Reportase | April-Juni 2019

Ciliwungku Sayang, Ciliwungku Malang

Ada 30 ton sampah tiap hari dibuang orang Bogor ke sungai Ciliwung. Tak kapok.

Robi Deslia Waldi

Rimbawan yang sedang menempuh program master di Fakultas Kehutanan IPB

BETAPA memprihatinkan sungai Ciliwung. Di segmen Bojong Gede di Bogor, Jawa Barat, sampah menumpuk di bantaran maupun badan sungainya. Dari sampah plastik, sampah kain, ranting pohon, hingga serasah yang jatuh dan terbawa arus sungai. Dalam dua jam, sekitar 100 orang yang mengambil sampah-sampah itu bisa mengumpulkan runtah sekitar 1,5 ton. 

Mereka adalah para relawan Mulung Ciliwung, acara yang digagas Komunitas Ciliwung Herpetarium pada 13 April 2019. Kata “mulung” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “memungut”. Mulung Ciliwung adalah memungut sampah di sekitar sungai Ciliwung di Bogor, yang membentang sejak Katulampa hingga Cilebut.

Menurut Mochamad Rifqi, Ketua Pelaksana Mulung Ciliwung, bebersih ini tak hanya untuk menjaga keresikan sungai, juga sekaligus melindungi reptil dan amfibi yang hidup di sana. Hewan-hewan sungai akan terganggu ekosistemnya akibat sampah yang menumpuk di pinggirnya. Jika ekosistemnya terganggu sungai akan rusak. Jika sungai rusak, hidup manusia juga akan terdampak. Minimal terkena penyakit.

Rifki aktif di komunitas Ciliuwung Bogor, padahal ia orang Jakarta. Tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kepedulian Rifqi pada Ciliwung terbit karena rumahnya terendam banjir satu meter dari luapan sungai Pesanggrahan pada 2016.

Banjir Jakarta selalu diakibatkan oleh meluapnya air sungai Ciliwung dan anak-anak sungainya. Akibat badan sungai tak cukup menampung limpasan air karena terkubur sampah, bangunan, atau menyempit karena diinvasi manusia. “Saya aktif di sini untuk mempengaruhi teman-teman yang masih remaja turut bergerak dan memunculkan gerakan-gerakan yang serupa demi kebaikan bersama,” kata Rifqi, 23 tahun, yang sedang mengungsi ke Condet karena rumahnya kembali terendam banjir.

Mulung Ciliwung sudah ada sejak 2009, seiring terbentuknya Komunitas Peduli Ciliwung di Bogor oleh Hapsoro dan Hari Yanto, dua pemancing, yang prihatin melihat sungai dari Puncak itu dipenuhi sampah tiap mereka hendak memancing ikan. KPC kemudian banyak mendapat dukungan masyarakat, bahkan pemerintah Kota Bogor. Tiap tahun mereka membuat hari Mulung Ciliwung, terutama saat ulang tahun Kota Bogor pada 3 Juni.

Peserta kegiatan Mulung Ciliwung di Bojong Gede, Bogor (Foto: Rifky Fauzan)

Belakangan lembaga-lembaga swadaya masyarakat juga mendukung Mulung Ciliwung dan membuat acara mulung sendiri, seperti World Wildlife Fund for Nature (WWF). Para relawan KPC juga turut hadir. Mereka saling datang tiap kali membuat acara yang berhubungan dengan Ciliwung.

Menurut Agus Haryanto, Ciliwung Project Site Manager WWF, sekitar 82% sungai di Indonesia saat ini rusak dan 52 sungai strategis tercemar berat. Sungai Ciliwung salah satunya. “Karena itu kami mendukung Mulung Ciliwung,” kata Agus dalam sambutan sebelum acara dimulai. “Dan yang terpenting berkelanjutan dan konsistensi agar Ciliwung menjadi bersih dan sehat.”

Selain KPC, Mulung Ciliwung juga diikuti relawan bank HSBC dan Pengurus Cabang Sylva IPB, Himpunan Mahasiswa Konservasi dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, Lawalata IPB, Rimpala Fahutan IPB, Komunitas Ciliwung Depok, serta masyarakat. Panitia mengajak mereka nyebur ke sungai yang coklat dan penuh sampah, memungutinya dan mengumpulkannya ke dalam karung-karung.

Suparno Jumar, perwakilan KPC, menuturkan bahwa kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai Ciliwung masih rendah. Itu terlihat dari jumlah sampah yang selalu banyak tiap kali KPC melakukan bersih Ciliwung pada Sabtu pagi tiap pekan selama 10 tahun. “Masyarakat menutup mata,” katanya.

Terinspirasi KPC, pemerintah Kota Bogor bahkan menjadikan Mulung Ciliwung sebagai lomba tahunan. Pemerintah juga membentuk Satuan Tugas Ciliwung, yang beranggotakan TNI, polisi pamong praja, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, dan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC). Pada 2013, KPC mendapat rekor MURI karena jumlah relawan yang ikut mulung hampir  2.500 orang.

Toh, sungai Ciliwung tetap kotor dan penuh sampah. Masyarakat yang tinggal di hulu, di dekat Puncak, menjadikan sungai ini sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air sehari-hari, sekaligus tempat pembuangan sampah rumah tangga.

Kota Bogor memproduksi 600 ton sampah per hari. Ini catatan tempat penampungan akhir. Artinya, sampah yang tercatat belum memasukkan sampah yang dibuang ke sungai oleh masyarakat. Padahal Bogor punya rencana mengurangi 30 persen sampah pada 2025. Karena itulah Wali Kota Bima Arya sudah melarang pemakaian kantong plastik di toko modern sejak 1 Desember 2018.

Seorang relawan Mulung Ciliwung mengangkut sampah di sungai Ciliwung, Bojong Gede, Bogor (Foto: Rifky Fauzan)

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor memperkirakan ada 30 ton sampah yang dibuang ke sungai Ciliwung di 87 titik pada 13 kelurahan. ”Kalau satu titik ada 2 meter kubik sampah, tinggal dikalikan 87 titik, kira-kira 30 ton,” ujar Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor Ade Nugraha kepada Pikiran Rakyat, 2 Januari 2019.

Permukiman penduduk yang tumbuh dan kian padat dan tak didukung akses jalan yang lebar, kata Ade, membuat truk sampah kesulitan mengangkut sampah di wilayah bantaran Sungai Ciliwung. ”Sampah di bantaran Sungai Ciliwung sulit dibawa ke lokasi pembuangan sampah, kecuali jika memang warganya mau,” katanya. Karena lebih dekat dan lebih mudah buang ke sungai, penduduk membuangnya ke sana.

Tahun ini pemerintah Bogor akan fokus menangani sampah rumah tangga untuk mencapai pengurangan 30 persen sampah itu. “Untuk Ciliwung, kami fokuskan sosialisasi agar sampah bisa dibuat kompos atau biopori,” ujar Ade. Selain pembentukan tim tangkap tangan pembuang sampah ke Ciliwung oleh polisi pamong praja.

Dengan segala kepelikan itu, Mulung Ciliwung jadi lilin dalam gulita ketidakpedulian masyarakat terhadap sungai yang menjadi sumber hidup dan bencana mereka.

Kontributor:
Razi Aulia, Firli A. Dikdayatama, Rifki Fauzan

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Komentar

Artikel Lain

  • Laporan Utama

    Citarum Belum Harum

    Banyak program memperbaiki sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat, yang dijuluki sungai terkotor di kolong langit. Tiap gubernur punya program sendiri dengan anggaran tak sedikit. Ada Citarum Bergetar, Citarum Lestari, Citarum Bestari. Semuanya gagal. Kini muncul Citarum Harum. Kali ini perbaikan lebih masif dan bergaung karena kebijakannya langsung di tangan presiden. Tahun pertama Citarum Harum perbaikan sungai yang berakhir di Muara Gembong Bekasi ini belum terlalu signifikan, tapi menjanjikan. Perlu pola pikir menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

  • Laporan Utama

    Perang Melawan Kerusakan Citarum

    Perbaikan Citarum dari hulu ke hilir. Butuh komitmen kuat.

  • Laporan Utama

    Menengok Mastaka Citarum

    Situ Cisanti, kilometer 0 sungai Citarum, kini bersih dari sampah dan eceng gondok. Tujuh mata air mengalir deras.

  • Laporan Utama

    Nyi Santi dari Bumi Pohaci

    Irma Hutabarat menekuni vetiver untuk menyelamatkan sungai yang porak poranda. Citarum membuatnya jatuh cinta.

  • Laporan Utama

    Citarum, oh, Citarum

    Citarum dalam angka.

  • Laporan Utama

    Merusak Lingkungan Belum Jadi Pidana

    Wawancara dengan Taruna Jaya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

  • Laporan Utama

    Mengatasi Tuna Daya Mengelola Citarum

    Petani di bagian hulu DAS Citarum perlu didorong dalam konteks transformasi komoditas yang lebih menguntungkan secara finansial, yaitu mengganti tanaman hortikultura menjadi kopi dan pohon buah.

  • Laporan Utama

    Perhutanan Sosial untuk Perbaikan Hulu Sungai

    Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari sehingga program ini dapat mendukung pemulihan kondisi DAS Citarum melalui pelaksanaan perhutanan sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani di Provinsi Jawa Barat.

  • Laporan Utama

    Sungai Itu Seperti Tubuh Kita

    Jika wilayah DAS terbagi ke dalam wilayah hulu (atas), tengah dan hilir (bawah), maka tubuh manusia pun terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah.

  • Laporan Utama

    Solusi untuk Citarum

    Slogan mempertahankan Citarum bebas limbah dan kotoran wajib dilaksanakan mulai dari setiap RT, RW, desa dan kecamatan yang berinteraksi dengan Citarum. Bentuk forum Kiai Peduli Citarum.