Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|28 Juni 2022

Faktor Meteorologi Pencemaran Udara Jakarta

Kualitas udara ibu kota memburuk. Faktor meteorologi memperarah pencemaran udara Jakarta.

KUALITAS udara Jakarta kian memburuk. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) konsentrasi PM2,5 sebagai salah satu indikator pencemaran udara Jakarta pada 15 Juni 2022 mencapai 148 µg/m3 yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Apa penyebab pencemaran udara Jakarta?

Ana Turyanti, dosen pencemaran udara Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, ada dua penyebab pencemaran udara Jakarta: emisi lokal dan emisi lintas batas (transboundary pollution).

Emisi lokal adalah emisi yang menguap di suatu daerah administrasi, seperti Jakarta. Sementara emisi lintas batas adalah emisi yang datang dari luar batas administrasi suatu daerah. Emisi lintas batas Jakarta adalah emisi dari kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Transportasi menjadi sumber utama emisi lokal di Jakarta. Berdasarkan data Korps Lalu Linta Polri Porli tahun 2021, kendaraan berpelat nomor Jakarta mencapai 22 juta unit atau sekitar 14,87% dari total kendaraan bermotor di Indonesia. Belum lagi sumber emisi yang berasal dari kegiatan industri yang membuang polutan ke udara.

Setelah emisi keluar dari sumbernya, kualitas udara selanjutnya dipicu oleh faktor meteorologi. Arah angin, curah hujan, stabilitas atmosfer adalah faktor meteorologi yang menentukan kualitas udara. Letak geografis juga turut mempengaruhi.

Letak geografis Jakarta berupa dataran rendah tepi pantai yang berbentuk teluk. Hal ini, kata Ana, membuat angin tidak hanya bergerak satu arah saja, seperti dari utara ke selatan atau sebaliknya, namun bergerak dari berbagai arah. “Jika musim kemarau angin bergerak dari arah timur dan timur laut lalu ketika musim hujan dari arah barat dan barat laut,” kata Ana pada 27 Juni 2022.

Dari pemodelan arah angin yang pernah ia buat, Ana melihat arah angin di musim kemarau cenderung membawa PM2,5 yang cukup tinggi ke wilayah Jakarta. Hal itu disebabkan karena di wilayah timur dan timur laut Jakarta ada banyak kawasan industri seperti di Cikarang dan sekitarnya. “Kecepatan angin bisa menjadi indikator sumber emisi dari lokasi lain,” kata Ana.

Pada musim penghujan, ketika angin bergerak dari barat dan barat laut, udara cenderung tidak membawa PM­2,5 yang banyak walau di wilayah tersebut juga ada kegiatan industri. Hal itu menjelaskan bahwa faktor curah hujan berpengaruh terhadap kualitas udara di Jakarta. Saat curah hujan tinggi, PM­2,5 tercuci sehingga kualitas udara di Jakarta bisa lebih baik.

Stabilitas atmosfer yang ditentukan oleh radiasi dan kelembaban juga akan mempengaruhi konsentrasi PM2,5­ di udara. Radiasi masuk memanaskan permukaan, menaikkan suhu udara, membuat atmosfer tidak stabil, hingga menaikkan polutan dari permukaan.

“Suhu turun akan menurunkan difusi partikel sehingga menaikkan konsentrasi PM2.5," kata Ana. "Kondensasi sebagai akibat dari kelembaban yang tinggi juga bisa meningkatkan konsentrasi PM2.5

Konsentrasi PM­­2,5 ­di Jakarta pun berfluktuasi. Pada pertengahan Juni lalu, kualitas udara Jakarta paling buruk di dunia. Berdasarkan data fluktuasi PM2,5 ­per jam dari 1-24 Juni 2022, konsentrasi PM2,5­ Jakarta sekitar 200 µg/m3. Angka ini disebut kualitas buruk udara Jakarta.

Data diambil dari lima stasiun pengamatan menunjukkan konsentrasi PM2,5 tidak spesifik berasal dari emisi lokal. "Sehingga bisa dibilang ada pengaruh dari sumber emisi lain yang berdampak secara menyeluruh,” kata Ana.

Jika melihat pola konsentrasi PM­­2,5­ dari bulan ke bulan pada 2021, setiap Juni dan Juli konsentrasinya naik karena musim kemarau. Hal itu menandakan peran faktor meteorologi yang besar dalam memicu atau penyebab kualitas udata Jakarta buruk. “Karena faktor meteorologi tidak bisa kita kontrol," kata Ana. "Kita bisa mengontrol sumber emisinya."

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain