Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 25 Agustus 2022

Ketahanan Pangan dalam FOLU Net Sink

FOLU net sink perlu selaras dengan ketahanan pangan. Mudah tapi sulit.

KRISIS IKLIM berpotensi mengganggu peningkatan produksi padi Indonesia, terutama apabila musim hujan tidak terkendali. Karena itu, mitigasi perlu terus dilakukan agar swasembada pangan bisa berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang, seperti penilaian Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) pada tahun ini. Forest and other land use (FOLU) Net Sink 2030 harus berhasil untuk mengamankan swasembada pangan.

FOLU net sink adalah penyerapan gas rumah kaca sama atau lebih banyak dibandingkan dengan emisi yang dilepaskan dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. FOLU net sink menjadi kata kunci dalam pengendalian perubahan dan krisis iklim.

Indonesia berkomitmen mencapai FOLU Net Sink pada 2030. Dalam FOLU Net Sink, penyerapan GRK dari sektor kehutanan ditargetkan 140 juta ton CO2 pada 2030 dan kemudian meningkat menjadi 304 juta ton setara CO2 pada 2050.

Sektor kehutanan hendak menurunkan emisi gas rumah kaca 17,2% dari 2,87 miliar ton perkiraan emisi 2030 dalam skenario penurunan emisi nasional 29%.

Menurut dokumen nationally determined contributions (NDC) atau kontribusi nasional yang ditetapkan yang baru, deforestasi akumulatif yang diizinkan dalam skenario menurunkan emisi 29% seluas 6,8 juta hektare pada 2030. Artinya, deforestasi yang diizinkan maksimal 680.000 hektare per tahun.

Selain mencegah deforestasi, pemerintah juga hendak meluaskan areal lindung di kawasan hutan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, areal lindung akan dinaikkan dari 51,8 juta hektare menjadi 65,3 juta hektare. Juga restorasi dan reforestasi.

Dalam dokumen NDC baru, target rehabilitasi hutan tak produktif seluas 12 juta hektare dan penanaman pohon pada areal 230.000 hektare per tahun. Sementara target restorasi rawa gambut seluas 2 juta hektare dengan asumsi keberhasilannya 90%.

Untuk memastikan FOLU Net Sink tercapai, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya telah menandatangani dokumen Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Dokumen Rencana Operasional ini memandu apa yang harus dilaksanakan semua aktor secara kolaboratif.

Ada delapan kebijakan operasional FOLU net sink, di antaranya yang penting adalah pencegahan/penurunan laju deforestasi hutan, rehabilitasi hutan, pengelolaan lahan gambut dan mangrove. Realistiskah mengurangi target emisi dalam waktu 7,5 tahun lagi?

Target ini tampaknya sulit dilaksanakan kalau hanya mengandalkan unit kerja lingkup KLHK. Target pengurangan emisi karbon dalam FOLU Net Sink 2030 menjadi kurang realistis jika tidak dikolaborasikan dengan pemangku kepentingan: pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, dan masyarakat, melalui kerja program struktural, kemitraan, dan pembinaan kemasyarakatan.

Untuk meningkatkan produksi padi dalam mempertahankan swasembada beras, sebenarnya pemerintah tidak saja mengandalkan hasil produksi padi dari lahan baku sawah saja, tetapi juga dapat memanfaatkan hasil padi dari lahan kering.

Kegiatan perhutanan sosial sebagai bagian dari program reforma agraria yang memberi akses kepada masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan dapat dimanfaatkan untuk meningkat produksi padi melalui budidaya padi di lahan kering pada lahan-lahan dalam kawasan kegiatan perhutanan sosial.

Dari total target perhutanan sosial seluas 12,7 juta hektare sampai hari ini realisasinya telah mencapai 5 juta hektare. Potensinya sungguh sangat besar, dari target luas perhutanan sosial 12,7 juta hektare, 50% saja (kurang lebih 6 juta hektare) ditanami padi lahan kering dengan sistem tumpang sari akan menghasilkan padi  18 juta ton bruto (asumsi 1 hektare menghasilkan 3 ton padi) setiap kali panen.

Potensi luar biasa yang belum terpikirkan oleh Kementerian Pertanian. IPB University meluncurkan varietas padi terbaru, yaitu padi 9G IPB. Ini temuan baru IPB atas padi unggul berupa padi gogo atau padi lahan kering. Varietas padi IPB 9G memiliki potensi hasil pada lahan darat mencapai 9,09 ton per hektare dengan produktivitas rata-rata 6,09 ton per hektare. Dengan varietas baru dari IPB ini, hasil bruto padi lahan kering dari lahan perhutanan sosial dapat mencapai 36 juta ton.

Masalahnya adalah lahan yang disiapkan untuk kegiatan perhutanan sosial tidak semuanya layak untuk tanaman padi lahan kering. Di Kalimantan dan sebagian Sumatera lahan hutannya berupa rawa gambut. Perlu mitigasi dan kajian agar FOLU net sink selaras dengan ketahanan pangan atau swasembada pangan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Pernah bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bagikan

Komentar



Artikel Lain