Reportase | Januari-Maret 2019

Salju di Berlin

Cuaca ekstrem di Jerman dalam dua tahun terakhir. Perubahan iklim itu nyata adanya.

Bagja Hidayat

Mengelola blog catataniseng.com

DI Hamburg, cuaca bisa berubah tiba-tiba seperti bajaj belok. Pertengahan Desember 2018 saya mengunjungi kota pelabuhan ini untuk sebuah kunjungan kerja. Ketika saya tiba, hujan turun renyai, semesta hanya cahaya. Tidak sampai kuyup tapi membuat jaket lumayan basah. Udara cukup hangat untuk ukuran negara di Eropa.

Saya tiba pada hari Minggu sehingga kota industri yang padat penduduk ini sepi seperti tak berpenghuni. Di jalan hanya ada bus beberapa. Mobil-mobil pribadi tak terlihat di jalan-jalan besar. Toko-toko tutup dan trotoar sunyi. Saya menilai Hamburg kota yang asyik: ngungun kelabu dengan cuaca yang tak ekstrem.

Tiap-tiap mengunjungi kota yang asing kita akan merasakan sensasi pertama ketika menginjakkan kaki sekeluar dari bandara. Saya merasa feel at home di Hamburg. Mungkin karena dulu pernah tinggal di Kyoto, kota para orang tua yang sepi, selow, tak terlalu dingin dengan sejarah panjang Jepang yang terekam dalam sungai dan kuil-kuilnya yang tua. Hamburg seperti Kyoto. Tak seperti San Fransisco atau Las Vegas yang asing, yang kapitalis, yang petugas imigrasinya tertawa mengejek begitu membaca paspor dari Indonesia.

Jadi, agaknya dalam kunjungan 10 hari itu, saya akan betah di Hamburg. Cuacanya, ketika tiba di bandara lalu naik kereta bawah tanah sambung dengan bus, cukup bersahabat bagi kulit orang tropis ini. Sekitar 9-10 derajat Celsius. Jadi dengan memakai jaket parka dan sal, saya bisa berjalan kaki jika tujuan-tujuan kunjungan tak terlalu jauh.

Maka, hari itu saya memutuskan jalan kaki setelah keluar stasiun bawah tanah dan turun di stasiun bus terdekat ke Universitas Hamburg. Saya ketinggalan bus, sementara bus berikutnya telat delapan menit dari jadwal yang tertera di papan waktu di halte. Jarak ke universitas itu sekitar tiga kilometer, tak terlalu jauh, jika dibandingkan dengan jarak joging saya tiap pagi yang dua kali lipatnya dalam setengah jam. Setelah mengecek ulang cuaca hari itu di telepon, saya meyakinkan teman perjalanan agar jalan kaki saja. Suhu Hamburg 11 derajat dengan perkiraan hujan kecil pada siang.

Hamburg kota yang rapi. Orang-orangnya tertib. Setidaknya terlihat ketika mereka hendak menyeberang jalan. Tak ada yang menerabas tengah jalan atau tengok kiri-kanan melihat jalan kosong lalu mencelat ke seberang. Semua orang menyeberang di tempatnya. Berdiri menunggu lampu jalan hijau. Para pengendara juga berhenti jauh dari garis zebra cross. Beradab sekali.

20190311153338.jpg

Tentu saja setelah membandingkannya dengan Berlin. Di Ibu Kota Jerman ini orang bisa tiba-tiba berlari ke tengah jalan menyeberang ketika jalan penuh kendaraan. Mereka tak mau repot mendatangi pelican cross untuk menunggu lampu hijau dalam cuaca dingin bulan Desember. Mungkin karena Berlin lebih kosmopolitan dibanding Hamburg. Para imigran juga lebih senang datang ke Berlin dibanding kota lain di Jerman.

Tiba-tiba, ketika sedang khusyuk berjalan sambil melihat lalu-lalang kendaraan dan gedung-gedung tua yang megah dan menjulang, saya merasakan telinga pengeng. Semakin jauh berjalan dari halte semakin terasa beku. Ketika saya raba, daun telinga seperti es, basah, dingin, membeku.

