Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|05 November 2021

Apa Itu FOLU Net Sink

Menteri Siti Nurbaya mempopulerkan istilah FOLU net sink. Apa itu?

ADA istilah yang sedang populer seiring cuitan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar tentang deforestasi dan pembangunan, yakni FOLU Net Sink 2030. Apa itu FOLU Net Sink? 

FOLU adalah singkatan forest and other land uses atau pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan. Dalam dokumen penurunan emisi atau nationally determined contribution (NDC), FOLU menjadi satu dari lima sektor program mitigasi krisis iklim.

Pada 2030, sektor ini akan menghasilkan emisi sebanyak 714 juta ton setara CO2. Pembangunan rendah karbon akan mengurangkan emisi sebanyak 17,2% dalam skenario penurunan emisi 29% dan 24,5% dalam skenario 41%.

Indonesia mengajukan proposal penurunan emisi melalui dua cara: 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan internasional. Semua persentase itu mengacu pada produksi emisi nasional pada 2030 sebanyak 2,869 miliar ton setara CO2. Sebagai gambaran, emisi sebanyak ini setara dengan emisi yang dihasilkan 900 juta mobil yang berjalan 19.000 kilometer selama setahun.

Jadi apa itu FOLU net sink atau lengkapnya FOLU carbon net sink? Carbon net sink adalah penyerapan karbon bersih yang merujuk pada jumlah penyerapan emisi karbon yang jauh lebih banyak dari yang dilepaskannya. Maka FOLU net sink adalah keadaan ketika sektor lahan dan hutan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya.

Sebagai siklus hidupnya, pohon menyerap karbon untuk mengubahnya menjadi oksigen dan glukosa melalui fotosintesis. Karbon yang ada dalam pohon akan menguap menjadi gas rumah kaca ketika ia terbakar, mati karena ditebang, atau membusuk. Deforestasi adalah penyebab 24% emisi global saat ini yang totalnya mencapai 51 miliar ton setahun.

Dalam hutan juga dikenal istilah siklus karbon hutan yang merujuk pada keadaan bergeraknya karbon secara dinamis antara atmosfer dengan hutan. Ruang antara bumi dan atmosfer akan melepaskan karbon dioksida sementara di dalam pohon sendiri terjadi penyerapan karbon. Karbon dioksida di atmosfer akan terserap oleh pohon melalui proses fotosintesis. 

Dalam negosiasi mitigasi iklim, seperti COP26 Glasgow sekarang, penyerapan CO2 dari atmosfer dikenal dengan istilah karbon negatif. Di antara lima gas rumah kaca lain, CO2 paling banyak di atmosfer. Namun, faktor penyebab pemanasan globalnya paling sedikit. Karena itu ia jadi satuan standar menghitung emisi karbon.

Jumlah karbon dioksida di atmosfer melonjak dari 280 part per million selama 10.000 tahun lalu menjadi 414,4 ppm pada akhir tahun lalu, yang menaikkan suhu 1,16C dalam tiga abad terakhir. Pemicu utama kenaikan konsentrasi gas rumah kaca ini terjadi setelah manusia menemukan mesin uap dan batu bara sebagai bahan bakar setelah Revolusi Industri di Eropa pada 1750.

Lima gas lain paling ganas menyebabkan pemanasan global. Sebab mereka adalah emisi berat yang dikeluarkan oleh energi fosil atau proses pengolahan semen. Berbeda dengan CO2 yang dinamis, emisi dari energi fosil ini terperangkap di atmosfer hingga ribuan tahun. Karena itulah gas-gas ini mengurangi kemampuan atmosfer menyerap emisi dari bumi dan menyerap panas matahari. Akibatnya bumi seperti terperangkap dalam rumah kaca tanpa pintu keluar.

Lama-lama bumi akan memanas. Pemanasan ini menyebabkan musim berubah, siklus bumi terganggu. Itulah krisis iklim.

Karena statis, emisi dari energi fosil tak terserap oleh pohon. Maka agar mitigasi krisis iklim berhasil, yakni mencegah kenaikan suhu bumi melewati 1,50 Celsius pada 2040, kita tak hanya harus mencegah deforestasi, juga secara radikal mengurangi emisi energi fosil dengan menggantinya dengan energi terbarukan.

Mencegah deforestasi akan mencegah karbon dioksida ke atmosfer, mengganti energi fosil mencegah emisi statis yang memandulkan atmosfer sebagai selubung bumi kita. Jadi, menanam pohon, rehabilitasi, restorasi saja tidak cukup sebagai pencegah krisis iklim karena ia hanya menyerap siklus karbon hutan.

Maka jika Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar hendak menggenjot pembangunan (dengan semen dan batu bara) dengan mengabaikan deforestasi, tak hanya mengecewakan sebagai pejabat yang seharusnya menjaga lingkungan dan hutan, juga bertolak belakang dengan janji-janji komitmen Indonesia dalam mitigasi krisis iklim—yang baru dipromosikan Presiden Joko Widodo di COP26 Glasgow. Apalagi ia mengatakan bahwa FOLU net sink bukan berarti nol deforestasi.

Program mitigasi krisis iklim Indonesia

Untuk mencapai FOLU net sink 2030, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan beberapa strategi, di antaranya restorasi rawa gambut 2 juta hektare hingga 2030, reforestasi, menggenjot pengelolaan hutan lestari melalui perizinan berusaha, hingga mencegah deforestasi dan degradasi lahan dan hutan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain