Kabar Baru | 09 Januari 2020

“Air Seperti Gelombang, Langsung Menghantam”

“Air itu seperti gelombang, langsung menghantam,” kesaksian korban banjir Jakarta di Kalideres. Air tak surut setelah sepekan banjir karena harus dipompa. Pompanya butuh listrik.

Siti Sadida Hafsah

Anggota redaksi, wartawan radio di Jakarta.

DALAM rapat koordinasi penanganan banjir Jakarta di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, pemerintah DKI melaporkan bahwa mereka bisa menangani genangan air di sekujur ibu kota hanya dalam waktu lima hari sejak banjir besar pada awal tahun. Pada 7 Januari 2020, pemerintah mengklaim tak ada lagi genangan di mana pun alias 0%. "Kesimplan: penanganan telah tuntas," demikian laporan pemerintah DKI.

Untuk menguji klaim tersebut, saya mengunjungi Semanan di Kalideres, Jakarta Barat, bersama sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jakarta. Pada hari itu, wilayah ini masih terendam. Di Semanan, ketika banjir ada penduduk meninggal karena terseret arus. “Air seperti gelombang, langsung tumpah dalam hitungan detik,” kata Taska, 49 tahun, staf RT 10 Semanan, menceritakan banjir pada 1 Januari 2020.

Air tumpah berasal dari kali Semanan yang meluap ke jalan, masuk ke rel, dan menerjang perkampungan. “Langsung brug begitu saja,” kata Taska. Penduduk tak sempat menyelamatkan barang dari rumah. Mereka lalu mengungsi ke kantor PT Biolife yang ada di pintu masuk perkampungan.

Hingga 7 Januari 2020, air masih menggenangi jalan, gang, dan perumahan penduduk setinggi betis. Para anggota DPRD harus melipat celana ketika memasuki kawasan kampung. Menurut seorang penduduk, di dalam desa air masih setinggi pinggang orang dewasa. Penduduk bergantian bercerita tentang banjir pada awal tahun itu.

Ada yang tak sempat mengungsi, ada yang bertahan karena anggota keluarga sakit, banyak juga yang mengeluhkan kekurangan makanan karena banjir tak kunjung surut.

Air tak kunjung surut karena letak Semanan berada di bawah permukaan jalan, kali, dan gorong-gorong. Air banjir harus dipompa ke selokan jika ingin dikeringkan. “Tapi pompa yang ada tidak cukup menyedot air,” kata Gunawan, Ketua RT 10. “Terutama air di wilayah RT 1, 2, dan 10.”

Tidak hanya jumlahnya yang kurang, kata Gunawan, ketika dibutuhkan, pompa yang ada tak bisa dipakai karena butuh listrik. Sementara setrum sudah mati ketika air meredam kampung ini. “Jadi kami minta bantuan ke pemadam kebakaran untuk menyedot air,” katanya.

Gunawan cemas dengan informasi bahwa puncak hujan akan terjadi pada Februari-Maret 2020, seperti diumumkan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika. Ia khawatir banjir besar kembali menghantam Semanan ketika air banjir sekarang sudah bisa disedot seluruhnya.

Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Basri Baco, melemparkan ide membentuk Panitia Khusus (Pansus) penanganan bencana banjir di provinsinya. “Penyebab banjir harus didalami,” katanya. “Agar kita tahu solusi dan siapa yang harus bertanggung jawab.”

Sementara Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Idris Ahmad mengkritik Pemerintah DKI soal penyerapan anggaran pengendalian banjir. Menurut dia, pemerintah Jakarta lebih banyak memperdebatkan konsep ketimbang melaksanakan program sesuai dengan anggaran yang dirancangnya. 

"Di sini jadi bukti konkret serapan anggaran pengendalian banjir rendah dan ada program yang tidak berjalan,” katanya. “Kita sibuk berdebat naturalisasi atau normalisasi sungai untuk menangani banjir padahal masalahnya semua konsep itu tidak dijalankan.”

Seorang anak berjalan di genangan air Kampung Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, 7 Januari 2020. Air belum surut setelah banjir besar pada 1 Januari 2020. (Foto: Siti Sadida Hafsah)

Sebelum ke Semanan, rombongan DPRD DKI Jakarta menyambangi rumah keluarga korban jiwa Kemayoran, Jakarta Pusat. Di sini air banjir sudah surut total. Permukiman sudah kembali tampak bersih dan rapi. Penduduk beraktivitas normal.

Korban meninggal di Kemayoran adalah Arfico Alif Pradana, usia 16 tahun. Latif, ayahnya, menceritakan bahwa Alif meninggal karena tersetrum.

Ketika hujan deras 1 Januari itu, kata Latif, anaknya sedang membeli sesuatu di warung. Tiba-tiba uangnya jatuh. Ketika berusaha mengambil uang jatuh ke air yang meninggi dengan payungnya, secara refleks tangannya meraih tiang listrik. “Rupanya ada setrumnya,” kata Latif, dengan murung. “Benar-benar meninggal di tempat.”

Alif adalah satu dari 60 korban meninggal dalam banjir Jakarta awal 2020, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 8 Januari 2020. Sebanyak 18.870 orang mengungsi. Dalam rapat koordinasi di Kementerian PMK, pemerintah Jakarta mengklaim, sebagian besar pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.

Berbeda dengan BNPB, pemerintah Jakarta hanya mencatat 19 korban meninggal dalam banjir kali ini. Jumlah pengungsi puncak terjadi pada 2 Januari sebanyak 36.445 jiwa yang terus berkurang hingga tinggal 691 orang per 7 Januari 2020.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.