Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|03 Agustus 2022

Mengapa Satuan Emisi Memakai CO2?

Banyak jenis gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Mengapa karbon dioksida jadi satuan emisi?

PEMANASAN global terjadi karena terperangkapnya gas rumah kaca di atmosfer. Akibatnya, selubung bumi ini tak sanggup menyerap panas dan emisi dari aktivitas manusia di bumi dan panas matahari. Panas itu kembali ke bumi menaikkan suhu. Meski banyak gas rumah kaca penyebab pemanasan global, satuan emisi mengacu ke jumlah CO2 atau karbon dioksida.

Menurut Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB, jenis gas rumah kaca penyebab pemanasan global adalah CO2, CH4 (metana), N2O (dinitrogen oksida), HFC (hidrofluorokarbon), PFC (perfluorokarbon), dan SF6 (sulfur heksaflorida).

Perubahan iklim adalah efek dari pemanasan global yang menyebabkan anomali iklim di seluruh dunia. Dampak dari perubahan iklim salah satunya mencairnya es di kutub, ketahanan pangan yang terancam, kecemasan hidup meningkat, gelombang panas, kekeringan. Untuk mengatasinya perlu aksi ambisius mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer agar panas bumi tidak lebih dari 20 C.

Untuk mengetahui seberapa besar gas rumah kaca yang terbuang ke atmosfer perlu penghitungan emisi. Perhitungan emisi menggunakan satuan setara CO2 yang acap ditulis sebagai equivalent dengan lambang CO2e. Kenapa demikian?

Selain karena jumlahnya paling banyak di atmosfer, menurut Aswin Rahadian, peneliti IPB University, ada lima alasan mengapa karbon dioksida menjadi tolok ukur satuan emisi global?

Pertama, diperkirakan 50% dari bobot kering makhluk hidup (hewan, tumbuhan, atau manusia) adalah karbon.

Kedua, CO2 adalah gas yang esensial untuk proses fotosintesis tumbuhan.

Ketiga, CO2 merupakan gas rumah kaca utama yang terlepas ke atmosfer melalui aktivitas manusia.

Keempat, sebagian besar kenaikan konsentrasi CO2 berasal dari penggunaan bahan bakar fosil dan menjadi sumber emisi terbanyak.

Kelima sekitar 150 tahun lalu, 25% peningkatan CO2 disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan.

Jika mengacu pada nilai potensi pemanasan global, CO2 digunakan sebagai nilai kesetaraan untuk mengukur gas rumah kaca yang memanaskan bumi. Konsentrasi CO2 bertahan di atmosfer dalam rentang 100 tahun ketika diukur selalu mendapatkan nilai 1. Menurut Aswin, patokan ini akan mempermudah perhitungan atau konversi dari gas rumah kaca lain.

Satuan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer adalah part per million atau bagian per juta. Per 1 Agustus 2022, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer sebanyak 414,5 ppm. Artinya, jika kita mengiris satu kotak udara berisi 1 juta molekul, satu iris itu berisi 414,5 molekul CO2.

Pada sektor penggunaan lahan, karbon bisa diukur melalui mekanisme fotosintesis tumbuhan. Tumbuhan memakai CO2 dalam proses fotosintesis menghasilkan energi, oksigen, dan air.

Tumbuhan akan memakai energi untuk tumbuh, sehingga setiap karbon yang diserap dari atmosfer oleh tumbuhan akan disimpan dalam bentuk tubuh tumbuhan (akar, batang, ranting, daun) atau yang sering dikenal dengan istilah biomassa.

Biomassa bisa dihitung dengan cara mengurangi seluruh unsur yang ada dalam tubuh tumbuhan dengan air. Untuk menghilangkan air, peneliti karbon biasanya mengeringkannya di oven dalam suhu tinggi memakai pendekatan alometrik.

Lihat: Cara Menghitung Karbon

Penghitungan biomassa sangat penting untuk menduga stok karbon pada suatu lahan yang akan disetarakan dengan penyerapan CO2 di atmosfer. "Pengukuran biomassa adalah pengukuran karbon tersimpan yang menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap oleh tumbuhan,” ujar Aswin.

Dengan demikian, perubahan lahan seperti konversi hutan menjadi pertanian atau perkebunan akan menghentikan aliran CO2 yang diserap pohon. Artinya, ada pelepasan emisi ke atmosfer. Karbon yang terlepas pun menjadi gas rumah kaca.

Usaha mengurangi emisi dapat dihitung dengan mengalikan luas lahan yang berubah dengan cadangan karbon. Hasilnya dikurangi emisi yang dikeluarkan sebelum usaha menurunkannya.

Keterukuran usaha penurunan emisi sangat penting untuk menentukan keberhasilan suatu kegiatan menurunkan emisi karbon. Dari sini muncul biaya dalam jasa menurunkan emisi yang akan menjadi dasar dalam perdagangan karbon berbasis lahan. Jika tidak ada patokan penyerapan emisi karbon, perdagangan karbon tidak memiliki patokan satuan emisi untuk menentukan harganya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain