Untuk bumi yang lestari

Pojok Restorasi| 13 September 2023

Musang Luwak Penyelamat Ekosistem

Musang luwak berperan sebagai penyebar biji yang baik. Menyeimbangkan ekosistem.

Musang luwak di Kebun Raya Cibodas Jawa Barat (Foto: Dok. Kebun Raya Cibodas)

PERUBAHAN tata guna lahan akibat aktivitas manusia telah mengubah ekosistem alami menjadi ekosistem buatan yang melahirkan bentang alam baru berupa lanskap antropogenik. Lanskap ini tidak hanya terdiri dari ekosistem buatan tapi masih menyisakan fragmen-fragmen ekosistem alami berupa hutan, rawa, sungai, danau dan padang rumput.

Keberadaan ekosistem alami memiliki peranan yang penting sebagai habitat tumbuhan dan satwa, area rekreasi, penyuplai oksigen, penyimpan air, serta pencegahan bencana alam seperti banjir dan longsor. 

Fragmentasi habitat sastwa dan tekanan akibat aktivitas manusia mengancam kelestarian ekosistem alami di dalam lanskap antropogenik. Kegiatan restorasi ekosistem menjadi keniscayaan untuk mempertahankan kelestarian ekosistem alami tersebut.

Salah satu faktor kunci yang penting dalam mempercepat restorasi ekosistem adalah keberadaan satwa sebagai agen pemencar biji. Pasokan biji yang dipencarkan oleh satwa bersama feses akan mempercepat proses regenerasi tumbuhan di suatu ekosistem yang terdegradasi.

Regenerasi tumbuhan yang berlangsung cepat juga akan mempercepat upaya restorasi ekosistem. Mamalia dan burung memiliki peranan penting sebagai agen pemencar biji.

Kelebihannya dibandingkan agen pemencar yang lain adalah kemampuannya dalam memencarkan biji berukuran besar dengan jarak yang cukup jauh. Hal ini penting karena biji dapat terpencar cukup jauh ke area lain, termasuk ke dalam ekosistem yang terdegradasi.

Salah satu jenis satwa yang berperan penting dalam pemencaran biji khususnya biji berukuran besar adalah musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Meskipun tergolong ke dalam hewan karnivora, musang luwak lebih menyukai tumbuhan sebagai sumber makanannya.

Jenis musang ini lebih dikenal sebagai sebagai penghasil kopi luwak. Biji kopi yang dimakan oleh musang luwak akan melewati organ pencernaannya dan keluar bersama feses. Biji kopi kemudian dipisahkan dari feses untuk menghasilkan varian kopi luwak yang banyak digemari serta memiliki nilai ekonomi tinggi.

Selain peranannya dalam menghasilkan kopi luwak, peranan yang tidak kalah penting dari musang luwak adalah sebagai agen pemencar biji.

Kelebihan musang luwak dibanding jenis-jenis satwa pemencar biji lainnya adalah kemampuannya beradaptasi dengan gangguan manusia. Hewan ini dapat hidup di area pemukiman dan bersarang di rumah penduduk, perkantoran, sekolah, gudang maupun pepohonan di area perkotaan.

Lokasi-lokasi seperti itu merupakan ekosistem buatan yang membentuk lanskap antropogenik. Sehingga dapat disimpulkan jika musang luwak merupakan salah satu agen pemencar biji yang penting di lanskap antropogenik. 

Musang luwak memakan buah dan mengeluarkan bijinya bersama feses tanpa mengakibatkan kerusakan pada biji. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya peningkatan daya kecambah biji yang dipencarkan oleh musang. Salah satu penelitian menunjukkan perkecambahan biji dan pertumbuhan semai yang dipancarkan oleh satwa lebih tinggi dibandingkan kontrol (Razafindratsima & Martinez 2012).

Hasil penelitian Subrata & Syahbudin (2016), menemukan 13 jenis biji yang dipencarkan oleh musang luwak masih memiliki daya kecambah yang baik. Musang luwak juga memencarkan jenis-jenis tumbuhan yang bernilai ekonomi penting seperti aren (Arenga pinnata), kopi (Coffea arabica), dan beringin (Ficus variegata). 

Mengingat peranannya yang begitu penting dalam mempercepat regenerasi tumbuhan di ekosistem akibat degradasi lahan, kelestarian musang luwak perlu dijaga. Kegiatan perburuan dan penangkapan satwa ini perlu dikendalikan. Selain itu, upaya penangkaran musang luwak perlu dikembangkan untuk mempertahankan kelestariannya. Dengan menjaga kelangsungan hidupnya, peranannya sebagai agen pemencar biji akan mempercepat pemulihan ekosistem terdegradasi khususnya di lanskap antropogenik.

Ikuti percakapan tentang restorasi ekosistem di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Peneliti Kelompok Riset Pengelolaan Lanskap Antropogenik Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Topik :

Translated by  

Bagikan

Komentar



Artikel Lain