu adalah kepemimpinan kuat, di tingkat lokal maupun nasional,” katanya.

Berikut ini terjemahan bebas dari wawancara Jon Cohen dengan George Gao, setelah memburunya selama dua bulan untuk wawancara ini:

Bagaimana semua ini dikoordinasikan ketika karantina atau lockdown?

Anda harus memiliki pemahaman dan konsensus. Untuk itu Anda memerlukan kepemimpinan yang sangat kuat, di tingkat lokal dan nasional. Anda memerlukan penyelia dan koordinator yang bekerja bersama publik dengan sangat erat. Pengawas perlu tahu siapa kontak dekat orang yang positif terinfeksi. Pengawas di komunitas harus sangat waspada. Mereka adalah kunci.

Kesalahan apa yang dilakukan negara lain?

Kesalahan besar di Amerika Serikat dan Eropa, menurut saya, adalah bahwa orang tidak memakai masker. Virus ini ditularkan melalui cairan dan kontak jarak dekat. Cairan memainkan peran yang sangat penting. Anda harus memakai masker karena ketika Anda berbicara, selalu ada cairan yang nyiprat dari mulut Anda. Banyak orang mengalami infeksi tanpa gejala sakit. Jika mereka mengenakan masker bisa mencegah cairan mulut yang membawa virus dan menginfeksi orang lain.

Bagaimana dengan tindakan kontrol lainnya? Cina memakai termometer secara agresif di pintu masuk ke toko, gedung, dan stasiun transportasi umum...

Ya, ke mana pun Anda masuk ke Cina, ada termometer. Anda harus mencoba mengukur suhu tubuh sesering mungkin untuk memastikan siapa pun yang menderita demam tinggi.

Pertanyaan terpenting adalah seberapa stabil virus ini di lingkungan. Orang berpikir virus ini rapuh dan sangat sensitif terhadap suhu atau kelembaban permukaan. Dari apa yang terjadi di Amerika Serikat dan studi Cina, sepertinya virus ini sangat tahan terhadap kerusakan di beberapa permukaan benda. Mungkin ia dapat bertahan hidup di banyak lingkungan. Di sini, kita perlu memiliki jawaban berbasis sains.

Orang yang dinyatakan positif di Wuhan tapi hanya menderita gejala ringan tetap dikirim ke isolasi besar dan tidak diizinkan dibesuk. Apakah ini sesuatu yang harus dipertimbangkan negara lain?

Orang yang terinfeksi harus diisolasi. Itu harus dilakukan semua negara. Anda bisa mengontrol Covid-19 jika Anda dapat menghapus sumber infeksinya. Itulah sebabnya kami membangun rumah sakit contoh dan mengubah stadion menjadi rumah sakit.

Pejabat kesehatan di Wuhan mengaitkan sejumlah besar kasus corona dengan pasar makanan laut Huanan sehingga pasar ini ditutup 1 Januari 2020. Tetapi dalam makalah, Anda melaporkan bahwa empat dari lima orang yang terinfeksi paling awal tidak memiliki hubungan dengan pasar makanan laut. Bagaimana menjelaskannya?

Sejak awal, semua orang mengira asal virus ini adalah pasar. Sekarang, saya pikir pasar bisa menjadi tempat awal, atau bisa juga tempat virus itu diperkuat. Ini pertanyaan ilmiah. Ada dua kemungkinan.

Cina dikritik karena tidak segera mengumumkan virus ini. Kisah tentang virus corona baru muncul di The Wall Street Journal pada 8 Januari. Baru pada 20 Januari ilmuwan Cina resmi mengatakan ada bukti jelas penularan dari manusia ke manusia. Mengapa?

Data epidemi terperinci belum tersedia. Dan kami menghadapi virus yang sangat gila dan tersembunyi sejak awal. Hal yang sama berlaku di Italia, di tempat lain di Eropa, dan Amerika Serikat: Dari para ilmuwan awal, semua orang berpikir: "Ya, itu hanya virus."

Penyebaran virus di Cina menyusut, dan kasus baru sebagian besar adalah orang yang memasuki Cina. Benar?

Ya. Saat ini, kami tidak memiliki transmisi lokal, tetapi masalah bagi Cina sekarang adalah kasus impor. Begitu banyak pelancong yang terinfeksi datang ke Cina.

Apa yang akan terjadi ketika Cina kembali normal? Apakah Anda pikir cukup banyak orang telah terinfeksi sehingga masyarakat jadi kebal terhadap virus?

Kami pasti belum memiliki kekebalan. Tetapi kami sedang menunggu hasil yang lebih pasti dari tes antibodi berapa banyak orang yang benar-benar telah terinfeksi.

Jadi apa strateginya sekarang? Menunggu sambil menemukan obat yang efektif?

Ya. Para ilmuwan kami sedang mengerjakan vaksin dan obat-obatan.

Banyak ilmuwan menganggap remdesivir sebagai obat yang paling menjanjikan saat ini. Kapan uji klinis di Cina terhadap obat ini akan memiliki data?

Di bulan April.

Hewan yang menurut Anda cukup kuat untuk mempelajari patogenesis dan menguji obat dan vaksin?

Saat ini kami menggunakan monyet dan tikus transgenik yang memiliki ACE2, reseptor manusia untuk virus tersebut. Model tikus digunakan secara luas di Cina untuk penilaian obat dan vaksin, dan saya pikir setidaknya ada beberapa makalah tentang model pemakaian monyet.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain