Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 29 November 2022

Dua Harimau Sumatera Kembali ke Habitatnya

Dua ekor harimau Sumatera dilepaskan pada November. Salah satunya pernah dilepaskan namun diselamatkan kembali.  

DALAM dua bulan terakhir, sebanyak dua ekor harimau Sumatera (Panthera tigris) dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Harimau terakhir, “Bestie” dilepaskan pada 25 November 2022 di Taman Nasional Gunung Leuser. Harimau berbobot 80 kilogram itu langsung keluar tak lama usai pintu kandang besi dibuka. Beberapa detik berikutnya dia menghilang ke balik ilalang.

Bestie masuk kandang jebak yang dipasang oleh Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara pada akhir Agustus lalu di Desa Halaban, Kabupaten Langkat, setelah sebelumnya harimau itu memangsa sejumlah ternak penduduk.

Usai diselamatkan dan dirawat selama tiga bulan di Suaka Harimau Barumun di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, Bestie dinyatakan sehat dan siap untuk dilepaskan.

Dari Barumun, harimau Sumatera itu menempuh perjalanan darat sejauh 500 kilometer untuk mencapai Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Bestie kemudian diamati, dicek kesehatan dan dirawat secara intensif selama 4 hari. Dari Blangkejeren, Bestie diangkut menggunakan helikopter ke lokasi pelepasan di area Taman Nasional Gunung Leuser.

Kisah “Putri Singgulung,” Harimau yang dilepaskan pada 16 Oktober 2022 sedikit berbeda. Putri diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama saudaranya “Putra Singgulung,” di Nagari Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumbar pada Juni 2020. Usia mereka sekitar 8-12 bulan—termasuk usia anak-anak untuk harimau, ketika diselamatkan.

Setelah lima bulan menjalani rehabilitasi, Putri dan Putra dilepaskan ke Suaka Margasatwa di Solok yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat. Namun baru sepuluh hari dilepaskan, kedua harimau itu keluar dari hutan, masuk ke kawasan permukiman dan berkeliaran di jalan-jalan. Meski saat itu belum ada konflik dengan penduduk, BKSDA kembali menyelamatkan dua kakak-beradik harimau.

Hingga saat ini, Putra yang ramah terhadap manusia masih menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) Arsari. Sementara Putri dianggap sudah siap untuk dilepaskan ke alam liar.

Menurut Hariyo Wibisono dari SINTAS Indonesia, ada proses pembentukan insting yag berbeda bagi harimau yang lahir dan besar di alam liar dengan harimau yang lahir di penangkaran atau diselamatkan saat masih anakan (cubs). Dalam siklus hidup harimau, bayi harimau menyusui selama 8 bulan meyapih sekitar 22 bulan.

“Pada proses menyapih itu induk harimau mengajari segala hal yang penting untuk bertahan hidup, seperti insting, mengenali kondisi rawan dan cara berburu,” kata Hariyo.

Hal ini tidak dialami oleh harimau yang lahir di penangkaran atau yang masih terlalu kecil untuk diselamatkan. Sebab, hidup di penangkaran berarti selalu berada di zona yang dikenali. Sebelumnya pada 19 Juli 2022, “Citra Kartini,” satu dari dua ekor harimau penangkaran yang dilepaskan ke alam liar ditemukan mati sebelum genap satu setengah bulan.

Sehingga sorotan terhadap pelepasan Putri Singgulung menjadi lebih besar. Selama dua pekan pertama Putri diawasi pergerakannya. “Putri Singgulung telah dinyatakan dapat beradaptasi di habitat barunya sejak 30 Oktober 2022,” kata Kepala BKSDA Sumatera Barat Ardi Andono.

Harimau Sumatera merupakan satwa liar yang kritis (critically endangered). Populasinya terus berkurang akibat perburuan dan fragmentasi hutan yang memicu banyak konflik dengan manusia. Populasi harimau diperkirakan sekitar 500-600 ekor di hutan-hutan Sumatera (Population Viable Assesment, 2016).

Sebagai predator teratas, harimau Sumatera pemain kunci rantai makanan. Jika harimau punah, ekosistem tak seimbang. Hewan herbivora akan melimpah yang menjadi hama bagi pangan manusia.

Simak percakapan tentang harimau Sumatera di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain