Kabar Baru | 08 Oktober 2019

Pintu Baru Mengobati Kanker

Tiga peneliti ini berhasil membuka pintu misteri memahami kanker dan anemia untuk mengobatinya. Mereka meraih Nobel Fisiologi dan Pengobatan 2019

Redaksi

Redaksi

MEREKA telah bekerja lama menemukan bagaimana cara sel kanker dan anemia bekerja, hidup, dan mengalahkan tubuh manusia. Ketiganya berhasil menggambarkan bagaimana sel merasakan dan merespons perubahan kadar oksigen dengan cara mengubah dan beradaptasi dengan gen.  

Tiga ilmuwan itu adalah William Kaelin, peneliti kanker di Dana-Farber Cancer Institute di Boston, Massachusetts, fisiolog Peter Ratcliffe dari Universitas Oxford dan Francis Crick Institute di London, serta dan ahli genetika Gregg Semenza di Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland. Sebelum mendapat Nobel mereka juga memenangi Penghargaan Medis Dasar Albert Lasker pada 2016.

Menurut jurnal Nature edisi 7 Oktober 2019, riset ketiga peneliti ini telah membantu para ilmuwan memahami bagaimana tubuh beradaptasi dengan kadar oksigen rendah dengan, misalnya, mengeluarkan sel darah merah dan menumbuhkan pembuluh darah baru. “Ini adalah penemuan mendasar," kata Celeste Simon, seorang ahli biologi kanker di University of Pennsylvania di Philadelphia seperti dikutip Nature. “Karena semua organisme membutuhkan oksigen, jadi temuan ini sangat penting."

William Kaelin, Peter Ratcliffe and Gregg Semenza (Niklas Elmedhed/Nobel Media)

Kemampuan sel merasakan oksigen menjadi temuan penting dalam menyingkap misteri kanker selama ini. Temuan ini membuat kita bisa memahami pertumbuhan janin dan plasenta yang sedang berkembang, juga pertumbuhan sel tumor dengan melihat jumlah oksigen dalam tubuh manusia yang tersedot: semakin pesat pertumbuhan sel, semakin banyak oksigen yang terserap ke dalam pusat kanker itu. Secara alamiah, jaringan tubuh bisa kekurangan oksigen selama berolahraga atau ketika aliran darah terganggu, seperti selama stroke.

Penelitian ketiga ilmuwan sejak 1990 itu juga menemukan proses molekuler yang dilalui sel untuk merespons kadar oksigen dalam tubuh. Temuan terpenting mereka adalah penyedotan oksigen oleh sel dalam tubuh sebagai mekanisme yang melibatkan protein yang disebut HIF dan VHL.

Semenza dan Ratcliffe mengamati perilaku hormon erythropoietin (EPO) yang sangat penting untuk merangsang produksi sel darah merah dalam menanggapi kadar oksigen yang rendah. Caranya dengan mengidentifikasi sepasang gen yang menyandikan dua protein pembentuk protein kompleks yang disebut hypoxia-inducible factor (HIF). Kedua protein itu bekerja bersama menghidupkan gen tertentu meningkatkan produksi erythropoietin ketika oksigen dalam tubuh kita sedang rendah.

Penelitian Kaelin menambahkan hal penting dengan temuan atas protein lain yang disebut VHL yang terlibat dalam cara kerja sel merespons oksigen, melalui sindrom genetik yang disebut von Hippel-Lindau (VHL)—pembawa mutasi penyakit yang meningkatkan risiko kanker tertentu.

Protein yang diekspresikan gen VHL itu, dalam temuan Ratcliffe, ternyata berinteraksi dengan salah satu komponen HIF, yang mematikan respons ketika sel rendah oksigen dengan menandai komponen HIF untuk penghancuran begitu kadar oksigen dalam sel naik.

Pada 2001, tim Kaelin dan Ratcliffe memodifikasi kimia untuk protein VHL, yang disebut prolyl hydroxylation, yang memungkinkan sel merespons kadar oksigen dengan sangat cepat. Ketika oksigen datang, bentuk VHL yang dimodifikasi tersebut bisa mengikat HIF, yang mengarah pada penguraiannya. Tetapi modifikasi ini terhenti ketika sel-sel kekurangan oksigen dan memulai aktivitas HIF.

Sebagai hasilnya, sel-sel bereaksi terhadap kadar oksigen yang rendah dengan hanya menghalangi penguraian HIF. "Sel bisa merespons dalam beberapa menit," kata Mark Dewhirst, ahli biologi kanker di Duke University di Durham, North Carolina.

Temuan-temuan ini mendorong para peneliti mengembangkan obat untuk kanker, anemia, dan gagal ginjal karena gambaran aktivitas sel kanker itu telah terpetakan. Peran obat-obatan itu adalah mencegah VHL mengikat HIF dan mendegradasikannya. Pemerintah Cina telah setuju ilmuwan di sana mengembangkan obat melalui penelitian ini pada 2018.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Insaf yang Hampir Terlambat

    Pengelolaan hutan yang mengandalkan sepenuhnya pada komoditas kayu, setelah Indonesia merdeka, menghasilkan deforestasi dan degradasi lahan yang akut dan membuat planet bumi kian memanas. Pertumbuhan penduduk dan tuntutan kebutuhan ekonomi menambah derita hutan tropis Indonesia. Setelah 34 juta hektare tutupan hutan hilang, setelah 49% habitat endemis lenyap, kini ada upaya memulihkan hutan kembali lewat restorasi ekosistem: paradigma yang tak lagi melihat hutan semata tegakan pohon. Restorasi seperti cuci dosa masa lalu, cuci piring kotor sebelum kenyang, insaf yang hampir terlambat. Setelah satu dekade, restorasi masih merangkak dengan pelbagai problem. Aturan-aturan main belum siap, regulasi masih tumpang tindih, organ-organ birokrasi di tingkat tapak belum sepenuhnya berjalan.

  • Laporan Utama

    Usaha Restorasi Belum Stabil Setelah Satu Dekade

    Usaha restorasi ekosistem setelah lebih dari satu dekade.

  • Laporan Utama

    Hablumminalam di Kalimantan

    Untuk bisa menjaga gambut agar menyerap karbon banyak, pertama-tama bekerja sama dengan masyarakat. Sebab ancaman utama gambut adalah kebakaran.

  • Laporan Utama

    Keanekaragaman Hayati di Hutan Restorasi

    Restorasi menjadi usaha memulihkan keanekaragaman hayati kawasan hutan produksi yang rusak. Terbukti secara empirik.

  • Laporan Utama

    Tenggiling di Ekosistem Riau

    Ekosistem Riau memiliki sumber daya mencengangkan. Belum banyak penelitian mengenai keanekaragaman hayati, khususnya di ekosistem hutan gambut ini.

  • Wawancara

    Restorasi Ekosistem adalah Masa Depan Kehutanan

    Wawancara dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari yang mengurus restorasi ekosistem. Menurut dia, restorasi adalah masa depan kehutanan dalam mengelola lingkungan.

  • Laporan Utama

    Inovasi dan Penguatan Kebijakan Restorasi Ekosistem

    Dalam kondisi kapasitas pemerintah pusat dan daerah belum cukup menjalankan pengelolaan hutan secara nasional, pelaku restorasi ekosistem hutan diharapkan bisa mengisi lemahnya kapasitas pengelolaan tersebut.

  • Laporan Utama

    Restorasi Ekosistem Sampai di Mana?

    Kebijakan restorasi saat ini sudah mendekati filosofi dan menjadi pedoman pemerintah dan pemegang izin dalam implementasi di lapangan.

  • Laporan Utama

    Pemulihan Jasa Ekosistem

    Studi di hutan pegunungan Jawa Barat telah menyingkap fakta ilmiah begitu pentingnya ekosistem hutan dalam mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan kesehatan manusia.

  • Kolom

    Pegunungan Cycloop Menunggu Restorasi

    Status cagar alam tak membuat Cycloop terlindungi. Perladangan berpindah, pertanian, dan naiknya jumlah penduduk membuat Cycloop menjadi rusak dalam sepuluh tahun terakhir.