Surat dari Darmaga

Benarkah Virus Corona Bukan Senjata Biologis?

Kamis, 26 Maret 2020 12:23 WIB

Ada debat di kalangan peneliti virus tentang kemungkinan virus corona sebagai senjata biologis. Sejauh mana klaim ini benar dan separah apa penyangkalannya?

Qusthan Firdaus

Alumnus the University of Melbourne, Australia

SALAH satu narasi dominan mengenai pandemik Covid-19 adalah virus corona SARS-CoV-2 bukan senjata biologis. Artikel ini hendak mengevaluasi salah satu argumen yang tampak paling meyakinkan dalam mendukung argumentasi tersebut.

Saya akan menunjukkan beberapa kelemahan dari argumen tersebut sembari menunjukkan beberapa potensi sesat pikir (fallacies) yang terkandung di dalamnya.

Majalah New Scientist volume 245 nomor 3274 yang terbit pada 21 Maret 2020 merupakan edisi khusus dengan tajuk utama Inside the race for a vaccine.

New Sceintist edisi 21 Maret 2020.

New Scientist adalah majalah ilmiah populer yang terbit dua edisi setiap pekan yaitu edisi Australia dan Amerika Serikat. Meski bersifat populer sehingga bisa dikonsumsi oleh orang biasa, majalah ini juga menyediakan rujukan daring ke situs digital object identifiers (doi.org) apabila sebagian akademisi ingin menelusuri jurnal yang menjadi rujukan setiap artikel.

Di dalamnya, terdapat salah satu artikel ringkas berjudul "No, this virus isn’t a bioweapon" pada halaman sepuluh tanpa nama penulis. Guna menghindari reduksi, izinkan saya untuk mengutip secara langsung tiga premis terpenting dari artikel itu:

  1. New diseases have emerged throughout human history, and we have seen two major coronavirus outbreaks in the last two decades: SARS and MERS. So we shouldn’t be surprised by the arrival of the covid-19 virus. ("Penyakit baru selalu muncul sepanjang sejarah manusia, dan kami telah melihat dua wabah utama coronavirus dalam dua dekade terakhir: SARS dan MERS. Jadi kita tidak perlu terkejut dengan kedatangan virus covid-19")
  2. Many similar viruses are found in wild bats, and it seems likely that is the origin of this one, probably via an intermediate host. Similarly, we know that both SARS and MERS came from bats, so there is no reason to invoke a laboratory accident. (Banyak virus serupa ditemukan pada kelelawar liar, dan sepertinya itu adalah asal usul yang satu ini, mungkin melalui perantara. Demikian pula, kita tahu bahwa SARS dan MERS berasal dari kelelawar, jadi tidak ada alasan menuding kecelakaan laboratorium).
  3. Researchers led by Shan-Lu Liu at the Ohio State University say there is 'no credible evidence' of genetic engineering (Emerging Microbes & Infections, doi.org/ dpvw). The virus’s genome has been sequenced, and if it had been altered, we would expect to see signs of inserted gene sequences. But we now know the points that differ from bat viruses are scattered in a fairly random way, just as they would be if the new virus had evolved naturally. (Para peneliti yang dipimpin Shan-Lu Liu dari Ohio State University mengatakan tidak ada “bukti yang bisa dipercaya” tentang rekayasa genetika (Emerging Microbes & Infection, doi.org/dpvw). Genom virus telah diurutkan (genom sequenced), dan jika ada telah diubah, kita akan mengharapkan melihat tanda-tanda urutan gen yang disisipkan. Tapi kita sekarang tahu titik-titik yang berbeda virus kelelawar tersebar secara acak, seperti halnya jika virus baru telah berevolusi secara alami).

Lepas dari kesalahan dalam mengomposisinya, ketiga premis itu mengandung beberapa kesalahan fatal.

Post hoc

Premis pertama jelas menunjukkan hubungan logis antara SARS, MERS dan Covid-19 yang ketiganya masih berada dalam satu keluarga virus yang sama yaitu Corona. Seolah dua virus yang muncul lebih awal (SARS-CoV pada tahun 2003 dan MERS-CoV pada tahun 2012) menjadi semacam penyebab bagi kemunculan virus yang ketiga atau muncul belakangan.

Hal ini mengingatkan kita pada sesat pikir jenis post hoc, ergo propter hoc. Dalam bahasa Latin, post hoc bermakna 'setelah ini' sedangkan ergo propter hoc berarti 'oleh karena itu berasal dari sana.' Dengan kata lain, terdapat asumsi keliru atau eror berupa apa yang muncul terlebih dahulu merupakan penyebab bagi apa yang muncul kemudian.

Kekeliruan atau eror itu terletak pada imbauan atau rekomendasi agar kita tidak terkejut pada kemunculan SARS-CoV-2. Justru sebaliknya, warga dunia terkejut karena setidaknya dua alasan.

Pertama, penyebaran SARS-CoV-2 dari Wuhan ke berbagai negara (pandemik global) berlangsung sangat cepat yaitu kurang dari tiga bulan (Desember 2019 hingga Februari 2020) mengingat bahwa virus ini menyebar tidak melalui udara tetapi droplets, dan berbagai benda yang mengantarkannya masuk ke dalam tubuh manusia.

Kedua, para ilmuwan dan akademisi seolah terlambat mengantisipasi penyakit Covid-19 meski sudah menghadapi SARS dan MERS sejak awal abad ke-21. Memang, kita tidak bisa menyamakan penanggulangan SARS dan MERS dengan Covid-19 tetapi sudah saatnya publik menuntut bahwa riset virologi berlangsung secara etis.

Etika penelitian virologi

Maksudnya, asosiasi virologis perlu lebih transparan mengenai apa saja batasan etis di dalam riset ilmiah mereka. Hal ini sangat penting karena fakta bahwa patogen (virus, bakteri atau mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit) dapat lolos secara tidak sengaja dari laboratorium.

Celakanya, asosiasi virologis sedunia seperti World Society for Virology yang berdiri sejak tahun 2017—cukup terlambat bila dibandingkan dengan penyakit SARS pada tahun 2002 dan MERS pada tahun 2012—tidak mencantumkan etika penelitian dan code of conducts di situs mereka (https://www.ws-virology.org).

Hal ini penting karena silang pendapat ihwal definisi virus: apakah sekadar 'entitas biologis' atau 'agen' yang terdiri dari molekul acid yang terbungkus oleh protein, mampu menyebabkan penyakit serta menggandakan diri di dalam organisme lain.

Di satu sisi, definisi virus hanya sebagai entitas biologis mengakibatkan kerumitan tentang bagaimana virologis seharusnya memosisikan virus dalam lanskap etika penelitian yang secara umum hanya mengatur penelitian yang melibatkan manusia atau binatang? Sekadar menggolongkan virus sebagai binatang kiranya mirip dengan penyebutan manusia sebagai human animals dan binatang sebagai non-human animals. Aneh tetapi nyata terjadi di beberapa literatur.

Akibat paling mengerikan dari kegamangan penggolongan virus dalam etika penelitian ialah para virologis bebas meneliti dan mengembangkan virus tanpa batasan etis. Apalagi, virus tidak dapat menunjukkan penderitaan seperti binatang, dan tidak juga dapat memberikan persetujuan (consent) seperti manusia sebelum menjadi partisipan riset.

Di sisi lain, lebih baik apabila para virologis bersepakat mendefinisikan virus sebagai 'agen' guna menghindari kerumitan tersebut. Sebagai agen, virus bisa menjadi partisipan riset sepanjang ilmuwan yang menelitinya memperlakukannya sama seperti agen lain yang berpartisipasi dalam riset yaitu manusia atau binatang.

Francis Bacon dalam bukunya Novum Organon sudah memberikan rambu bahwa riset ilmiah seharusnya bermanfaat bagi kemanusiaan. Namun, sepanjang tidak ada dokumen etika penelitian khusus virologi yang beredar di publik, maka apa yang terjadi di dalam laboratorium virologi bersifat arbitrer. Oleh karena itu, kita perlu mendesak para virologis untuk segera merumuskan dan mempublikasi etika penelitiannya.

Question-begging

Premis kedua mengandung satu sesat pikir berupa question-begging karena tidak ada alasan atau argumen sama sekali bahwa penyakit MERS dan SARS yang berasal dari kelelawar memang tidak berasal dari dalam laboratorium.

Kemudian, ketiadaan kecelakaan di dalam laboratorium bukan berarti tidak ada kelelawar yang menjadi objek penelitian di dalam laboratorium. Seolah penularan dari kelelawar bertentangan secara diametral dengan kecelakaan di dalam laboratorium.

Padahal, laporan lain berjudul "Viruses from animals" yang terbit di majalah New Scientist volume 245 nomor 3268 pada 8 Februari 2020 menyatakan bahwa "viral infections are especially likely to spread among bats as they can fly along distances and roost close to each other. Bats also seem able to carry infections without getting ill, which helps spread the viruses " (hal. 10). Sangat naif apabila hal ini tidak mengundang rasa ingin tahu para peneliti, dan tidak menjadikan kelelawar sebagai objek penelitian di dalam laboratorium guna mencari tahu apa yang menyebabkan kelelawar imun pada berbagai virus.

Argumentum ad verecundiam

Premis ketiga barangkali paling meyakinkan untuk sebagian besar orang karena tidak ada genome dari virus ini yang diganti atau ditambahkan.

Tepat di sini terdapat potensi sesat pikir jenis argumentum ad verecundiam sebab nilai kebenaran dari pernyataan Shan-Lu Liu bersandar pada status dirinya sebagai peneliti atau ahli, dan bukan pada mufakat di antara para ahli.

Di sisi lain, ahli biologi molekular asal Rusia seperti Igor Nikulin mengklaim secara bombastis dalam sebuah wawancara dengan televisi Russia Today pada 27 Februari 2020 bahwa virus ini merupakan bagian dari konspirasi global untuk mengurangi populasi global hingga 90%.

Kemudian, Vineet D Menachery dkk., menulis artikel berjudul "A SARS-like cluster of circulating bat coronaviruses shows potential for human emergence" yang terbit di jurnal Nature Medicine volume 21 edisi 1508–1513 pada tahun 2015. Secara ringkas, mereka menguji potensi SHC014-CoV (virus Corona yang mengakibatkan SARS yang terdapat pada kelelawar tapal kuda [genus Rhinolophus] di China) untuk menginfeksi manusia baik secara in vitro (di dalam kaca laboratorium) maupun in vivo (di dalam organisme).

Dengan kata lain, para ahli di bidang terkait tidak satu suara mengenai asal muasal virus SARS-CoV-2 yang mengakibatkan pandemik global Covid-19.

Kesimpulan

Publik bisa memahami apabila klaim SARS-CoV-2 bukan senjata biologis bermaksud untuk menghindari perang total di antara berbagai negara. Namun, ketiga premis di atas tidak cukup meyakinkan untuk mendukung tujuan tersebut.

Apalagi, sebagian negara gemar mengumumkan seberapa dekat mereka pada vaksin untuk Covid-19, seolah ikhtiar membuatnya adalah sebuah lomba lari ketimbang, katakanlah, menjadi lotre.

Baik virus SARS-CoV-2 merupakan senjata biologis atau tidak, kita tetap perlu berpikir kritis dalam mengonsumsi berbagai berita serta literatur akademik. Mengidentifikasi jenis sesat pikir merupakan salah satu cara yang efektif sembari kita menuntut para virologis untuk merumuskan etika penelitian bidangnya.

Gambar oleh rottonara dari Pixabay.

Bagikan

Komentar

Artikel Lain