Surat dari Darmaga | 08 Febuari 2020

Virus Corona dan Semangat Meneruskan Hoaks

Ada empat faktor yang membuat seseorang bersemangat meneruskan hoaks atau hoax atau kabar palsu. Di sekitar penyebaran virus corona bayak hoax dan mitos karena rujukannya tak jelas.

Adek Media Roza

Mahasiswa doktoral jurusan Komunikasi University of Technology Sydney, Australia

“SAYA kan cuma share,”, “cuma nerusin dari grup sebelah…"

Familier degan jawaban seperti itu di grup WhatsApp? Atau tipe ngeles semacam “makanya aku share di sini supaya jelas itu hoax atau bukan.” Lha, situ pikir ini grup cek fakta? Dan yang bikin jidat berkerut: “Apa buktinya kalau itu hoax?" Sudahlah dia yang menyebarkan info itu, malah kita yang disuruh membuktikan. Capek banget kan?

Sharing is caring. Sepertinya ini yang memotivasi penerus kabar palsu. Semangat berbagi, plus sedikit keinginan disebut “yang pertama atau orang yang banyak tahu” bikin hati menggebu sehingga meneruskan perintah ke jempol tanpa melewati otak. Sayang sekali, padahal mahal sangat biaya belasan tahun mengasah otak di sekolah.

Di hari-hari pandemi virus corona di Wuhan, Cina, ini misalnya. Beredar tips ngawur di media sosial soal menjaga kelembapan tenggorokan untuk menghindari infeksi virus ini atau anjuran minum rebusan bawang putih bagi mereka yang terinfeksi virus tersebut agar sembuh. Kenapa tak sekalian minum air rendaman batu Ponari saja?

DI Sydney, Australia, kota tempat kami sekeluarga kini tinggal, juga ada yang menyebar informasi bahwa infeksi virus itu terjadi di beberapa daerah pinggiran, plus nomor telepon (ngawur) yang harus dihubungi jika mendapat gejala terinfeksi corona. Hoaks ini juga beredar di grup WhatsApp mahasiswa. Padahal, sebelum meneruskan kabar itu, enggak susah-susah amat membuktikan informasi itu menyesatkan.

Selain motivasi tadi, kenapa sih masih ada saja yang meneruskan hoaks? Jawabnya, menurut jumhur peneliti, penerus hoaks ialah orang yang kebangetan suka atau benci sesuatu. Apalagi kalau isi hoaks menguatkan apa yang ia yakini. Contoh: Benci banget kepada Cina --> yakin ada invasi China --> meneruskan hoaks terkait Cina. Atau: Cinta mati kepada politisi A --> yakin bahwa A sosok terbaik --> meneruskan hoaks bahwa A adalah keturunan Raja Madangkara.

Kebiasaan berbagi atau meneruskan kabar kibul juga disebabkan lingkaran pergaulan seseorang yang terbatas oleh preferensinya sendiri. Orang seperti ini cuma kepengen berteman di media sosial dengan orang yang punya, misalnya, preferensi politik yang sama. Jadilah dia hidup di dalam “filter bubble”, gelembung yang mengungkung orang-orang dalam jenis pikiran yang sama.

Sebuah penelitian terbaru, terbit 2019—untuk ukuran karya ilmiah setahun itu masih hangat—yang merinci sejumlah kondisi yang membuat orang keranjingan menyebar kabar palsu. Judulnya “Why do People Share Fake News? Associations Between the Dark Side of Social Media Use and Fake News Sharing Behavior”, karya Shalini Talwar dan teman-temannya.

Menurut Shalini dkk, ada sejumlah kondisi yang membuat orang keranjingan meneruskan berita hoaks, walaupun mereka sebenarnya bisa memakai akalnya untuk mengetahui kebenaran info yang diteruskan itu.

Pertama, penerus kabar palsu adalah orang yang paling dipercaya di komunitasnya dan paling didengar. Karena statusnya, orang ini ketagihan atau merasa dituntut untuk terus berbagi kabar, termasuk yang enggak jelas sumbernya, sehingga ia abai buat mengecek ulang. Makanya, tak sedikit penerus kabar palsu adalah orang terkenal, termasuk selebritas, politisi, dan sosok yang dianggap alim dalam beragama.

Kedua, orang yang paling sering mengekspos dirinya sendiri (self-disclosure) berpotensi menjadi penerus kabar bohong. Penjelasannya begini, orang self-disclosure itu igin populer, salah satunya dengan membuat sensasi, termasuk meneruskan kabar yang tidak jelas sumbernya. Toh, kalau pun berita itu ternyata bohong, si penerus sudah sukses merebut perhatian.

Ketiga, takut dianggap kudet alias kurang update. Shalini memakai istilah “fear of missing out”. Orang semacam ini, kata dia, merasa takut disangka bodoh dane nggak dianggap di grupnya sehingga menjadikan media sosial—karena gampang diakses—sebagai sumber ilmu pengetahuan. Begitu ada informasi yang menurutnya wow atau keren, tanpa pikir panjang langsung disebar ke delapan penjuru angin.

Keempat, atau yang terakhir, mungkin ini bisa sedikit dimaafkan, adalah “social media fatigue”. Ini adalah kondisi di mana seseorang kelelahan karena terlalu banyak memiliki akun media sosial, punya banyak teman dan pengikut sehingga harus terus posting atau merespons komentar pengikutnya. Orang semacam ini sangat membutuhkan material posting untuk tetap eksis, sehingga tak punya waktu lagi mengecek kebenaran info yang ia teruskan.

Jika ternyata Anda termasuk dalam salah satu kriteria di atas, sebenarnya enggak usah sedih-sedih amat asalkan enggak menyebarkan berita palsu. Yang penting, tahan jempol sebelum meneruskan berita. Ikuti langkah simpel ini: baca yang benar—masuk akal enggak sih?—dan pastikan sumbernya dari media yang kamu pernah dengar namanya. Mau yang rada ribet? Kopi sebagian teksnya, tempel di kotak pencarian Google.com dan tambahkan kata “hoax” atau “cek fakta”.

Tapi hoax soal corona ini tak hanya terjadi di Indonesia juga gejala di dunia, seperti di Sydney tadi itu. Sampai-sampai WHO membuat daftar mitos dan fakta seputar virus ini. Ini di antaranya:

Makan bawang bisa mencegah terinfeksi virus corona

WHO: Tidak. Bahkan vaksin flu dan pneumonia tak bisa menangkal virus corona jenis baru yang berkembang di Wuhan, Cina, itu. Para peneliti sedang mengembangkan satu vaksin baru untuk melawan 2019-nCov. Soal bawang putih, tanaman ini memang makanan sehat karena memiliki sifat antimikroba, tapi tak ada indikasi bisa membantu melawan 2019-nCoV. Cara mencegah paling dasar penyebaran virus corona adalah mencuci tangan tiap kali sehabis bersentuhan dengan benda kotor, menutup mulut ketika bersin dan segera mencucinya.

Virus corona bisa menular melalui paket atau surat dari Cina

WHO: Tidak. Menurut WHO, virus corona tidak bertahan lama di sebuah objek, apalagi surat atau paket.

Hewan peliharaan bisa menularkan virus corona

WHO: Tidak. Dari semua data yang sudah dikumpulkan WHO, tak ada indikasi kucing atau anjing terinfeksi virus corona. Tapi mencuci tangan setelah bersentuhan dengan mereka adalah cara bijak karena bisa mencegah penularan bakteri E. Coli atau salmonela, bakteri penyebab diare.

Orang tua lebih mudah terkena virus corona

Wabah SARS pada 2002-2003 terdapat 8.422 orang terinfeksi dan 916 di antaranya meninggal di seluruh dunia. Tingkat kematian keseluruhan untuk orang yang terinfeksi adalah 11%. Tetapi untuk orang muda, tingkat kematian hanya 1%, sedangkan untuk mereka yang berusia 65+ memang lebih tinggi, sebanyak 55%. Siapa pun bisa tertular virus. Tetapi dampaknya bisa berbeda-beda. Bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan sebelumnya, seperti asma, diabetes atau penyakit jantung, tampaknya lebih rentan terkena virus corona baru.

O ya, riset yang saya kutip di atas melibatkan 1.022 pengguna WhatsApp usia 18-30 tahun. Jadi, kamu yang berada di luar kelompok usia itu dan suka meneruskan kabar hoaks, boleh santuy karena penelitian ini mungkin enggak relevan dengan kamu. Buat yang berada di usia kelompok itu tapi tak yakin dengan temuan riset tersebut, ya sudah, saya kan cuma share

Gambar oleh Arek Socha dari Pixabay.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain