Kabar Baru | 09 Oktober 2019

Menjaga Gajah Tetap di Habitatnya

Mereka terdesak oleh perkebunan dan permukiman. Hutan kian terfragmentasi sehingga perlu upaya restorasi memulihkan rumah mereka.

Razi Aulia Rahman

Anggota redaksi, bekerja di perusahaan konsultan kehutanan.

SELAMA lima hari tim Badan Konservasi Sumberdaya Alam Jambi bersama polisi, tim pengelola kawasan, dan Dinas Kehutanan berusaha menemukan jejak tiga gajah jantan muda yang diduga terlepas dari rombongan mereka di Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi. Tiga gajah itu kemudian ditemukan di Kecamatan Mersam, Batanghari. 

Artinya, tiga gajah yang rata-rata berbobot 2-3 ton itu telah berjalan menempuh jarak 70 kilometer. Mereka hendak mencari makan dan menemukan kembali rombongannya melewati perkebunan penduduk dan permukiman. Untuk mencegah konflik gajah dan manusia terjadi, tim menangkap dan membius mereka untuk membawanya kembali ke habitat mereka.

Pada 29 September 2019 dinihari, penangkapan itu berhasil. Tiga gajah tersebut kemudian diangkut kembali ke taman nasional. Mereka dilepasliarkan di kawasan restorasi ekosistem yang dikelola PT Alam Bukittigapuluh di areal seluas 38.665 hektare.

Areal konservasi tersebut merupakan kawasan penyangga taman nasional. Di sekeliling kawasan restorasi ini sudah terfragmentasi menjadi perkebunan dan permukiman. Sehingga satwa yang keluar dari habitat mereka untuk mencari makan akan bentrok dengan penduduk. Padahal di Bukit Tigapuluh hidup hewan endemik seperti harimau Sumatera yang kian langka dan tapir.

PT ABT yang mulai menjaga kawasan konservasi bekas HPH itu pada 2015 membuat koridor agar satwa bisa melintas kawasan taman nasional dan penyangga untuk menjelajah bentang alam dan mencari makan. Dibantu lembaga-lembaga internasional, sebanyak 35 petugas PT ABT melakukan penjagaan dan perlindungan kawasan. “Kami jaga untuk melindungi manusia dan gajah,” kata Direktur Utama PT ABT Dody Rukman.

Selain fragmentasi lahan, ancaman terhadap satwa endemik Bukit Tigapuluh adalah perburuan liar. Tutupan hutan yang hilang membuat rumah satwa-sawat ini hilang sehingga mereka turun ke kawasan dekat permukiman yang kemudian bertemu dengan pemburu yang mengincar bagian tubuh mereka untuk diperjualbelikan.

PT ABT mendapatkan konsesi areal penyangga taman nasional ini dengan tugas menyelamatkan ekosistem kawasan ini yang sudah terdegradasi akibat pengelolaan hutan yang tak lestari. Ada 16 perusahaan seperti ABT di Sumatera dan Kalimantan. Liputan lengkap perusahaan restorasi bisa disimak di edisi 12 dengan mengeklik tautan ini.

Tonton videonya:

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.