Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 02 Desember 2022

Gunung Mauna Loa Meletus. Apa Dampak Bagi Krisis Iklim?

Gunung Mauna Loa meletus. Gunung api terbesar di Hawai ini berdampak pada krisis iklim.  

GUNUNG Mauna Loa meletus pada 29 November 2022. Gunung api aktif terbesar di dunia ini meletus terakhir pada 1984. Hingga hari ini, erupsi gunung Mauna Loa terus terjadi.

Mauna Loa merupakan salah satu dari rangkaian lima gunung berapi pembentuk pulau besar Hawaii di Amerika Serikat. Puncak Mauna Loa berada di ketinggian 4.170 meter di atas permukaan laut, tetapi dasar gunung api ini ada nun di bawah dasar laut. Jika menghitung jarak dari dasar ke puncak, tinggi gunung ini mencapai 9.179 meter, yang berarti Mauna Loa lebih tinggi dari Gunung Everest (8.849 meter). 

Lava bersuhu 1.000C diperkirakan akan mencapai jalan raya dan penduduk yang bermukim di sekitarnya diminta untuk bersiap-siap. Selain lava yang panas, erupsi juga mengeluarkan material gas vulkanik, aerosol dan abu yang membentuk “kabut vulkanik.” Namun apakah letusan gunung api memiliki dampak pada perubahan iklim?

Menurut United States Geological Survey (USGS), letusan gunung berapi bisa memiliki dampak pada krisis iklim. Selama letusan eksplosif besar, sejumlah besar gas vulkanik, aerosol, dan abu diterbangkan ke stratosfer. Abu yang diterbangkan jatuh dengan cepat dari stratosfer—sebagian besar hilang dalam beberapa hari hingga pekan- dan berdampak kecil pada perubahan iklim.

Gas vulkanik seperti sulfur dioksida menyebabkan pendinginan global. Sementara gas lain seperti karbon dioksida vulkanik dan gas rumah kaca, berpotensi meningkatkan pemanasan global.

Beberapa letusan gunung api selama satu abad terakhir menyebabkan penurunan suhu rata-rata permukaan bumi. Letusan gunung Pinatubo di Filipina pada 15 Juni 1991 merupakan salah satu letusan paling besar pada abad 20.

Letusan gunung Pinatubo menyemprotkan awan sulfur dioksida seberat 20 juta ton ke statosfer—terbesar yang pernah dicatat—dan menjadi gangguan aerosol terbesar pada abad ke 20.

Letusan Gunung Krakatau (1883) dan Tambora (1815) memiliki dampak iklim yang lebih besar lagi. “Apa yang terjadi setelah Tambora adalah perubahan iklim selama tiga tahun,” kata Gillen D’Arcy Wood, penulis buku Tambora: The Eruption That Changed the World yang terbit pada 2014.

Setelah letusan gunung Tambora, tulis dia, dunia menjadi lebih dingin dan sistem cuaca berubah total selama tiga tahun. Suhu bumi rata-rata turun 1,3°C. "Gagal panen dan kelaparan meluas dari Asia hingga Amerika Serikat dan Eropa,” katanya dalam buku itu.

Gunung berapi yang berlokasi di dekat khatulistiwa, seperti Tambora, Krakatau dan Mauna Loa bisa menyebabkan perubahan cuaca global jika letusannya cukup kuat untuk melepaskan gas ke stratosfer.

Gas ini terperangkap karena terlalu tinggi untuk tersapu hujan, kemudian bergerak di sepanjang garis khatulistiwa dan menyebar ke arah kutub. Sehingga panas dari matahari terhalang oleh gas yang memberikan efek pendinginan. Akibatnya, terjadi penurunan curah hujan, gagal panen, dan kelaparan.

Wood dalam tulisan itu menulis bahwa prediksi kematian pada masa itu mencapai satu juta orang di tahun setelah letusan Tambora. “Jika Anda ingin memasukkan fakta kemunculan pandemi global kolera pasca letusan Tambora … maka jumlah kematian mencapai puluhan juta,” katanya.

Jauh sebelum Tambora, letusan gunung api di Islandia pada 536 membuat tahun tersebut sebagai “tahun terburuk untuk hidup.” Dampak letusan gunung api di Islandia itu digambarkan para penulis pada masa itu melalui kemunculan kabut misterius yang membawa Eropa, Timur Tengah dan sebagian Asia ke dalam kegelapan, baik siang maupun malam selama 18 bulan. 

"Karena matahari memancarkan cahayanya tanpa kecerahan, seperti bulan, sepanjang tahun," tulis Procopius, sejarawan Bizantium. Science.com menulis bahwa suhu pada musim panas tahun 536 turun 1,5°C menjadi 2,5°C, memulai dekade terdingin dalam 2300 tahun terakhir.

Pada masa itu, salju turun pada musim panas di Cina: panen gagal, kelaparan melanda. Kronik Irlandia mencatat terjadi, "kegagalan roti dari tahun 536–539." Kemudian, pada tahun 541, penyakit pes menyerang pelabuhan Pelusium Romawi, di Mesir, lalu membawa wabah yang dicatat sebagai “wabah Justinian” yang memusnahkan hampir setengah populasi Romawi Timur.

Lalu bagaimana dengan dampak karbon dioksida vulkanik yang juga disemprotkan saat erupsi gunung api?

Menurut Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), dampak pemanasan global dari erupsi gunung api tidak seberapa ketimbang penyebab antropogenik atau penyebab emisi karbon akibat aktiviyas manusia.

Dalam situsnya, NASA menjelaskan bahwa peningkatan emisi karbon dioksida akibat erupsi gunung seukuran Pinatubo saja sama besar dengan emisi CO2 selama dua hari.

Sehingga kontribusi manusia menghasilkan emisi karbon bisa jadi 100 kali dari kombinasi erupsi semua gunung api di bumi.

Emisi CO2 paling besar yang mungkin dihasilkan dari letusan gunung api, kemungkinan datang dari gunung api super seperti Yellowstone (Amerika Serikat) atau Gunung Toba (Indonesia).

Gunung Toba yang kini berada di dasar Pulau Samosir dan Danau Toba, Sumatera Utara diperkirakan meletus setiap 100 ribu tahun sekali atau sangat jarang. Tetapi, NASA menulis, total emisi CO2 tahunan dari aktivitas manusia itu setara dengan satu atau lebih erupsi super dari gunung-gunung ini setiap tahun.

Meskipun letusan gunung api seperti Mauna Loa jarang terjadi, sejumlah ilmuwan menyebutkan bahwa krisis iklim dapat meningkatkan lebih banyak aktivitas vulkanik. Krisis iklim terjadi akibat tingginya emisi karbon dioksida di atmosfer yang memanaskan planet, mencairkan gletser dan menciptakan kondisi yang sesuai untuk letusan gunung berapi.

“Bayangkan es seperti semacam lapisan pelindung – ketika es mencair, gunung bisa runtuh,” kata Gioachino Roberti, mahasiswa PhD yang meneliti aktivitas gunung berapi di Universitas Clermont Auvergne, kepada The Independent. Jika gunung yang kehilangan es-nya adalah gunung berapi, ini bisa jadi masalah besar.

Sebab es yang mencair dan tanah longsor menghilangkan tekanan pada “sistem pipa” magma di dalamnya. Studinya pada 2018 menemukan bahwa tanah longsor berpotensi mengacaukan dapur magma dan memicu letusan –fenomena yang terkait langsung dengan iklim yang lebih hangat.

Tim ilmuwan internasional saat ini sedang melakukan penelitian terobosan apakah krisis iklim mempengaruhi letusan gunung berapi dan frekuensi gempa bumi.

Di lepas pantai timur Pulau Utara Selandia Baru, tim telah mengumpulkan inti sepanjang 500 meter dari bawah dasar laut, catatan semua sedimen dan material yang disimpan selama 800.000 tahun terakhir.

Dengan menganalisis setiap lapisan, para ilmuwan akan membangun gambaran tentang bagaimana gempa bumi dan letusan gunung berapi terjadi selama ribuan tahun. Setelah selesai pada awal 2024, para ilmuwan diharapkan dapat mengatakan lebih pasti apakah ada hubungan sebab akibat antara iklim dan frekuensi letusan gunung berapi dan gempa bumi.

Letusan gunung Mauna Loa memiliki dampak terhadap perubahan iklim. Seberapa besar dampaknya, dan bagaimana hubungannya dengan krisis iklim, masih perlu penelitian lebih lanjut. 

Simak berita terbaru Mauna Loa di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain