Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 22 Juli 2022

Mengenal DAS atau Daerah Aliran Sungai

Kita sering mendengar istilah DAS, daerah aliran sungai. Apa itu?

KATA DAS sering muncul dalam tulisan-tulisan di media massa, acara-acara seminar, maupun obrolan-obrolan, terutama ketika temanya soal banjir, kekeringan, longsor. Sebab semua itu berkaitan dengan rusaknya DAS. Jadi apa itu DAS atau daerah aliran sungai? 

Hendrayanto, dosen Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, menerangkan bahwa DAS adalah istilah baku dalam bidang hidrologi. DAS dalam bahasa Inggris disebut "watershed".

DAS merupakan bentang alam, lahan yang dibatasi oleh topografi pemisah aliran sungai berupa punggung-punggung bukit. Apabila hujan airnya akan mengalir ke satu titik patusan (outlet) di laut atau bermuara di laut. Apabila dilihat secara tiga dimensi dari mulai hulu ke muara, DAS berupa cekungan-cekungan yang saling terhubung dan berakhir di di laut. Cekungan-cekungan di dalam DAS disebut sub-DAS. 

Bentang alam dan lahan daratan terbagi habis menjadi DAS. Apabila kita berada di suatu tempat di daratan, pasti kita berada di salah satu DAS. Daratan yang itu termasuk ke dalam jaringan sungai dan jaringan drainase lainnya, kolam, waduk, dan ekosistem perairan lainnya, selain laut.

Jumlah DAS di Indonesia lebih dari 17.000. DAS tidak sama dengan bantaran sungai, atau daerah kiri-kanan sungai atau wilayah sepanjang aliran sungai. 

DAS merupakan unit kajian hidrologi permukaan (hydrological unit) yang berinteraksi dengan unit hidrologi lainnya, yaitu hidrologi air tanah (groundwater unit) atau cekungan air tanah (groundwater basin).

DAS juga menjadi unit pengelolaan sumber daya alam seperti di Tennessee Valley yang dikelola oleh Tennessee Valley Authority (TVA) di Amerika Serikat. "Menjadi Unit Perencanaan Pembangunan Wilayah yang populer sebagai Pengelolaan DAS Terpadu (Integrated Watershed Management)," kata Hendrayanto pada 19 Juli 2022.

DAS tidak dibatasi oleh batas wilayah kewenangan administratif pemerintahan, seperti batas desa, kabupaten, provinsi. DAS mencakup wilayah administrasi pemerintahan.

Satu DAS bisa mencakup satu atau lebih wilayah adminstrasi pemerintahan, atau wilayah administrasi pemerintahan berada di satu atau lebih DAS. Sebagai contoh, DAS Ciliwung mencakup dua wilayah provinsi (Jawa Barat dan DKI Jakarta), delapan kabupaten-kota (Kabupaten-Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota-Kota di Provinsi DKI Jakarta). Wilayah Kabupaten Bogor sebagian besar masuk ke dalam DAS Cisadane, bagian lainnya berada di DAS Cidurian, Cimanceuri, Angke, Ciliwung, Kali Bekasi, Citarum

Di dalam suatu DAS terdapat ekosistem daratan, ekosistem perairan darat, dan sistem sosial yang saling berinteraksi. Bahkan di dalamnya ada sumber daya, baik alam maupun buatan, yang diperlukan bagi pemenuhan hidup manusia dan pengembangan sosial-ekonomi, dan sosial-budaya masyarakat.

Secara fisik, posisi relatif wilayah DAS sering dibagi menjadi DAS bagian hulu dan DAS bagian hilir. DAS hulu dan hilir ini saling terhubung melalui perilaku air (hydrological behaviour).

Masing-masing bagian tersebut sering memiliki ciri khas biogefisik-sosial. Biogeofisik daerah hulu umumnya berupa lereng curam hingga sangat curam dengan kemiringan lebih dari 25%. Kerapatan drainase juga relatif lebih tinggi. Hidro-geologi sebagai daerah resapan (recharge aquifer) dan muka air tanah lebih dalam, biasanya berpenutup vegetasi rapat, umumnya bukan merupakan daerah banjir.

Sementara biogeofisik daerah hilir dicirikan oleh lereng datar- hingga andai dengan kemiringan kurang dari 25%. Biasanya kerapatan drainase relatif lebih rendah, muka air tanah lebih dangkal, berpenutup vegetasi jarang, jenis vegetasi berupa tanaman pertanian, kecuali daerah estuarian yang berupa hutan bakau/gambut. Lahan umumnya didominasi daerah torbagun karena berpotensi banjir lebih tinggi. 

Meski DAS bisa menggambarkan hubungan antar wilayah (hulu-hilir), kewenangan pengelolaannya kompleks karena melibatkan multipihak: pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupate-kota, desa, juga berbagai sektor. Juga sistem sosial yang beragam terutama di DAS yang luas seperti DAS Kapuas, Ciujung, Citarum, Solo, Brantas, Batanghari Kampar, Musi, Membramo.

Pengelolaan DAS, karena itu, perlu koordinasi yang solid. Tanpa koordinasi, pengelolaan DAS akan centang perenang yang membuat dampak-dampaknya, seperti banjir, kekeringan, longsor, akan membahayakan lingkungan dan manusia.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain