Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|21 Januari 2022

Budidaya Maggot Lewat Sampah Organik

Budidaya maggot menjadi tren pengelolaan sampah organik saat ini. Menghidupkan ekonomi sirkular.

NAIKNYA jumlah penduduk seiring dengan produksi sampah. Sampah menjadi problem serius hari ini. Agar sampah jadi punya nilai ekonomi, budidaya maggot bisa menjadi solusinya. 

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementerian Perindustrian, tahun 2018 jumlah sampah orang Indonesia per tahun mencapai 65,2 juta ton. Rumah tangga menjadi salah satu unit terkecil yang berperan dalam peningkatan jumlah sampah dihasilkan.

Pemerintah hendak mengurangi sampah sebanyak 30% hingga 2025 dan 70% sisanya akan diolah. Target ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 97/2017.

Budidaya maggot menjadi solusi menangani sampah paling mudah. Melalui bank sampah yang bisa diadakan di perumahan dan bahkan rumah tangga. Apa itu maggot?

Maggot adalah bahasa Inggris untuk belatung atau larva dari lalat sebagai hasil atau pembusukan sampah organik sekaligus membantu menguraikannya. Beberapa satwa menjadi pemakan belatung sehingga maggot jadi pakan untuk hewan ternak.

Kota Bogor salah satu yang sudah memasyarakatkan maggot sejak empat tahun lalu. Di kota ini, 1 juta jiwa menghasilkan 600 ton sampah sehari, 60% di antaranya sampah organik. “Sebesar 55% sampah berasal dari rumah tangga,” kata Feby Darmawan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor pada acara “Maggot Peluang Bisnis Masa Depan” pada 19 Januari 2022.

Menurut Feby, sejak 2017 pemerintah Kota Bogor coba mengintegrasikan pengelolaan sampah organik dengan budidaya maggot. Hasilnya lumayan.

Sepanjang 2021, jumlah sampah organik berkurang. Budidaya maggot menghasilkan residu sampah sebesar 10-15% dari total sampah yang dihasilkan per hari 300-500 kilogram. “Maggot yang muncul sebanyak 300-1.000 kilogram,” kata dia.

Menurut Feby, untuk sampai pada pengelolaan sampah yang bernilai secara ekonomi perlu dimulai dari perubahan paradigma. Jika dulu adalah “buang sampah ke tempatnya”, kini mesti “kurangi sampah dari tempatnya” sehingga sampah tak mengalir ke tempat pembuangan akhir yang .

Di masa krisis iklim sebetulnya paradigma itu tidak cukup. Sampah, meski sedikit dibanding emisi sektor lain, biaya menguranginya cukup signifikan karena menggerus gas metana tidak mudah. Maka paradigma sampah mestinya “tak membuat sampah sejak dalam pikiran”.

Setelah mengubah paradigma, secara teknis memanfaatkan sampah perlu membangun Tempat Pembuangan Sementara Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R. Sampah di TPS3R ini yang akan dipilah sekaligus menyetop aliran sampah ke TPA. “Walaupun pada tahap awal, jadinya TPS3R jadi tempat penimbunan sampah,” kata Titin Sri Suhartini, pegiat maggot dari kampung ramah lingkungan Katulampa, Bogor Timur.

Di Katulampa, kata Titin, maggot yang muncul dari pengolahan sampah organik kemudian dijual menjadi pakan ikan lele, burung puyuh, dan ayam. Kotoran ternak juga dipakai untuk budidaya sayuran di pekarangan.

Meski begitu, keuntungan ekonomi budidaya maggot dari pengolahan sampah organik sebetulnya hanya hasil sampingan saja. Sebab, tujuannya lebih condong ke perspektif lingkungan sebagai cara mencegah sampah menghasilkan gas metana di TPA. “Profit itu sampingan saja,” kata Ardhi Elmeidian, Ketua Pegiat Paguyuban Maggot (PPM) Nusantara.

Menurut Ardi, potensi budidaya maggot cukup besar karena masyarakat kian sadar akan dampak buruk sampah yang terbuang. PPM Nusantara pernah melakukan survei. Dari 280 responden pebudidaya maggot, mereka bisa mengelola sampah 45 ton sehari dan per orang mengolah sampah 160 kilogram.

Jika budidaya maggot dikoordinasikan oleh rukun warga, dan berisi 1.500 jiwa, hanya butuh lahan 3 x 3 meter lahan untuk membangun TPS3R yang bisa mengolah sampah 150 kilogram sehari. Selain mencegah sampah menumpuk, budidaya maggot bisa mennjadi andalan dana lingkungan RW tersebut.

Menurut Ardi, budidaya maggot memang harus dimulai dari unit lingkungan terkecil karena sumber sampah Indonesia berasal dari rumah tangga. Dengan cara ini, melindungi lingkungan bisa menghasilkan secara ekonomi.

Koreksi 21 Januari 2022 pukul 21.40 WIB pada ilustrasi foto.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar



Artikel Lain