Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 24 September 2022

Pencemaran Udara Lebih Berbahaya Bagi Anak Autis

Studi terbaru menyebutkan pencemaran udara meningkatkan tingkat keparahan anak dengan autisme.

STUDI terbaru menunjukkan pencemaran udara meningkatkan tingkat keparahan anak dengan gangguan autisme. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open itu menyebutkan masalah hiperaktif, agresi, dan melukai diri sendiri yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit bagi anak-anak dengan gangguan spektrum austime (ASD) bisa dicegah dengan mengurangi paparan polusi udara.

“Paparan jangka pendek pencemaran udara meningkatkan risiko anak-anak dengan ASD masuk rumah sakit,” kata Kyoung-Nam Kim, ketua tim penelitian tersebut. “Hubungan ini lebih tampak pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.”

ASD adalah gangguan perkembangan saraf dengan berbagai gejala dan tingkat keparahan tertentu. Kondisi ini sering disertai dengan peradangan saraf. Obat-obatan, suplemen, dan diet bisa mengurangi gejala inti.

ASD baru bisa didiagnosis ketika anak berusia 3 tahun. Banyak anak yang pertumbuhannya baik, tiba-tiba berhenti tumbuh pada usia tertentu dan baru diketahui memiliki ASD pada usia 3 tahun. WHO menyebutkan 1 dari 100 anak di dunia lahir dengan ASD.

Penelitian BMJ Open itu menyebutkan bahwa 1,5% penduduk Amerika Serikat dan 2,2% penduduk Korea Selatan terdiagnosis mengidap ASD. Di Indonesia ada 2,4 juta penduduk yang terdeteksi memiliki ASD pada 2018 dengan penambahan sekitar 500 orang setiap tahun.

Penelitian BMJ Open merujuk pada penelitian sebelumnya yang menyebutkan adanya hubungan antara paparan pencemaran udara jangka panjang selama kelahiran dan awal setelah kelahiran terhadap kemunculan ASD pada anak-anak.

Yang belum terjawab dari penelitian rujukan tim yang dipimpin Kim adalah apakah dalam jangka pendek pencemaran udara memperparah ASD. Temuan Kim dkk mengonfirmasi pertanyaan itu bahwa dalam jangka pendek pencemaran udara memperparah gangguan spektrum autisme.

"Sebab sistem saraf anak yang sedang berkembang lebih rentan terhadap paparan lingkungan daripada orang dewasa,” tulis laporan itu.

Para peneliti dari Institut Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Medis di Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul memakai data resmi pemerintah untuk menganalisis jumlah pasien autisme yang rawat inap di rumah sakit pada anak-anak berusia 5 hingga 14 tahun pada 2011 hingga 2015.

Mereka juga mamakai data pencemaran udara harian nasional untuk partikel halus (PM2.5), nitrogen dioksida (NO2), dan ozon (O3) di 16 wilayah Republik Korea.

Hasilnya, paparan jangka pendek terhadap PM2.5, NO2 dan O3 berkaitan dengan meningkatnya risiko rawat inap di rumah sakit untuk anak dengan gejala autisme. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa anak laki-laki berisiko menjalani rawat inap lebih besar dibanding anak perempuan.

PM2.5 adalah partikel pencemaran udara yang terbentuk secara langsung akibat pembakaran tak sempurna dari industri dan asap knalpot. Partikel PM2.5 juga dihasilkan oleh rem dan keausan ban. Namun, sebagian besar PM2.5 terbentuk secara tidak langsung dari reaksi gas polutan di atmosfer dan kombinasi sinar matahari

Dengan pelbagai kandungan tersebut, WHO menyebutkan bahwa pencemaran udara meningkatkan risiko penyakit pernapasan akut bagian bawah, infeksi, penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan kanker paru-paru. Tak hanya paparan PM yang membahayakan kesehatan, sumber pencemaran udara juga datang dari ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2).

Ozon adalah penyebab utama kabut udara kotor. Ozon di permukaan tanah berbeda dengan ozon “baik” di atmosfer. Ozon yang berlebihan di permukaan tanah bisa berdampak pada kesehatan manusia, seperti masalah pernapasan, memicu asma, mengurangi fungsi paru-paru dan menyebabkan penyakit paru-paru. Begitu pula NO2 yang bisa menyebabkan berkurangnya fungsi paru.

Para peneliti di Korea Selatan menegaskan bahwa studi untuk melihat hubungan antara pencemaran udara dan anak dengan gejala ASD yang rinci masih dibutuhkan untuk mengonfimasi hasil penelitian ini. Kim dan timnya juga berharap penelitian ini bisa mendorong kebijakan mengendalikan kualitas udara.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain