Surat dari Darmaga | 17 Agustus 2019

Terbit untuk Jadi Sejarah

Majalah ini diterbitkan dengan semangat yang sederhana: menyebarkan informasi tentang hutan dan lingkungan dengan bahasa yang mudah dicerna. Rupanya tidak mudah.

Redaksi

Redaksi

MAJALAH ini berusia tiga tahun. Kami masih tak percaya bisa sejauh ini. Dengan semangat sukarela kami merancang dan menerbitkan majalah ini pada 17 Agustus 2016. Hanya dengan beberapa kali rapat untuk menentukan tema edisi pertama, kami mencetaknya dan ikut memasukkannya ke Istana Negara untuk dibagikan gratis kepada para tamu yang mengikuti upacara peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-71.

Penentuan nama juga tak banyak perdebatan. Kami sepakat pada Forest Digest karena kami anggap forest adalah kata bahasa Inggris yang sudah dipahami oleh banyak kalangan. Digest begitu pula, karena dulu ada majalah Reader’s Digest yang terbit sejak 1922. Artinya, nama Forest Digest pasti segera dipahami bahwa majalah ini akan mengulas dan menyajikan intisari isu-isu hutan dan lingkungan. Hal lain adalah rima di ujung dua kata itu yang secara tipografi maupun bunyi terdengar sama: “est” dan “est”.

Maka selain memudahkan pembuatan logo karena rima itu, nama “Forest Digest” juga tak terdengar klise ketimbang “Belantara”, “Rimba”, atau diksi-diksi lain yang jamak dipakai organisasi swadaya masyarakat yang marak setelah reformasi. Kami sepakat memakai bahasa Inggris karena berjaga-jaga kelak majalah ini juga diterbitkan dalam dua bahasa, mengingat isu lingkungan telah menjadi isu internasional.

Slogan juga ditemukan begitu saja. “Untuk bumi yang lestari” terdengar enak dan mudah diucapkan serta bermakna umum. Slogan itu juga menjadi visi dan misi besar kami menerbitkan majalah ini. Pada akhirnya segala upaya mendistribusikan informasi bertujuan agar kita sadar setiap tindakan kita akan berdampak pada keberadaan planet ini. Maka “agar hutan lestari, informasi mesti terbagi” adalah slogan lain majalah ini.

Semangat kami waktu itu ingin memberi warna kepada penyebaran informasi di bidang lingkungan, mengingat kian pentingnya aspek ini dalam menopang kelestarian planet ini, dengan bahasa populer yang mudah dipahami. Dalam obrol-obrolan pertemuan alumni yang rutin—bahkan hampir tiap akhir pekan—selalu mencuat omongan bahwa banyak publikasi penting yang diterbitkan kampus melalui skripsi atau penelitian yang berakhir di perpustakaan yang berdebu. Tak terbaca. Karena selain ditulis dengan gaya jurnal yang kaku dan kering, tema-tema penting terlupakan karena disajikan seadanya.

Maka hasil-hasil penelitian itu harus dituangkan dalam sebuah majalah dengan memakai gaya bahasa populer. Tapi bagaimana memulainya? Para alumni Fakultas Kehutanan IPB tak banyak yang bekerja di media massa. Kami terserak menjadi konsultan, aktivis LSM, pegawai negeri, bahkan bekerja di bank. Tapi membicarakan sesuatu yang tak paham hanya akan berakhir sia-sia jika tak memulainya.

Sejak awal kami sudah menentukan majalah ini akan terbit secara sukarela. Dalam arti awak redaksi bekerja secara voluntari dan majalah dibagikan secara gratis. Pembiayaan akan mengandalkan dari donasi, dan mungkin iklan. Beberapa alumni setuju dengan ide ini dan bersedia menyokong pembiayaan jika diperlukan. Tentu saja perlu! Maka dalam acara halal bi halal tahun 2016, sumbangan para alumni yang terkumpul mencapai Rp 150 juta—sangat cukup untuk mencetak 5.000 eksemplar majalah untuk dibagikan kepada mereka.

Langkah pertama adalah menentukan pemimpin redaksi yang ditugaskan merekrut reporter, lalu desainer, kemudian sekretariat untuk memantau dan menagih lalu lintas naskah, ada juga yang bertugas mencari sumbangan. Para alumni yang bekerja di pelbagai profesi dan mahasiswa diajak bergabung untuk mengisi rubrik-rubrik—kendati awalnya kami tak paham bagaimana membaginya, bagaimana menentukannya, bagaimana menempatkan dan menyusunnya. Mereka yang direkrut terutama alumni yang dulu pernah aktif di media kampus atau suka menulis status panjang di Facebook.

Pendeknya, kami praktis berangkat dari nol: pengetahuan, manajemen pengelolaan, hingga distribusi majalah. Dengan kata lain, kami nekat menerbitkan majalah ini. Banyak yang mencibir dan menduga, semangat itu membara di edisi pertama saja. Bahkan ada yang mengejek seraya bercanda, “Forest Digest akan terbit untuk jadi sejarah”, majalah hanya akan terbit sekali setelah itu mati. Sesungguhnya, kami setuju dengan kelakar itu. Tapi rupanya kami menolak menyerah.

Setelah edisi pertama terbit dan diedarkan ke seluruh kampus, perpustakaan—baik publik maupun privat—juga lembaga-lembaga negara, semangat menerbitkan edisi kedua tak mengendur. Kami coba mengevaluasi kesalahan dan kekurangan menerbitkan edisi perdana: manajemen orang, manajemen penugasan, mengelola rubrik, bahkan menghubungi para penulis untuk bersedia menuangkan gagasannya menjadi kolom.

Rupanya, dari semua problem yang tak bisa kami raba itu, hal paling menentukan hidup-mati sebuah majalah adalah “tenggat”. Karena kesibukan di masing-masing pekerjaan, awak redaksi bisa menghindari penugasan, mengajukan alasan agar tak ikut rapat redaksi, tapi dengan tenggat kami tak bisa menolak. Tenggat itu pula yang membuat kami jadi disiplin menuntaskan bahan liputan, menyediakan foto-foto, melancarkan koordinasi, hingga mengirimkannya ke percetakan dan pembaca.

Tiap kali selesai menerbitkan satu edisi, kami merasa plong sekaligus ketar-ketir kembali apakah bisa menerbitkan edisi berikutnya. Setelah tiga tahun dan 12 edisi, tenggat itu telah jadi siklus. Kami menetapkannya, kami pula yang harus memenuhinya, dengan gembira. Kegembiraan adalah penopang utama awak redaksi bekerja. Kami ingin menunjukkan bahwa majalah ini bisa terus ada dan layak dibaca.

Tapi versi cetak teramat mahal dan ruwet dalam proses. Setelah artikel terkumpul kami perlu mendesainnya dalam versi majalah dengan menggabungkannya dengan foto yang sesuai. Sementara artikel maupun foto hanya mengandalkan sumbangan para alumni. Ongkos cetak juga naik terus, belum distribusi ke seluruh Indonesia yang memerlukan ongkos tak sedikit. Kas dari sumbangan terus menipis sementara donasi berikutnya mendadak berhenti.

Maka kami menerbitkan versi online. Web forestdigest.com meluncur pada September 2018 tepat di edisi ke-8. Dengan online, jangkauan isi majalah jauh lebih luas. Kami juga bisa menyajikan artikel yang memuat informasi terbaru, mengingat isi majalah adalah artikel-artikel yang berusia tiga bulan. Kami menuliskan ulang hasil-hasil studi dan penelitian, menarasikan angka dan menganalisisnya agar memiliki perspektif dan mudah dipahami. Kali lain meminta dosen atau penulis kolom menuangkan gagasan jika ada isu hangat yang sedang diperbincangkan di tingkat nasional.

Promosi artikel web juga jauh lebih bisa diprediksi melalui media sosial. Tapi rupanya ini pekerjaan tambahan yang butuh keahlian khusus. Kami tak punya pengalaman membuat konten di media sosial yang menarik penghuni dunia maya agar terpapar artikel majalah ini. Pelan-pelan kami menemukan ritme. Di tiap-tiap rapat kami belajar dan bertukar gagasan, terutama mengevaluasi yang keliru dan memperkuat yang bagus. Kami terkejut sendiri bahwa video tentang profil sosok-sosok inspiratif cepat menyebar dengan mendapat komentar yang positif.

Mulai edisi 12 ini majalah juga bisa diperoleh di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Tapi menjual majalah di toko buku sekadar untuk meluaskan jangkauan pembaca saja, bukan mencari untung karena menitipkan majalah di sana tetap memakan ongkos distribusi yang tak sedikit.

Rupanya kelakar yang dulu mengejek itu ada benarnya: Forest Digest terbit untuk jadi sejarah. Tentu saja bukan sejarah masa lalu. Sebab tiap kali sebuah edisi terbit, sesungguhnya kami tengah menuliskan dan mengabadikan sejarah hari ini.

Doakan dan bantu kami bisa terus! Untuk bumi yang lestari.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.