Kabar Baru | 29 Juli 2019

Benarkah Kita Butuh 10.000 Langkah Sehari Agar Sehat?

Ini patokan umum sejak 1964 yang dipopulerkan orang Jepang. Penelitian ini menunjukkan jumlah langkah sebenarnya yang harus kita lakukan agar panjang umur.

Redaksi

Redaksi

TAK ada yang meragukan bahwa aktif bergerak membuat regenerasi sel berfungsi dengan baik, karena itu mendorong tubuh manusia menjadi lebih sehat. Akibatnya harapan hidup bisa jauh lebih panjang. Orang Jepang punya ukuran jitu soal patokan agar hidup sehat: minimal 10.000 langkah setiap hari. Benarkah harus sebanyak itu?

Orang Jepang menemukan formula itu pada 1964, yang kemudian dipromosikan ketika Olimpiade Tokyo. Menurut Catrine Tudor-Locke, penulis buku Manpo-Kei: The Art and Science of Step Counting yang terbit pada 2006, pencetus pertama 10.000 langkah adalah Yoshiro Hatano, profesor di Kyushu University of Health and Welfare. Setelah meneliti jumlah langkah yang bisa menyehatkan, ia memodifikasi alat pengukur langkah yang sudah ada sejak 1500, yang disebut padometer, dengan nama manpo-kei (man = 10.000, po = langkah, kei = meter).

Yamasa Tokei Keiki Co., Ltd, sebuah perusahaan di Tokyo, lalu memproduksi manpo-kei secara massal. Sejak itu di dunia kesehatan populer dan menjadi paradigma umum bahwa agar sehat manusia harus berjalan dengan 10.000 langkah sehari. I-Min Lee dari Departemen Epidemologi Harvard T. H. Chan School of Public Health menyanggah patokan itu. Menurut dia tak ada bukti empiris yang mendukung keharusan 10.000 langkah agar sehat.

Berangkat dari pertanyaan berapa banyak langkah kaki yang dibutuhkan manusia supaya sehat, Lee menelitinya pada lebih dari 16.000 perempuan di bawah usia 72 tahun di Amerika. Ia dan timnya memasangkan padometer kepada para responden untuk diamati selama 5,7 tahun. Pada tahun ke-4,3 sebanyak 504 perempuan meninggal.

Dari situ Lee menganalisis jumlah langkah tiap responden. Hasilnya, mereka yang melangkah 2.700 langkah kaki sehari punya kemungkinan meninggal lebih cepat dibanding mereka yang berjalan dengan 4.400 langkah sehari. Angka kematian kian menurun bagi mereka yang melangkah 7.500 sehari.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal JAMA Internal Medicine pada 29 Mei 2019 ini menjadi bukti empiris jumlah langkah yang harus dilakukan manusia agar sehat. Menurut Lee, tak harus dengan melangkah dan berjalan kaki untuk menjadi sehat. “Kamu harus lebih kreatif karena tidak semua orang suka berjalan atau tak stabil ketika melangkah,” katanya . “Bisa juga dengan pergi ke gim atau sekadar mengayuh pedal di sepeda statis.”

Maka yang terpenting adalah bergerak. Berjalan adalah olahraga yang murah dan bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, sambil beraktivitas yang lain. Tapi 10.000 memang terlalu banyak. Jika rata-rata 40 langkah per menit, setidaknya kita harus berjalan 4 jam dengan menempuh 8 kilometer.

Yoshiro Hatano kemudian mempublikasikan kembali hasil penelitiannya di jurnal Medicine & Science in Sports & Exercise edisi Juli 2008. Dalam artikel berjudul Revisiting "How Many Step Enough?" itu kategori 10.000 adalah kategori keaktifan seseorang. Berjalan di bawah 5.000 sehari dianggap sebagai pemalas, 5.000-7.000 langkah sebagai aktivitas yang rendah, dan 10.000-12.000 langkah itulah yang disebut orang aktif. Sementara orang super-aktif jika ia berjalan di atas 12.000 langkah sehari.

Lee datang dengan kesimpulan baru: cukup setengah jam berjalan sejauh 3 kilometer sehari untuk membuat tubuh bugar agar regenerasi sel terjaga sehingga berusia panjang. Tiga kilometer itu kira-kira 9 kali berkeliling lapangan sepak bola standar internasional.

Selamat berjalan, eh, selamat berolahraga. Apa saja, yang penting berkeringat. Karena dalam tiap tetes keringat ketika olahraga ada gas kuat yang berfungsi membunuh bakteri...

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.