Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 19 November 2022

Inisiatif Nature Based Solutions dalam COP27                    

COP27 meluncurkan inisiatif nature based solutions untuk melindungi keanekaragaman hayati.

KONFERENSI Iklim COP27 Mesir meluncurkan inisiatif ENACT atau enhancing nature based solutions for an accelerated climate transformation untuk memperkuat kolaborasi upaya-upaya solusi berbasis alam dan kemitraan.

ENACT adalah koalisi sukarela yang dipimpin bersama oleh Mesir dan Jerman. IUCN akan menjadi tuan rumah Sekretariat ENACT, yang akan memimpin pelaksanaan inisiatif tersebut.

Inisiatif ENACT memandang bahwa pencemaran, kepunahan spesies, dan perubahan iklim saling berhubungan sehingga harus diatasi bersamaan. “Keanekaragaman hayati adalah inti dari kesejahteraan ekonomi, sosial, dan budaya manusia, tetapi perubahan iklim mempercepat hilangnya keanekaragaman. Kita tidak dapat mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati tanpa meningkatkan implementasi solusi iklim kita. Mereka tidak saling eksklusif,” kata Presiden COP27 Sameh Shoukry, dalam siaran pers, 17 November 2022.

Melalui inisiatif ENACT, COP27 mendorong integrasi solusi berbasis alam yang terkoordinasi dalam skala global. Tujuan inisiatif ini adalah:

  • Mendorong perlindungan dari dan ketahanan terhadap dampak iklim terhadap setidaknya 1 miliar orang rentan, termasuk 500 juta perempuan dan anak, melindungi 2,4 miliar orang
  • Mengamankan hingga 2,4 miliar hektare ekosistem pertanian alami melalui perlindungan 45 juta hektare, pengelolaan lahan berkelanjutan 2 miliar hektare, dan restorasi hutan 350 juta hektare.
  • Meningkatkan mitigasi global melalui perlindungan, konservasi, dan pemulihan ekosistem darat, air tawar, dan laut yang kaya karbon.

Untuk menyusun pekerjaan ENACT, ada delapan area fokus yang harus diidentifikasi, yaitu: ketahanan pangan dan produktivitas lahan; adaptasi & pengurangan risiko bencana; lautan dan ekonomi biru berkelanjutan; ketahanan perkotaan; infrastruktur hijau-abu-abu; solusi berbasis alam dalam strategi mitigasi nasional dan sub nasional, memobilisasi investasi swasta dalam solusi berbasis alam; solusi berbasis kesehatan, iklim, dan alam.

Lewan inisiatif ini terumbu karang mendapat sorotan. Terumbu karang merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati tertinggi dari ekosistem mana pun secara global.

Terumbu karang juga mendukung mata pencarian lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, sebagian besar di negara-negara miskin dan merupakan ekosistem yang paling terancam.

Terumbu karang Laut Merah di Mesir, misalnya, merupakan salah satu terumbu karang terakhir yang bertahan hidup di abad ke-21. Kenaikan suhu air laut akibat krisis iklim bisa menyebabkan pemutihan terumbu karang dan memusnahkan banyak spesies.

“Kita dapat meraih target Perjanjian Paris dengan ekosistem yang sehat dan kontribusi melindungi iklim,” kata Steffi Lemke, Menteri Lingkungan Federal Jerman.

Perjanjian Paris 2015 menuntut komitmen negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon untuk mencegah kenaikan suhu bumi sebesar 1,5C sebelum masa praindustri (1800-1850).

Lemke menjelaskan bahwa Jerman menganggarkan 4 miliar euro hingga 2026 untuk implementasi nasional solusi berbasis alam. Uni Eropa juga memiliki kesepakatan hijau menuju emisi nol pada 2050 dengan menginvestasikan setidaknya 20 miliar euro untuk investasi per tahun dalam melindungi 30% daratan dan lautan, pengurangan penggunaan pestisida hingga 50%, pemulihan 25 ribu kilometer sungai dan penanaman 3 miliar pohon.

Lemke mendorong adanya jembatan antara inisiatif ENACT yang diluncurkan dalam Konferensi Iklim COP27 dengan konvensi keanekaragaman hayati (CBD COP15) yang akan digelar akhir tahun ini di Montreal, Kanada. Adapun kerangka kerja yang akan dinegosiasikan dalam CBD COP15 secara konkret adalah:

  • Restorasi ekosistem berskala besar yang terdegradasi pada setidaknya 3 miliar hektare lahan dan laut,
  • Perlindungan yang efisien dan efektif minimal 30% dari luas daratan dan lautan untuk ekosistem yang tangguh,
  • Penerapan solusi berbasis alam secara luas.

Menteri Lingkungan Hidup Mesir,Yasmine Fuoad menyebutkan bahwa solusi berbasis alam memberikan kontribusi yang signifikan mengatasi perubahan iklim. "Tetapi potensi ini belum dimanfaatkan,” katanya. Dia menyatakan dukungannya terhadap insiatif ENACT yang terintegrasi dalam skala global.

Sebagai hasil utama ENACT, sekretariat akan menyusun laporan tahunan "Solusi Berbasis Alam" untuk disampaikan dalam COP menjelang pertemuan Perubahan Iklim PBB di tahun depan.

Laporan dalam COP28 di Uni Emirat Arab ini akan memberikan tinjauan kuantitatif paling komprehensif tentang kemajuan global dalam mengimplementasikan komitmen solusi berbasis alam yang diadopsi berbagai negara.

“Saya berharap dapat mempelajari lebih lanjut tentang kemajuan ENACT melalui Laporan Solusi Berbasis Keadaan Alam yang akan dibagikan pada COP28 di UEA," kata Razan Al Mubarak, Presiden IUCN.

Ikuti perkembangan terbaru COP27 di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain