Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|14 Desember 2021

Teknik Berkembang Biak Unik Burung Wikwik

Dalam pelbagai kebudayaan, suara burung wikwik atau Cacomantis merulinus sebagai tanda musibah atau bencana. Mereka berkembang biak dengan adaptasi canggih.

BURUNG ini punya banyak nama, seperti juga banyak bahasa menamai benda. Tapi burung wikwik menjadi istimewa karena jika ia berbunyi, ada mitos akan ada tanda bahaya. Secara ilmiah, perilaku burung ini juga unik dan menarik.

Orang Sunda memberinya nama yang indah: kedasih. Nama lainnya uncuing, stuncuing. Orang Jawa menamainya daradasih. Burung berbulu kelabu yang bisa menyamar di dahan-dahan pohon ini secara ilmiah diberi nama Latin Cacomantis merulinus.

Menurut Ani Mardiastuti, dosen Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB University, suara burung wikwik (karena demikianlah telinga manusia mendengarnya) berasal dari burung jantan yang sedang mencari pasangan.

Para betina burung wikwik akan mencari suara itu untuk kawin di balik rerimbunan daun. “Mereka memang senang tinggal di balik daun yang rimbun,” kata Ani. Dengan ukurannya yang kecil, hanya 20-24 sentimeter, dan warna bulu kelabu serta jingga di perutnya, membuat suara menjadi penanda jelas keberadaan burung wikwik.

Setelah kawin induk burung wikwik akan menitipkan telur di sarang burung lain. Secara ilmiah perilaku ini dinamakan brood parasitism atau parasit anakan. Setelah menetas, induk burung wikwik bahkan menitipkan anak-anak mereka ke burung lain. 

J.K Rowling, melalui nama samaran Robert Galbraith, secara jenius membuat novel criminal dewasa pertamanya setelah serial Harry Potter dengan perlambang burung wikwik. Judulnya The Cuckoo’s Calling. Ceritanya mirip burung wikwik atau “cuckoo” dalam bahasa Inggris. Penerbit Gramedia menerjemahkannya menjadi burung kukuk.

Lula, seorang model, adalah anak angkat seorang model lain yang mati dalam usia sangat muda. Cormoran Strike, protagonist novel serial ini, adalah detektif partikelir yang mendapat order menginvestigasi kematian model terkenal yang sedang naik daun di Inggris ini. Lula adalah prototipe burung wikwik.

Metode berkembang biak yang khas ini, menurut Ani, merupakan teknik paling canggih spesies burung karena memerlukan adaptasi yang canggih bagi anak-anak burung wikwik. Anakan wikwik harus menyesuaikan diri dengan induk angkat mereka dan rumah baru mereka yang tak mereka kenal.

Perkembangbiakan burung wikwik diawali dengan menggeser telur di sarang milik burung lain (burung inang) sebelum empunya rumah pulang. “Kalau burung inang tahu bahwa salah satu telurnya sudah diganti oleh burung wikwik Kelabu, ada kemungkinan burung inang akan meninggalkan sarang dan telurnya.  Namun, jika burung inang tidak tahu, maka pasangan burung inang tetap akan mengerami telur dalam sarang mereka hingga telur menetas menjadi piyik,” terang Ani.

Setelah telur wikwik menjadi piyik, mereka harus tetap menyamar menjadi “anak tiri” burung inang. Cara curang kerap dilakukan piyik wikwik ini seperti mendorong telur kandung burung inang atau menggigit piyik burung inang hingga mati.

Tekad menjadi yang utama dalam keluarga baru merupakan cara bertahan yang unik bayi burung wikwik. Tanpa ibu kandung yang membesarkannya, mereka merangsek menjadi anggota keluarga baru di sarang itu. “Mereka akan melakukannya sampai dewasa, hingga siap meninggalkan kendang,” kata Ani.

Burung inang yang menjadi para ibu wikwik biasanya kelompok burung prenjak, remetuk laut, cipoh kacat, atau burung-burung lainnya yang berukuran lebih kecil dari wikwik kelabu.

Proses pencarian sarang burung inang menjadi proses yang jenius bagi burung wikwik. Mereka harus memilih sarang dan keluarga inang yang mereka anggap bagus, bisa terkelabui, dan mengurus bayi mereka hingga dewasa.

Burung-burung inang biasanya tak sadar hingga mereka menyangka telur yang mereka erami adalah anak sendiri. Dengan cara berkembang biak seperti itu, manusia menganggap suara burung wikwik sebagai musibah, padahal mereka calon agen intelijen yang bagus.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain