Oase | April-Juni 2019

Ode untuk Greta Thunberg

Seorang gadis Swedia yang pendiam menjadi juru bicara dunia dalam melawan pemanasan global.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

APA yang membuat gadis 15 tahun asal Swedia yang dingin memutuskan mogok sekolah untuk memprotes para anggota parlemen karena bumi sedang memanas? Pada musim salju tahun ini, suhu di negeri Skandinavia itu anjlok minus 35,5 derajat Celsius. Bagaimana bisa Greta Thunberg berpikir bahwa bumi sedang terpanggang?

Pada mulanya adalah beruang kutub. Ketika usia 8, Greta menonton sebuah film dokumenter yang diputar gurunya di kelas tentang mencairnya salju di kutub Utara hingga seekor beruang terjebak di bongkahan es yang lambat laun terkikis karena mencair. Greta menangis menontonnya. “Gambaran tentang nasib beruang itu menancap di kepala saya,” katanya, kepada The Guardian.

Setelah itu kecemasannya terus tumbuh hingga bersama ayahnya yang seniman, dan ibunya yang penyanyi opera, Greta mulai mempelajari apa yang terjadi dengan es yang mencair itu. Jawabannya adalah perubahan iklim akibat pemakaian energi fosil yang tak terbarukan membuat karbon dioksida dan gas-gas lain terperangkap di atmosfer hingga selubung planet itu memantulkan kembali panas yang dilepaskan bumi. Alih-alih mereda setelah menemukan jawaban penyebabnya, Greta semakin cemas.

Empat tahun sebelumnya ia divonis menderita Asperger. Ia bisa cemas pada satu hal secara terus menerus hingga tak bisa berbicara. Kendati ayahnya sudah meyakinkannya bahwa dunia baik-baik saja, Greta terus memikirkan nasib beruang di kutub itu. Kegelisahannya menjadi ketika tahu tak ada teman dan orang dewasa yang ia temui di sekolah cukup peduli dengan nasib beruang itu, apatah lagi memikirkan bahwa bumi sedang terpanggang.

Pada Agustus 2018, Eropa utara mencatat rekor suhu terpanas sepanjang tahun, hutan Swedia terbakar hingga lidah apinya menyentuh batas hutan terakhir dengan laut Arktik di utara itu. Bosan memendam kegelisahan sendiri, Greta mengambil sepedanya lalu mengayuhnya menuju gedung parlemen pada hari Senin tanggal 20. Ia tak ke sekolah. Ia duduk di depan gedung parlemen itu sembari membentangkan poster bertuliskan tangannya sendiri: “skolstrejk för klimatet” (mogok untuk iklim). Ia duduk di sana sejak pukul 8.30 pagi hingga 3 sore. Sendirian, di bawah suhu 11 derajat.

Seperti umumnya anak yang dianggap nyeleneh, apa yang dilakukan Greta mengundang cibiran. Tak ada teman atau orang yang lewat di depannya yang mempedulikan apa yang ia bentangkan. Mereka menengok sebentar lalu pergi lagi tanpa berkata-kata. Greta datang lagi ke titik yang sama pada jam sama pekan berikutnya. Hanya saja ia mengubah harinya menjadi Jumat.

Sama seperti pekan pertama, tak ada orang yang peduli. Baru pekan berikutnya beberapa orang di jalan dan teman-temannya di sekolah mulai memperhatikan, lalu bergabung bersamanya membentangkan poster yang sama. Dari satu orang itu, pekan berikutnya bertambah dua, pekan depannya menjadi tiga, hingga dalam setengah tahun sekolah-sekolah di Swedia bergabung bersama Greta menyuarakan kepedulian yang sama akan perubahan iklim.

Greta Thunberg saat diambil rekaman di sela World Economic Forum di Davos, Januari 2019.

Greta pun masuk koran, mengambil alih perhatian warga-net. Pada Januari 2019 ia diundang berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Di sana ia berbagi podium dengan para pemimpin politik dunia, para pengusaha beken dan berpengaruh, membicarakan hal sama tentang bumi yang memanas. Greta memulai pidatonya yang terkenal dengan mengentak: “Saya harap Anda panik, seperti kepanikan yang saya rasakan setiap hari, seperti kepanikan yang Anda rasakan ketika rumah Anda terbakar...”

Greta terus berbicara tentang nasib beruang kutub yang akan kehilangan rumah jika es terus mencair akibat bumi yang menghangat. Ia tak mengutip data-data empiris tentang naiknya permukaan air laut 3 milimeter per tahun, tak menyitir data NASA tentang kenaikan suhu bumi 0,8 derajat Celsius dalam 200 tahun terakhir, tak memakai data emisi karbon 46,6 Gigaton per tahun, ia tak memakai data-data agar terlihat rada ilmiah. Ia langsung ke jantung persoalan: dunia sedang menuju ke arah yang lebih buruk. “Maka lakukan sesuatu!” serunya.

Gadis yang suka mengepang dua rambut panjangnya itu memakai tamsil rumah terbakar. Bayangkan, katanya, apa yang Anda lakukan jika rumah Anda terbakar? Respons pertama adalah panik, lalu bertindak—entah lari ke luar rumah atau berusaha menyelamatkan barang berharga terlebih dahulu. Tapi sebelum rumah terbakar, Greta mengajak tiap kita menjaga agar tak memicu api di rumah ini, di planet ini.

Ilmu pengetahuan telah mengkonfirmasi bahwa bumi yang memanas akibat perubahan iklim yang disebabkan berlebihnya emisi gas rumah kaca. Emisi ini telah mengubah kebiasaan planet ini secara alamiah. Awal Mei tahun ini PBB melaporkan bahwa 1 juta spesies—dari 8 juta yang tercatat—menghilang dalam 50 tahun terakhir. Betapa cepat, betapa banyak. Laporan PBB itu menyimpulkan dengan pasti bahwa kehilangan tersebut akibat aktivitas manusia yang kini mencapai 7,6 miliar, mendesak alam dengan teknologi, dengan kebutuhan dan keserakahan.

Maka jika apa yang dilakukan Greta Thunberg di Swedia menginspirasi anak-anak seusianya di seluruh dunia hari ini, karena mereka sudah merasakan apa yang dicemaskan gadis yang kini 16 tahun itu setahun lalu. Bumi sedang terpanggang dan penghuninya sedang mengalami kemusnahan secara pelan-pelan.

Foto: The Guardian

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain