Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 23 September 2022

Penyebab Tanah Bergerak di Bogor

Tanah bergerak membuat jalan bergelombang di Desa Bojong Koneng Bogor. Dipicu hujan deras.

MUSIM Hujan datang lebih cepat. Sejak awal September ini sejumlah wilayah di Indonesia telah diguyur hujan sebelum waktunya, yang biasanya datang pada November. "La Niña dan Indian Ocean Dipole membuat curah hujan di Indonesia meningkat," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, akhir Agustus lalu. Tingginya curah hujan ini membuat tanah bergerak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tanah bergerak tersebut membuat ruas jalan di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang bergelombang. Jalan yang dibangun dari beton itu retak sehingga tidak bisa dilewati semua jenis kendaraan.

Sebanyak 246 rumah di sekitarnya juga retak bahkan dindingnya roboh. "Musala dan sekolah juga rusak," kata Abdul Muhari, Plt juru bicara BNPB, 21 September 2022. Akibatnya, 44 orang mengungsi dan memberi dampak pada 1.020 jiwa.

Berdasarkan peta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi tanah di wilayah tersebut memiliki potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. "Sementara listrik telah dipadamkan guna menghindari adanya hubungan arus pendek," kata Muhari.

Dwikorita Karnawati (2005) dalam bukunya Gerakan Massa Tanah di Indonesia, menyebutkan penyebab massa batuan atau tanah bergerak bisa dibedakan menjadi dua faktor: faktor kontrol dan faktor pemicu.

Faktor  kontrol  merupakan  faktor-faktor  yang membuat  kondisi suatu lereng menjadi rentan atau siap bergerak meliputi kondisi morfologi, stratigrafi (jenis batuan serta hubungannya dengan batuan yang lain di sekitarnya), struktur geologi, geohidrologi dan penggunaan  lahan.   

Sementara faktor  pemicu  gerakan adalah  proses-proses  yang  mengubah suatu lereng dari rentan atau siap bergerak menjadi dalam kritis dan akhirnya bergerak.

Umumnya proses  tanah bergerak meliputi  infiltrasi hujan, getaran gempa bumi atau pun kendaraan dan alat berat, serta  aktivitas manusia yang  mengakibatkan perubahan beban atau penggunaan lahan pada lereng

BNPB memperkirakan cuaca di Desa Bojong Koneng masih akan terus hujan. BNPB pun mengimbau penduduk untuk segera mengungsi, "jika terjadi hujan dalam durasi lebih dari satu jam.”

Musim hujan yang lebih awal dengan intensitas tinggi dampak dari La Niña dan IOD membuat potensi bencana di kawasan lereng perbukitan dan tebing seperti di desa Bojongkoneng meningkat.

BMKG melakukan pembaruan zona musim (ZOM) menjadi 699 ZOM sejak pertengahan tahun ini. Sebanyak 114 ZOM (16,3%) akan terdampak musim hujan lebih cepat, sejak September. Wilayah tersebut antara lain, sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi Maluku dan Papua.

Hujan lebat dan datang lebih awal membuat potensi tanah bergerak pun menjadi tinggi. Hujan salah musim adalah ciri perubahan iklim.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain