Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 28 Juni 2022

Sulitnya Membasmi Wabah PMK

 Pemusnahan ternak yang terinfeksi PMK merupakan cara paling efektif membasmi wabah penyakit mulut dan kuku.

KASUS pertama wabah PMK atau penyakit mulut dan kuku yang terekspos terjadi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Setelah dua bulan, ratusan ribu ternak di 19 provinsi di Indonesia terpapar penyakit ini. Wasito, guru besar Fakultas Kedokteran Hewan dari Universitas Gajah Mada, mengatakan Kementerian Pertanian telat bertindak menangani PMK. Sehingga, kata dia, kini membasmi wabah PMK menjadi lebih sulit.

“Seharusnya sudah lockdown total sejak kasus pertama ditemukan," kata Wasito pada 24 Juni 2022. "Ternak yang terinfeksi dimusnahkan sejak awal. Jika ini dilakukan sejak awal, PMK bisa langsung hilang."

Wasito merujuk pada pengalaman negara bagian California di Amerika Serikat yang sukses menanggulangi PMK pada 1929. Pada masa itu, pemerintah setempat langsung memusnahkan 3.600 ternak yang terpapar PMK. Wabah PMK pun hilang dalam sebulan.

Ketika kasus pertama PMK ditemukan, seharusnya pemerintah segera tanggap dengan melakukan penguncian wilayah atau lockdown untuk mencegah lalu lintas ternak. Lima kilometer dari pusat wabah, kata Wasito, harus ada larangan keluar-masuk barang. "Lockdown total,” katanya.

Pengawasan untuk orang yang keluar masuk harus dilakukan secara ketat dan terbatas. Bahkan untuk sepatu dan baju yang dipakai manusia yang bepergian ke daerah wabah harus disemprot dengan disinfektan.

Lalu semua ternak hewan berkuku genap pada jarak 10 kilometer dari pusat wabah, mengikuti pengetesan molekuler dan serologi untuk mengetahui paparan virus PMK. “Jika terpapar, harus dimusnahkan,” kata Wasito. Menurut dia, pemusnahan ternak sejak awal adalah bentuk ketahanan hayati (biosecurity) yang paling efektif.

PMK merupakan penyakit pada hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, kerbau, babi yang sangat mudah menular. Virus PMK bisa menular melalui kontak langsung, kontak tidak langsung, lewat benda-benda, dan udara. Penyakit ini bersifat akut, menetap, dan belum ada obatnya.

Penanganan PMK harus dilakukan secara cepat agar tidak meluas. Penularan PMK di 19 provinsi di Indonesia dalam dua bulan mencerminkan kekacauan penanganan pandemi ternak ini.

Menurut Wasito, saat ini terlalu banyak organisasi yang membentuk satgas PMK. Dari kementerian, asosiasi profesi, fakultas universitas, universitas, sehingga penanganan PMK menjadi tidak fokus dan semrawut. "Tidak ada yang mengkoordinasikan secara top-down," kata Wasito.

Pembentukan Satuan Tugas PMK dalam skala nasional seharusnya mengacu pada penanganan Covid-19. Wasito berharap adanya acuan tindakan, jadwal vaksin dan target vaksinasi serta penanggulangan PMK yang terarah kepada semua pemangku kepentingan.

Sebelum pemberian vaksin kepada ternak, menurut Wasito, perlu ada investigasi untuk melacak penyebaran virus pada ternak ini. Sebab, fungsi vaksin PMK adalah melindungi hewan yang belum terpapar. Vaksin akan mubazir jika disuntikkan kepada ternak yang sudah terinfeksi virus. Karena itu, vaksinasi mestinya fokus pada daerah yang belum terpapar.

Sementara di daerah wabah, pelacakan virus untuk memastikan infeksi. Virus PMK bersifat akut dan menetap. "Hewan yang tampak sehat, bisa jadi sebenarnya sudah terpapar virus," kata Wasito.

Vaksin menghasilkan antibodi. Namun, antibodi juga bisa dibentuk oleh protein virus. Sehingga, setiap ternak harus diperiksa untuk memastikan asal usul antibodi. Menurut Wasito, vaksin menghasilkan antivirus, bukan protein virus.

Vaksin juga harus diberikan secara berkala, enam bulan, 12 bulan, bahkan bisa seumur hidup. Wasito mengkritik vaksin impor. Soalnya, kata dia, vaksin harusnya diambil dari sampel daerah endemik untuk menyesuaikan dengan sifat virus. Sebab, virus juga bermutasi antar daerah. Karena itu sampel untuk vaksin lokal pun mesti diambil di seluruh provinsi yang terkena wabah. 

Tak hanya kepada sapi, kambing, domba, kerbau, babi juga mesti mendapatkan vaksin. Bukan hanya ternak, tetapi juga satwa liar. Sejauh ini, PMK sudah menginfeksi 16 ekor babi. Menurut David Quammen dalam Spillover: Animal Infections and the Next Human Pandemic, virus PMK pada babi menular lebih cepat karena jumlah virusnya 30 kali lebih banyak dibanding PMK pada sapi.

Belum ada obat PMK. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi asimtomatik—untuk menghilangkan gejala, dan terapi suportif—untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Setelah pengobatan, sapi akan tampak sehat. “Virus kalau ditekan hingga 50 persen akan tampak normal. Tapi pada faring dan mulut, hipersaliva akan tetap ada.”

Jika ternak yang terpapar PMK sampai mati, penguburan harus dilakukan pada kedalaman 1,5 meter setelah jasadnya disemprot disinfektan. Sebab, virus masih menempel pada lendir pernafasan hewan yang mati. Untuk memastikan virus benar-benar hilang, jasad hewan mati mesti dibakar.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain