Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|10 Desember 2021

Mahasiswa ITB Bikin Panel Surya Jinjing

Mahasiswa ITB membuat panel surya jinjing yang harganya sepersepuluh panel surya komersial. Bisa jadi solusi di daerah bencana dan polosok.

BENCANA alam akibat krisis iklim yang bertubi-tubi terjadi di wilayah-wilayah Indonesia mendorong tiga mahasiswa ITB membuat panel surya jinjing. Selain pasokan makanan, kebutuhan utama di wilayah bencana adalah listrik. 

Para mahasiswa ini menamai inovasi mereka solar power plant with Internet of things system atau SPITS. Ketiga mahasiswa dari jurusan Teknik Telekomunikasi itu adalah Muhammaf Miqdad Nadra dan Dicky Dwi Putra serta Ramadani Putri dari Teknik Geodesi.

Menurut Dicky, ide mereka terbit ketika memantau berita likuefaksi dan tsunami di Palu pada 2018. Beberapa gardu listrik roboh dan hanyut sehingga listrik padam.

Panel surya jinjing buatan mahasiswa ITB memiliki dua sistem: photovoltaic off grid dan sistem manajemen energi. Photovoltaic off grid adalah pembangkit listrik yang hanya mengandalkan sumber energinya dari matahari.

Sistem kerja panel surya jinjing buatan mahasiswa ITB ini menangkap cahaya matahari lalu menyimpan energi itu pada baterai. Simpanan energi yang diubah panel surya ini mampu menghasilkan listrik 80 watt. “Sistem manajemen energi akan membantu pengguna untuk mengetahui besar daya, tegangan, dan arus yang digunakan, serta kapasitas daya pada baterai,” kata Dicky seperti termuat di laman ITB.ac.id.

Tegangan listrik panel surya ini bisa memakai tegangan AC 220 volt dan DC 12 volt. Sehingga listrik panel surya ini bisa dipakai untuk pelbagai peralatan listrik yang memiliki sistem manajemen energi, bisa dibawa ke mana saja, dan tidak berisik.

Untuk menghasilkan panel surya ini, Dicky dan kawan-kawan hanya membutuhkan biaya Rp 3.465.0000. Ongkos produksi ini kira-kira sepersepuluh harga panel surya atap yang dijual di pasar yang berkisar Rp 30-50 juta.

Dari uji coba para mahasiswa dengan dosen pembimbing dan alumni Teknik Tenaga Listrik, pengujian photovoltaic dan tegangan listrik menghasilkan daya AC 224 volt pada frekuensi 49,9 hertz. Menurut Dicky, nilai tegangan dan frekuensi tersebut sesuai dengan SPLN 1:1995.

Dicky mengatakan panel surya jinjing ini masih berupa prototif sehingga perlu dikembangkan lebih jauh untuk menaikkan kapasitas daya dan desain alat yang lebih efisien lagi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam sudah bersedia menjadi pendukung pengembangan panel surya jinjing ini.

Tawaran itu disampaikan karena Kementerian Energi menjadi juri lomba Marine Icone yang digelar oleh Institut Teknolog 10 November Surabaya pada 26 September 2021. Panel surya jinjing buatan mahasiswa ITB meraih juara 1 dari 45 nominee yang dinyatakan lolos.

Inovasi mahasiswa ITB ini datang pada saat yang tepat. Pemerintah sedang merevisi aturan pemakaian solar atap yang kian dilirik sebagai sumber energi alternatif dibanding listrik PLN yang masih memakai batu bara yang polutif dan merusak lingkungan.

Tenaga surya menjadi alternatif bagi Indonesia sebagai negara tropis yang melimpah cahaya mataharinya. Masalahnya, listrik tenaga surya acap mendapat stigma bahwa sumbernya tidak stabil karena awal tropis membuat intensitas matahari tidak tetap. Teknologi baterai untuk penyimpanan membuat panel surya menjadi mahal.

Inovasi mahasiswa ITB menjawab semua keraguan itu. Selain portabel, harganya juga murah. Para mahasiswa menilai pasokan energi dari matahari sangat melimpah sehingga bisa menjadi potensi pengembangan pemanfaatan energi surya sebagai energi terbarukan.

Selain di daerah bencana, panel surya jinjing buata mahasiswa ITB ini menjadi solusi ampuh mengantarkan listrik ke daerah polosok yang sulit dijangkau infrastruktur PLN. Pemerintah seharusnya menyokong penuh solusi energi melalui inovasi seperti ini yang menjadi masalah krusial penyediaan listrik bersih di era krisis iklim.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain