Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 12 Juni 2022

Apa Pentingnya Harimau Sumatera?

Dua harimau Sumatera yang lahir dan besar di penangkaran dilepaskan ke alam liar. Pertama di dunia.  

BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melepaskan dua harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ke alam liar. Pelepasan ini istimewa karena kedua harimau itu lahir dan besar di penangkaran Suaka Margasatwa Barumun. Surya Manggala (jantan) dan Citra Kartini (betina) yang berusia 3,5 tahun dilepaskan ke hutan Taman Nasional Kerinci Seblat pada 7-8 Juni 2022.

"Semoga kedua harimau ini bisa bertahan hidup di habitatnya, berkembang biak dan tetap lestari di alam liar," kata Pelaksana Tugas Kepala BBKSDA Sumatera Utara Irzal Azhar kepada Forest Digest.

Sebelum dilepaskan, kedua harimau Sumatera tersebut dipasangi GPS Collar untuk memantau pergerakannya selama dua tahun ke depan. Jika dalam satu bulan kedua atau salah satu harimau ini mendekati desa atau perkampungan, tim Balai BKSDA akan turun dan menghalaunya.

Pada satu bulan pertama, GPS akan mengirimkan lokasi koordinat harimau setiap dua jam. Setelah itu, GPS hanya akan mengirimkan lokasi koordinat setiap 6 jam.

Menurut Irzal, daya jelajah harimau yang bisa mencapai 350 kilometer persegi ini akan dipelajari dengan melihat data lokasi koordinat mereka. Wataknya yang tak liar karena lahir dan besar di penangkaran, membuat data ini penting untuk pemantauan instingnya. Setelah dua tahun, baterai yang memancarkan lokasi akan habis dan GPS Collar akan terlepas otomatis.

Sebelum dilepaskan, kedua harimau ini dipantau perilakunya di kandang habituasi selama tiga bulan. “Ada perlakuan dengan melepaskan babi hutan yang lincah untuk mengecek apakah harimau bisa memangsanya,” kata Irzal. Kontak dengan manusia juga diminimalkan. Pengecekan kesehatan dan pengambilan sampel dilakukan dengan membius harimau dan menutup matanya.  

Surya Manggala dan Citra Kartini seharusnya dilepas pada saat mereka berusia 2 tahun. Namun, dokter hewan menyarankan pelepasan ditunda karena insting liar keduanya belum terlalu tumbuh.

Selama sekitar 3,5 tahun, kata Irzal, kedua harimau ini dirawat secara alami bersama induknya dan diberikan pakan hidup secara rutin berupa babi hutan, kelinci, dan ayam liar. Selain itu perilaku alaminya juga diamati secara teratur melalui CCTV. Dengan kondisi seperti ini, kedua harimau dikondisikan tumbuh dan besar secara alami di dalam kandang yang minim campur tangan manusia.

Orang tua Surya Manggala dan Citra Kartini ada harimau Sumatera yang diselamatkan BBKSDA dari jerat aring. Induknya, Gadis (10 tahun) diselamatkan di Taman Nasional Batang Gadis pada 2017. “Jerat aring sudah melukai hingga ke tulang, sehingga salah satu kakinya terpaksa diamputasi,” kata Irzal.

Sementara ayahnya, Monang (9 tahun) diselamatkan setelah terjerat di sebuah desa di kawasan Parmonangan pada 2018. Monang terikat, namun lukanya tidak separah Gadis. Kondisinya pulih setelah menjalani perawatan.

Suaka Margasatwa Barumun merupakan suaka yang dibangun untuk mengelola, merawat, dan merehabilitasi harimau, baik yang korban konflik, sakit maupun individu yang akan dilepaskan. 

Dengan dilepaskannya dua harimau, saat ini hanya ada lima individu harimau Sumatera di SM Barumun.

Menurut Irzal, kondisi kedua harimau Sumatera sangat prima saat akan dilepaskan. Berat badan Surya Manggala mencapai 122 kilogram, dengan tinggi 75 sentimeter dan panjang 251 sentimeter. Sementara Citra Kartini beratnya 88 kilogram, tinggi 72 sentimeter dan panjang 240 sentimeter.

Kedua harimau Sumatera ini dimasukkan ke dalam kandang angkut dan dibawa melalui jalur darat dari SM Barumun Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) melalui Kota Padang Aidimpuan, Panyabungan, Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Solok, Surian, Sungai Penuh (Jambi) menuju Bandara Depati Parbo.

Jarak dari SM Barumun sampai bandara mencapai 636 kilometer dan memakan waktu 24 jam. Selama dalam perjalanan kedua harimau Sumatera ini selalu dimonitor oleh Tim BBKSDA Sumatera Utara yang dipimpin oleh Gunawan Alza. S. Hut dan Tim Medis yang dipimpin drh. Anhar Lubis.

Pada 7 Juni 2022, Surya Manggala diangkut helikopter ke zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Akses menuju zona inti TNKS terbilang sulit sehingga harus melalui udara. Pukul 10.30, harimau jantan ini dilepaskan. Namun, ketika hendak melepaskan Citra Kartini, cuaca mulai berubah. “Kabut turun dan mulai hujan,” kata Irzal. Sehingga pelepasan ditunda hingga hari berukutnya.

Citra Kartini dilepaskan pada 8 Juni 2022 di zona inti TNKS yang berbeda lokasi dengan Surya Manggala. Ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan inbreeding atau kawin antar kerabat yang bisa mengurangi kualitas genetik harimau Sumatera. Pemilihan lokasi zona inti sebagai lokasi pelepasan harimau merupakan hasil dari kajian yang dilakukan Taman Nasionak Kerinci Seblat dengan SINTAS Indonesia, LSM yang berfokus pada advokasi harimau.

Kajian itu salah satunya menggunakan perangkat lunak Maximum Entropy (MaxEnt) untuk memprediksi lokasi pelepasan yang sesuai. Kajian lapangan juga dilakukan oleh tim Balai Besar TNKS dan sejumlah mitra. Lokasi inti, selain jauh dari permukiman masyarakat, ekosistem hutannya juga ideal bagi rumah harimau. “Tidak banyak pilihan untuk melepaskan harimau Sumatera di habitat aslinya,” kata Direktur Sintas, Hariyo Wibisono.

Menurut Hariyo, habitat alami yang paling sesuai untuk harimau Sumatera saat ini hanyalah TNKS dan Taman Nasional Gunung Leuser. Tapi dia lebih condong ke TNKS. Wilayah Gunung Leuser 60% datarannya berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Harimau memang bisa hidup hingga ke ketinggian 3.200 mdpl. Tapi, kata Hariyo, habitat itu tidak optimal buat Harimau. “Berdasarkan penelitian kami, biasanya mereka akan turun ke dataran di bawah 1.000 mdpl,” katanya.

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan taman nasional terluas di Indonesia yang mencapai 1.375.000 hektare dan membentang dari Provinsi Sumatera Barat, Jambi, hingga Bengkulu. Ada pun luas zona inti TNKS mencapai 738.728 hektare, kaya dengan pakan alami dan memiliki kepadatan populasi harimau yang lebih rendah.

Survei staf TNKS dan Fauna & Flora Internasional (FFI) dari 2005 hingga 2021 menggunakan camera trap mengidentifikasi ada 93 individu harimau Sumatera di taman nasional ini. Pada 2021 dan 2022 ada dua individu harimau Sumatera telah dilepaskan ke dalam kawasan TNKS. Surya Manggala dan Citra Kartini menambah jumlah harimau Sumatera di kawasan itu menjadi 97 individu.

Harimau Sumatera merupakan satwa liar yang kritis (critically endangered). Populasinya terus berkurang akibat perburuan dan fragmentasi hutan yang memicu banyak konflik dengan manusia. Populasi harimau diperkirakan sekitar 500-600 ekor di hutan-hutan Sumatera (Population Viable Assesment, 2016). Sebagai predator teratas, ia pemain kunci rantai makanan. Jika harimau punah, ekosistem tak seimbang. Hewan herbivora akan melimpah yang menjadi hama bagi pangan manusia. 

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain