Untuk bumi yang lestari

Buku|Januari-Maret 2020

Matematika Ibu Segala Ilmu

Matematika menjadi ibu segala ilmu. Tanpa konsep matematika, kita tak akan bisa membaca dan membuat jembatan.

MATEMATIKA adalah gerbang ilmu pengetahuan, kata Roger Bacon, filsuf Inggris yang lahir pada 1214. Mengabaikan matematika, kata Bacon, akan melukai semua pengetahuan. Dan matematika adalah cara berpikir mahluk hidup sejak mula.

Seekor burung akan tahu jumlah telur yang ia tetaskan. Manusia memakai konsep “sedikit” dan “banyak” dalam berebut sumber daya alam untuk memenuhi nafsu atau sekadar bertahan hidup. Matematika adalah dasar pikir mahluk hidup yang memiliki otak.

Matematika juga tanda kehidupan sosial. Semakin kompleks konsep matematika, kian kompleks pula hidup kita. Ketika orang Babilonia belum memikirkan dan menemukan angka 0, pikiran manusia hanya soal bertahan hidup. Ketika angka 0 ditemukan di India, arsitektur berkembang sangat pesat. Kini kita mengenal komputer super-canggih berkat algoritma.

Buku ini tak sekadar soal bilangan dan rumus-rumus. Dalam A Brief History of Mathematical Thought ini, Luke Heaton—matematikawan dari Universitas Oxford, Inggris—melacak konsep matematika ke zaman purba, ke sejarah Yunani, Mesir Kuno, hingga Mesopotamia dengan pertanyaan: bagaimana manusia merumuskan konsep matematika awal? Hasilnya adalah sebuah buku yang menakjubkan.

Dari Heaton kita tahu bahwa konsep bilangan jauh lebih tua ketimbang konsep percakapan. Matematika sama tuanya dengan bahasa manusia. Orang zaman dulu merumuskan konsep perhitungan, jumlah, jarak, atau ukuran ke dalam lambang-lambang. Kita mengenalnya kini sebagai angka. Tapi matematika bukan semata bilangan.

Matematika adalah bahasa. Karena itu bukan angka dan hasil yang paling penting. Seperti bahasa, dalam rumus dan konsep matematika yang paling penting adalah argumen. Juga seperti bahasa, matematika adalah pola yang disusun dan ditemukan lalu dikonsepsikan menjadi rumus, menjadi torema. Orang Mesopotamia sudah memakai perhitungan Phitagoras dalam menghitung bidang persegi, ratusan tahun sebelum Phitagoras lahir. Mereka bahkan sudah merumuskan konsep dasar perhitungan sudut dan lingkaran yang kini kita kenal sebagai ilmu trigonometri.

Tiap-tiap kebudayaan punya konsep matematikanya sendiri. Orang Sumeria kuno, misalnya, tak memakai bilangan persepuluh dalam konsep perhitungan, tapi kelipatan 60. Karena itulah kita mengenal sudut 3600 atau satu jam sama dengan 60 menit, dan satu menit adalah 60 detik.

Orang-orang purba merumuskan bilangan dari apa yang terlihat. Bilangan ganjil, misalnya, diasosiasikan dengan laki-laki, sementara bilangan genap mengacu kepada perempuan. Tentu saja mereka mengacu kepada morfologi. Tapi lebih dari itu, sejak mula sebenarnya, perempuan mendapat penghargaan dibanding laki-laki dalam hal cara berpikir. Struktur sosial kemudian mengubah konsep itu menjadi “perempuan menggenapi laki-laki.”

Tapi perempuan pulalah yang berjasa menyebarkan ilmu pengetahuan, yakni ketika Ratu Cleopatra dari Mesir menghadiahkan perpustakaan Alexandria kepada Julius Caesar. Konsep matematika yang ditulis para ilmuwan Mesir yang mereka salin dan serap dari Yunani pun menyebar ke Roma. Orang-orang Romawi merumuskan matematika menjadi konsep yang kian kompleks hingga menyebar ke seluruh dunia, hingga dipelajari Alan Turing di Inggris hingga ia menemukan konsep komputer ketika berusaha memecahkan kode rahasia Perang Dunia.

Matematika pun menjadi lebih kompleks. Tak hanya berperan meletakkan logika dasar dan merumuskan jalan pikiran manusia, matematika kini telah menjadi ilmu terapan yang mempengaruhi peradaban. Sejarah pemikiran, filsafat hingga seni, sangat ditopang oleh matematika.

Tak heran jika Roger Bacon menyebut matematika sebagai ibu dari segala ilmu. Tanpa konsep 1 + 1 = 2, kita tak akan bisa menuliskan logika yang kompleks, tak akan bisa membangun jembatan, atau jalan melayang, bahkan terowongan bawah laut hingga kapal selam. Matematika melahirkan beragam ilmu lain dalam kemajuan berpikir.

A Brief History of Mathematical ThoughtLuke Heaton, Robinson, 2015. 321 halaman

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain