Kabar Baru | 21 Juni 2019

Inovasi Mengurangi Sampah Nota Belanja

Sampah nota belanja yang tak seberapa berakibat serius pada manusia dan lingkungan. Kedai ini layak ditiru.

Redaksi

Redaksi

MESKIPUN kecil dan terlihat tak seberapa, setruk atau nota belanja di kedai, mini dan supermarket, bahkan di warung-warung bisa berakibat fatal pada manusia dan lingkungan. Satu rol setruk mesin pembayaran elektronik (EDC) umumnya seberat 400 gram dengan panjang 750 sentimeter. Jika satu setruk panjangnya 15 sentimeter, satu rol hanya untuk melayani 50 orang. Berapa jumlah sampah yang dihasilkannya? 

Menurut Bank Indonesia, tahun 2017 ada 1,1 juta mesin EDC di seluruh kedai. Jika satu mesin butuh 5 rol sehari maka sampah yang diproduksinya mencapai 2 kilogram. Artinya, ada 2,2 juta kilogram sampah kertas setruk belanja sehari di Indonesia lewat mesin pembayaran ini. Belum lagi 104 ribu unit ATM, 625 ribu unit gerai yang memakai sistem non-EDC, seperti parkir. Jika dikumpulkan, sampah setruk bisa mengurung Stadion Gelora Bung Karno!

Perlu revolusi digital pembayaran dalam transaksi keuangan yang tak menghasilkan kertas, kendati sampah kertas bisa didaur ulang. Pertumbuhan ekonomi dan makin banyak transaksi belanja akibat teknologi yang semakin canggih berdampak pada problem lingkungan. Tapi dengan teknologi pula, masalah itu sesungguhnya bisa diselesaikan. 

Seperti yang disadari dan dilakukan Brandon Rusli. Pemilik kedai YuMakan di Palmerah, Jakarta Selatan, ini tak lagi memakai kertas sebagai setruk pembayaran. Ia meminta konsumennya menerima setruk secara digital lewat SMS. “Untuk mengurangi limbah dan lebih hemat biaya,” kata Brandon, 19 Juni 2019.

Untuk mendorong konsumennya bersedia menyerahkan nomor teleponnya, Brandon menawarkan diskon 10 persen untuk pembelian apa saja yang sekaligus menjadi anggota YuMakan yang mendapat pelbagai fasilitas diskon jika makan di sini. Bagi konsumen yang menolak, mereka tak mendapat diskon itu. Brandon memakai layanan mokapos untuk mengirimkan setruk digital kepada konsumen YuMakan.

Menurut Brandon, setruk digital juga menekan biaya tak perlu karena harus membeli kertas tanda bukti pembayaran. Harganya tidak murah, antara Rp 32.000-Rp 70.000 per 10 gulung, tergantung kualitas kertasnya. Jika YuMakan menghabiskan dua gulung per hari, sudah bisa ditaksir biaya sia-sia akibat menyediakannya.

Hampir 100 persen pembeli YuMakan, sepanjang pengamatan satu jam makan siang pada 19 Juni 2019, meremas setruk atau meninggalkannya di meja yang akan diangkut pelayan dan dimasukkan dalam tong sampah.

Setruk juga tak layak dikoleksi, meski ada beberapa orang yang memanfaatkannya untuk mendapat uang tunai dengan memotret dan mengunggahnya melalui aplikasi. Misalnya, aplikasi Snapcart atau Manis. Tinta setruk memiliki kandungan racun karena zat BPA (bisphenol A dan S), sebagai zat pengembang warna pada tinta. Menurut penelitian Michigan The Ecology Center, zat-zat tersebut menjadi pemicu kanker, terutama prostat dan payudara.

Di Indonesia, bisphenol pernah menjadi berita karena terkandung dalam plastik dan botol minuman yang justru bisa terserap ke dalam makanan. BPA dan BPS kemudian dibatasi dan botol minuman wajib mencantumkan kode daur ulang untuk menunjukkan botol tersebut tak mengandung zat ini.

Brandon Rusli sudah lama mendengar dampak buruk sampah dan pemakaian plastik itu. Karena itu, sejak awal ia berniat memakai cara kertasles ketika hendak mendirikan kedai YuMakan. “Hemat sekaligus ramah lingkungan,” kata dia.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial 4.0

    Perhutanan sosial memasuki fase ketiga: menjadi solusi konflik tenurial, meningkatkan taraf hidup petani di sekitar hutan, dan tercapai kelestarian ekologi. Prinsip dasarnya adalah mengubah orientasi pemberian akses terhadap hutan, dari paradigma bisnis kepada korporasi selama 1970-2000, menjadi orientasi kepada masyarakat yang secara empiris terbukti lebih mampu menjaga rimba secara berkelanjutan. Dengan targetnya seluas 13,8 juta hektare, perhutanan sosial masih tertatih-tatih sebagai andalan mengentaskan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil: hanya mengejar target realisasi pemberian izin, prinsip pelibatan masyarakat yang belum ajek, hingga lambatnya mesin birokrasi yang belum simultan mendorong tercapainya tiga tujuan itu.

  • Laporan Utama

    Otokritik Kemitraan Konservasi

    Kurang jelasnya aturan mengenai mitra konservasi juga bisa menjadi pemicu konflik. Padahal, kemitraan konservasi menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik masyarakat di kawasan hutan.

  • Laporan Utama

    Atas Nama Keadilan Akses Terhadap Hutan

    Infografik: sebaran dan capaian perhutanan sosial 2019.

  • Laporan Utama

    Konflik Padam Setelah Izin Datang

    Masyarakat lima desa di Mesuji, Sumatera Selatan, tak lagi bersitegang setelah mendapat izin menggarap karet di kawasan hutan Inhutani III. Tak lagi curiga kepada pemerintah.

  • Laporan Utama

    Dari Pohon Turun ke Karbon

    Beberapa skema perhutanan sosial terbukti mengurangi emisi karena hutannya mampu menyerap emisi gas rumah kaca secara signifikan. Belum masif dikembangkan dalam perdagangan karbon.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Sawit: Mungkinkah?

    Sebuah tawaran solusi menyelesaikan konflik lahan di kawasan hutan, terutama areal hutan yang ditanami sawit.

  • Laporan Utama

    Agroforestri Paling Cocok untuk Perhutanan Sosial

    Agroforestri telah dipraktikkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan ternak dan kayu bakar.  

  • Laporan Utama

    Jadi Petani Asyik Lagi

    Anak muda Garut kembali ke kampung menjadi petani. Lebih menjanjikan dibanding merantau.

  • Laporan Utama

    Dari Problem ke Terobosan

    Sejumlah problem perhutanan sosial sehingga realisasi pemberian akses kepada masyarakat mengelola hutan di sekitar tempat tinggalnya menjadi tersendat. Perlu beberapa terobosan yang lebih masif.

  • Laporan Utama

    Milenial dalam Perhutanan Sosial

    Perlu regenerasi baru petani hutan sehingga perhutanan sosial perlu menggandeng milenial. Rata-rata petani hutan berusia 57 tahun.