Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 03 Mei 2022

Krisis Iklim Memicu Lebih Banyak Pandemi  

Daerah tropis menjadi wilayah yang paling tinggi untuk virus berpindah dari hewan ke manusia. Kenaikan suhu lebih cepat.

PBB menyebut kini kita berada di era antroposen, masa di mana aktivitas manusia menjadi ancaman bagi keberlanjutan bumi. Polusi udara, lahan yang terdegradasi, tumpukan sampah, yang berlanjut menjadi krisis iklim adalah beberapa contohnya. Tetapi krisis iklim ternyata juga menjadi ancaman baru untuk manusia. Bukan hanya karena temperaturnya, tapi sebagai pemicu munculnya pandemi.

Studi terbaru di jurnal Nature yang terbit pada 28 April 2022 menyebutkan bahwa perubahan iklim dan penggunaan lahan mendorong penyebaran virus di antara spesies satwa liar yang sebelumnya terisolasi secara geografis.

Saat planet memanas, banyak spesies hewan akan terpaksa pindah ke daerah baru untuk menemukan kondisi yang sesuai. Hewan-hewan ini akan membawa parasit dan patogen dan menyebar di antara spesies yang belum pernah berinteraksi sebelumnya. Interaksi itu akan meningkatkan risiko apa yang disebut zoonotic spillover, berpindahnya virus dari hewan ke manusia, yang berpotensi memicu pandemi lain sebesar Covid-19.

Makalah penelitian tersebut menyatakan bahwa setidaknya 10.000 jenis virus yang mampu menginfeksi manusia telah beredar “secara diam-diam” pada populasi hewan liar. Banyaknya habitat yang dihancurkan untuk pertanian dan ekspansi perkotaan menyebabkan lebih banyak orang melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi.

Perubahan iklim memperburuk keadaan ini yang mendorong penyebaran virus di antara spesies yang sebelumnya tidak saling bertemu. Studi memperkirakan ada pergeseran jangkauan geografis dari 3.139 spesies mamalia karena perubahan iklim dan penggunaan lahan hingga 2070.

Kelelawar diduga menjadi satwa yang paling tinggi menyebarkan virus karena kemampuannya melakukan perjalanan jarak jauh, selain karena ia hewan paling banyak menyimpan virus.

Pandemi Covid-19 yang bermula di Wuhan, Cina, diduga berasal dari infeksi kelelawar yang berpindah ke manusia dalam transaksi pasar hewan liar. Penelitian sebelumnya juga telah memperkirakan sekitar 3.200 jenis virus corona yang sudah berpindah di antara populasi kelelawar.

Studi terbaru di Nature itu juga menyebutkan bahwa transisi ekologis mungkin sudah berlangsung. Akibatnya, kendati kita bisa menahan kenaikan suhu bumi di bawah 2° Celsius dalam abad ini, tidak akan mengurangi penyebaran virus di masa depan. Daerah tropis menjadi wilayah yang memungkinkan paling tinggi terjadinya zoonosis karena mengalami pemanasan suhu lebih cepat dibanding wilayah lain.

Sebelum studi ini dipublikasikan, krisis iklim telah menunjukkan cengkeramannya terhadap Kesehatan manusia. Pada 2016, misalnya, sebanyak 72 orang penggembala nomaden terpapar anthrax yang diduga berasal dari mencairnya es abadi (permafrost) di lingkar Arktik. Para ahli menyebutkan kejadian luar biasa itu berhubungan dengan perubahan iklim.

Sebulan sebelum pandemi itu, wilayah ini mengalami anomali suhu yang abnormal, mencapai 35C. Anthrax pernah menginfeksi wilayah itu pada 1941. Virus anthrax bersifat dorman dalam sisa-sisa tubuh manusia dan hewan yang membeku selama ratusan tahun, dan kembali aktif ketika terjadi pencairan permafrost.

Produksi emisi dan munculnya pandemi.

Pada akhirnya banyaknya pandemi yang muncul akibat krisis iklim menciptakan kebutuhan akan vaksin, obat-obatan, dan tes. Tetapi, tanpa investasi besar utama yaitu konservasi habitat, pengaturan ketat perdagangan satwa liar, dan peningkatan biosekuriti ternak, ketimpangan akses terhadap fasilitas kesehatan dan obat-obatan akan semakin lebar. Bencana iklim, yang salah satunya berbentuk pandemi, akan selalu menciptakan ketimpangan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumni Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia

Bagikan

Komentar



Artikel Lain