Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Desember 2021

Prediksi Iklim: 2022 Jadi Tahun Terpanas Lagi

Sejak 2015 suhu global melebihi 1 derajat C dibandingkan suhu masa pra-industri. Kenaikan suhu bumi 2022 diperkirakan tetap di atas 1C.

TAHUN depan kemungkinan akan menjadi tahun terpanas lagi. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) memprediksi suhu bumi 2022 berada di antara 0,970 Celsius hingga 1,21C, atau rata-rata 1,09C di atas suhu pada masa praindustri.

Bila prediksi tersebut benar, tahun depan akan masuk kelompok tahun terpanas, mendekati kenaikan suhu pada 2015—tahun pertama kenaikan suhu bumi melebihi 1C.

Naiknya suhu bumi terjadi akibat aktivitas manusia dan industri yang menghasilkan emisi karbon. Produksi emisi karbon gagal diserap ekosistem alamiah karena deforestasi dan rusaknya lingkungan sehingga menjadi gas rumah kaca yang menurunkan peran atmosfer menyerap emisi dan panas matahari.

Menurut sejumlah ilmuwan iklim, suhu global akan terus naik bila tidak ada kebijakan dan tindakan menurunkan emisi secara drastis. Dalam COP26 di Glasgow, ilmuwan di IPCC memprediksi kenaikan suhu bumi mencapai 1,6C pada 2041.

Perjanjian Paris 2015 memberi patokan puncak krisis iklim terjadi jika suhu bumi naik 1,5C dibanding masa praindustri. Untuk mencegahnya, emisi global harus dipangkas separuhnya menjadi tinggal 25 miliar ton setara CO2.

COP26 Glasgow membuat sejumlah perjanjian seperti menghentikan deforestasi pada 2030. Menyetop deforestasi menjadi satu mitigasi iklim yang penting karena hutan yang rusak membuat emisi tak lagi terserap oleh ekosistem alamiah di bumi.

Namun, menyetop pemakaian batu bara, penyumbang utama emisi global, pada tahun tersebut dianulir oleh Cina dan India sehingga kesepakatan berubah menjadi menurunkan pemakaian batu bara secara bertahap.

Emisi karbon akan menaikkan suhu bumi. Kenaikan suhu global yang konstan bisa menyebabkan naiknya permukaan air laut akibat es yang mencair di kutub utara dan selatan. Bencana iklim pun akan semakin sering terjadi, seperti banjir bandang, gelombang panas, badai, atau siklon.

Salah satu indikator krisis iklim adalah kerusakan laut. Kerusakan laut membuat biotanya menjadi sakit. Biota laut yang sakit akan mendorong penyebaran virus menjadi mungkin karena mereka menjadi makanan burung yang mudah berpindah ketika musim migrasi. Virus flu Spanyol pada 1918 menyebar ke seantero dunia dipicu oleh burung laut yang tertular virus di laut Polandia.

Dampak langsung cuaca yang ekstrem dan bencana adalah nelayan tak bisa melaut dan petani tak bisa menanam atau gagal panen. Ketahanan pangan adalah imbas pertama yang paling mengancam hidup manusia, selain gelombang migrasi ke utara akibat suhu di selatan bumi yang terus menghangat.

Met Office mencatat tahun 2015 adalah tahun terpanas yang pertama kali melebihi 1 derajat C dibandingkan masa praindustri (1800-1900).

Pada akhir 2020, sejumlah ilmuwan di Met Office memperkirakan suhu 2021 antara 0,99C hingga 1,23C atau rata-rata 1,11C. Berdasarkan data antara Januari-September 2021, suhu 2021 naik sekitar 1,09C.

Menurut Dr Doug Smith, ilmuwan iklim di Met Office, kenaikan suhu global sejak 2015 mengungkap fakta lain bahwa ada kenaikan yang bervariasi di belahan dunia. “Beberapa lokasi seperti Arktik lebih hangat beberapa derajat dibandingkan masa pra-industri,” kata Smith.

Kenaikan suhu bumi sejak 2000. Tahun 2022 diprediksi akan menjadi tahun terpanas lagi

Suhu bumi 2022 juga akan dipengaruhi oleh La Niña yang bakal terjadi lagi. Fenomena La Niña akan mengubah pola iklim di Pasifik.

La Niña sudah masuk dalam prediksi Badan Meteorologi Inggris sehingga prediksi kenaikan suhu tak sebesar prediksi tahun ini. La Niña membuat bumi mendingin meski akan tetap berada di atas 1C. Faktor lain yang belum masuk prediksi adalah letusan gunung api yang membuat suhu bumi 2022 menjadi tidak pasti.

Juga produksi emisi setelah pandemi Covid-19 berakhir. Pada 2020, emisi karbon hanya berkurang 5% setelah semua pabrik berhenti dan interaksi sosial mandek akibat kebijakan karantina mencegah penularan virus. Jika tahun depan pandemi berakhir, mesin industri kembali bekerja, orang kembali bepergian, suhu bumi 2022 kemungkinan naik melebihi perkiraan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain