Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 27 Mei 2023

Bisakah Kecerdasan Buatan Melawan Krisis Iklim?

Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan: membantu atau memperparah krisis iklim?

Artificial Intelligent membantu menyelesaikan masalah perubahan iklim (foto: World Economic Forum)

KECERDASAN buatan menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Meski banyak yang mencemaskan artificial intelligent (AI) bisa mereduksi kemanusiaan manusia, ia banyak menolong pekerjaan-pekerjaan repetitif sehingga kerja lebih efektif dan efisien. ChatGPT 3 pada 2022 menandai perkembangan kecerdasan buatan yang semakin pesat.

Kini ada 4 miliar perangkat yang terpasang ke asisten AI. Bisakah ia menangkal krisis iklim?

Menurut survei Boston Consulting Group (BCG) pada 2022, 87% dari 1.000 eksekutif yang berkecimpung di dunia perubahan iklim dan kecerdasan buatan mengatakan AI bisa menjadi alat melawan perubahan iklim. Sebanyak 43% eksekutif juga akan mengintegrasikan AI untuk mendukung upaya mereka dalam melawan perubahan iklim.

Di bagian mana AI dapat membantu melawan perubahan iklim? Berangkat dari hasil survei tersebut, BCG bersama praktisi AI dan perubahan iklim menyusun kerangka kerja penggunaan AI dalam memerangi perubahan iklim. Ada tiga aspek penting peran kecerdasan buatan menangkal krisis iklim, yakni fundamental, mitigasi, dan adaptasi.

Fundamental

Fundamental berhubungan dengan penggunaan AI untuk meneliti krisis iklim lebih jauh dan memprediksi terkait kemungkinan dampak yang akan terjadi di masa depan. AI membantu kita menyusun rancangan biaya yang akan kita keluarkan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Terakhir, AI membantu kita menyusun dan memperluas materi edukasi dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim.

Mitigasi

Mitigasi berhubungan dengan pengukuran (measurement), reduksi (reduction), dan menghilangkan (removal). Pengukuran juga berkaitan dengan kemampuan AI mengukur cadangan karbon yang tersimpan alami di bumi ini, mengukur emisi gas rumah kaca yang dihasilkan, baik di level industri atau rumah tangga. Lebih detail, AI dapat mengukur secara terperinci emisi karbon yang dihasilkan dari setiap kegiatan kita, mulai dari belanja, memasak, berkendara, dan lain sebagainya.

Dari sisi reduksi, AI berperan sebagai asisten pribadi yang membantu kita mengurangi emisi karbon kita. AI membantu kita menentukan pilihan yang efisien dalam belanja, mengatur rute transportasi paling singkat untuk menekan emisi karbon, mengatur penggunaan listrik kita agar lebih hemat, dan banyak lagi. 

Dari sisi penghilangan, AI membantu kita merancang strategi untuk menghilangkan kelebihan emisi karbon di atmosfer baik melalui proses alami ataupun teknologi. Contohnya seperti mendeteksi illegal logging di hutan secara real-time, mempermudah dalam penyusunan peta rencana restorasi, dan peta rencana pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan.

Adaptasi

Kita harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan iklim. Di sini, AI dapat berperan untuk memprediksi cuaca, iklim, dan bencana alam dalam jangka panjang. Sebagai contoh, berapa kemungkinan kekeringan yang akan terjadi di suatu tempat selama 10 tahun kedepan? Berapa kali gelombang panas terjadi di suatu tempat dalam sepuluh tahun ke depan? Dan lain sebagainya.

AI juga bisa membantu kita menyusun sistem irigasi untuk mengefesiensikan penggunaan air dalam pertanian, merancang hunian yang rendah emisi dan adaptif terhadap perubahan iklim, dan membuat model ekonomi di tempat yang rentan terhadap krisis iklim.

Seperti kita tahu, untuk membuat komputer butuh material yang diperoleh melalui tambang dan hal itu menimbulkan emisi yang besar. Kemudian, AI membutuhkan akses ke bank data, dimana bank data sendiri membutuhkan asupan listrik yang sangat besar. Diperkirakan, pengembangan satu model AI menghasilkan emisi setara 56 orang selama satu tahun.

Walau menghasilkan banyak emisi, tapi selama digunakan dengan tepat dan terukur, AI akan mempermudah jalan kita untuk melawan perubahan iklim. Terlebih, terdapat beberapa climate-tech yang menggunakan AI untuk melawan perubahan iklim.

Contohnya Clound Street yang menggunakan data satelit untuk memantau banjir di seluruh dunia secara real-time dan membantu menyusun rencana adaptasinya. Ada One Concern yang memanfaatkan AI mengukur dampak bencana alam bagi suatu komunitas. Prospera yang memanfaatkan AI untuk memantau dan menganalisis perkembangan tanaman dan pertanian.

AI bisa membantu kita melawan krisis iklim. Sekarang, tinggal bagaimana kita memaksimalkan peran kecerdasan buatan untuk mewujudkan ambisi penurunan emisi kita.

Ikuti percakapan tentang kecerdasan buatan di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Translated by  

Bagikan

Terpopuler

Komentar



Artikel Lain