Bintang | Januari-Maret 2020

Pamungkas: Hutan dan Hukum Alam

Hukum alam: hutan seharusnya menghasilkan oksigen, tapi terlalap api dan menghasilkan asap karbon yang justru berbahaya bagi manusia. Ada banyak perspektif dalam melihat kebakaran: bisnis, lingkungan, politik.

Asadia Diajeng

Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB

BAGI Rizky Pamungkas, alam punya mekanismenya sendiri dalam berproses. “Jika berjalan dengan benar, semua penghuninya akan lestari,” kata penyanyi solo yang terkenal dengan panggilan Pam, dari Pamungkas, itu. “Dari semua itu, hutan adalah sumber hukum alam terbesarnya.”

Sebab, kata Pamungkas, hutan adalah sumber terbesar penghasil oksigen yang dibutuhkan manusia. Oksigen itu dihasilkan melalui proses tumbuhan bersama hewan yang ada di dalamnya. Karena itu, nomine penyanyi pendatang baru terbaik versi Anugerah Musik Indonesia 2019 berkat lagu “I Love You but I’m Letting Go” ini, sedih ketika hutan di Sumatera dan Kalimantan terbakar.

Hutan yang seharusnya menghasilkan oksigen, terlalap api dan menghasilkan asap karbon yang justru berbahaya bagi manusia. Tapi, ia tak mau masuk dalam polemik soal siapa yang menjadi pembakarnya. Menurut Pamungkas, ada banyak perspektif dalam melihat kebakaran: bisnis, lingkungan, politik. “Dari perspektif lingkungan, pengaruhnya besar sekali kepada manusia,” kata penyanyi 26 tahun itu.

Di kalangan pecinta musik, Pamungkas lumayan terkenal. Sejak menelurkan solo album pada 2008 berjudul “Walk the Talk”, namanya memincut banyak anak muda. Aliran musik tekno yang diusungnya juga menggaet banyak penggemar muda. Pertengahan bulan lalu ia menjadi bintang tamu “Semarak Kehutanan” di Grha Widya Wisuda IPB di Kampus Darmaga Bogor.

Meski tak terpilih menjadi pendatang baru terbaik di AMI Awards, karena kategori itu jatuh pada Nadin Amizah, Pamungkas bertekad terus melahirkan musik-musik yang gampang dicerna oleh kaum muda. Ia lebih banyak menciptakan lagu dalam bahasa Inggris karena, kata dia, “Bahasa Indonesia agak susah karena tiap kata punya arti banyak.”

Rikzy Pamungkas, nomine penyanyi pendatang baru terbaik versi Anugerah Musik Indonesia 2019 berkat lagu “I Love You but I’m Letting Go”. (Foto: FD/M. Arno)

Melihat antusiasme mahasiswa Fakultas Kehutanan menonton penampilannya, Pamungkas jadi makan sadar arti penting hutan dan lingkungan bagi planet ini. “Suatu hari saya akan menulis lagu bertema ini,” kata dia. “Ini tema penting karena manusia punya sistem dan alam punya hukum.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.