Kacamata juga berembun. Saya baru sadar orang lain ternyata setengah berlari di kaki lima. Ketika menyingkir ke halte bus dan memeriksa telepon, di sana tertera suhu 2 derajat Celsius. “Wow, cepat sekali turunnya,” kata seorang teman perjalanan. “Begitulah di Hamburg,” kawan dari Jerman, asal Bonn, menimpali.

Kaki jadi terasa kaku ketika kami akan meneruskan perjalanan karena waktu kian mepet ke waktu janji bertemu dengan seorang profesor ahli kajian media. Karena jarak tinggal satu kilometer lagi, kami memutuskan terus berjalan kaki, tidak naik bus yang belum tiba dari jadwal seharusnya. Selama menempuh sisa perjalanan itu saya menggigil dalam dingin. Sarung tangan, sal, penutup kepala jaket parka, tak sanggup mencegah udara yang masuk ke tubuh dan angin kencang yang menampar kulit pipi.

Kami berjalan dengan gegas dalam diam. Teman dari Bonn itu juga diam dengan mata melihat Google Maps di layar teleponnya. “Tinggal satu belokan lagi,” katanya. Kami terus berjalan sampai bertemu kantin kampus. Profesor itu ingin bertemu sambil makan siang. Saya buru-buru masuk ke restoran itu untuk menghirup udara hangat. Di dalam restoran orang penuh. Mungkin dengan tujuan sama: mencari makan siang sambil menghangatkan tubuh.

Saya memesan cappuccino. Dingin ini harus dienyahkan dengan segelas kopi. Tak enak mengobrol bersama orang baru kenal dengan tubuh menggigil dan bibir yang beku. Dua teguk kopi hangat Italia itu serasa memecah kebekuan kerongkongan dan menghangatkan bibir yang mulai pecah.

Menurut Matthias Wichert, teman dari Bonn yang berusia 32 tahun itu, cuaca Jerman memang berubah akhir-akhir ini. Salju turun tak merata. Di Hamburg, Bonn, Berlin, Koln, atau Frankfurt, salju belum turun menjelang Natal. Padahal kota-kota itu ada di selatan Jerman, daerah pegunungan. Padahal pasar-pasar Natal sudah bertebaran di pusat-pusat kota menyuguhkan minuman yang muncul sekali setahun menjelang 25 Desember: gluhwein—anggur hangat yang asam karena dicampur jeruk dan rum.

20190311153232.jpg

Kantor Berita Deutsche Welle melaporkan setengah bulan sebelum saya tiba di Hamburg, salju di pegunungan bahkan sudah menipis. Mereka melaporkan suhu dari Zugspitze, pegunungan tertinggi di Jerman di selatan Bavaria. Di sana, salju biasanya sudah turun deras sejak September. Tapi pada akhir November 2018, para petani keluar rumah bahkan memakai kaos dan turis berjalan dengan jaket tipis yang dibuka kancingnya.

Toni Zwinger, petani yang membuka toko saus dan lahir-besar di Zugspitze, mengatakan bahwa cuaca terus berubah dibandingkan 30 tahun lalu. Ia memperkirakan salju berkurang 25 persen di puncak-puncak gunung sepanjang periode itu. “Ini tahun terpanas selama 25 tahun,” katanya.

Dari catatan di Statista.com, tahun 2018 memang tahun terpanas di Jerman dalam sepuluh tahun terakhir. Rata-rata suhu selama 365 hari dalam setahun itu 10,4 derajat Celsius. Tahun-tahun lain biasanya rata-rata suhu di Jerman berkisar antara 9,6-9,8 derajat.

Para peneliti datang ke Zugspitze untuk meneliti perubahan cuaca itu. Mereka menyimpulkan suhu di pegunungan ini naik 1 derajat Celsius sejak 1985. Pada Januari, waktu terdingin di Jerman, tahun itu suhunya bisa minus 20 derajat Celcius. Januari lalu, di pegunungan ini suhu paling rendah saja hanya minus 5 derajat. “Perubahan iklim nyata terjadi di sini,” kata Michael Krautblatter, profesor dari Munich’s Technical Unversity.

Ahli lain meneliti curah hujan di hutan-hutan Bavaria. Harald Kunstmann, profesor dari University of Augsburg, mengatakan bahwa es dari langit itu tak sempat membeku ketika melewati atmosfer bumi. Mereka terkena panas karbon yang terperangkap di sana lalu turun menjadi hujan. Perubahan ini, kata Harald, bisa mengubah konstelasi cuaca dan bencana. Sebab volume hujan yang naik jumlahnya bisa memicu banjir ketimbang unggun-timbun salju.

Perubahan salju menjadi air itulah yang terjadi di beberapa kota di Jerman. Seperti di Hamburg atau Bonn atau Berlin, hujan tak lagi sekadar gerimis. Hujan agak deras hingga tembus ke jaket yang tebal. Dan waktunya tak menentu, bahkan bisa mengelabui prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika setempat. Cuaca bisa turun tiba-tiba tanpa pemberitahuan.

Tapi sebulan setelah DW membuat laporan cuaca Zugspitze, Berlin dilanda hujan salju yang parah. The Guardian pada 11 Januari 2019 melaporkan bahwa 11 orang tewas akibat kecelakaan karena cuaca ekstrem. Beberapa terperangkap di dalam mobil akibat suhu dingin dan salju yang deras. Pemerintah Jerman bahkan menetapkan kawasan Bavaria dengan status darurat dan mengirimkan 300 tentara ke tiga distrik di sana untuk menolong 350 penduduk yang terjebak salju.

Ketebalan salju di Bavaria mencapai 1,5 meter, mengubur rumah, stasiun kereta, perkantoran, hingga mobil yang terjebak di jalanan. Pemerintah menutup kantor karena jalanan tertutup salju dan pepohonan yang tumbang. Sekitar 100 penerbangan dari Frankfurt dan Munich dibatalkan dengan alasan cuaca buruk. Beberapa kecelakaan terus dilaporkan bertambah akibat pohon tumbang dan badai salju di beberapa wilayah Jerman.

20190311153306.jpg

Alina Jenkins, prediktor BBC Weather, mengatakan bahwa cuaca buruk akan terus menghantam Jerman, Austria, Turki, Balkans dalam beberapa bulan ke depan. Saya membaca berita-berita dua pekan kemudian. Saya mengirim pesan kepada Matthias untuk bertanya kabar dan turut berduka dengan berita buruk dari Jerman akibat cuaca yang ekstrem tersebut. “All good here,” katanya. “Di Jerman sudah hangat.” Diikuti emoticon tertawa.

Lho, kok bisa? “Ya, tidak biasa,” katanya. Dia mengabarkan pagi di Bonn bersuhu dua derajat Celsius tapi siang bisa 16-17 derajat. Bagi orang Jerman, suhu yang menyenangkan bagi orang Indonesia karena setara dengan suhu di Puncak, Bogor, itu lumayan panas. Di Jerman, kata dia, bulan Februari memang selalu hangat. Suhu terpanas bulan Februari di Jerman terjadi pada 29 Februari 1960 yang mencapai 22,3 derajat Celsius di Kempten. “Tapi di kota yang sama pada 21 Ferbruari 1956 tercatat suhu terdingin, minus 23,8 derajat,” katanya. “Temperatur fluktuatif sejak 1950.”

Di Bonn, kata Matthias, salju turun dua hari pada dua pekan lalu atau akhir Januari 2019. Setelah itu cuaca cerah dan kering. Sewaktu saya di sana, cuaca Bonn mirip dengan di Hamburg: hangat sebentar lalu dingin tiba-tiba dan hujan gerimis yang mempercepat kelam dan mempercepat langkah orang-orang, menghindari cuaca yang anjlok tanpa pemberitahuan. “Maret mungkin akan drop kembali,” kata Matthias.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain