Ragam | April-Juni 2019

Panel Surya Masuk Pesantren

Pesantren Wali Barokah di Kediri, Jawa Timur, menjadi pesantren pertama yang kebutuhan listriknya memakai energi matahari.

Drajad Kurniadi

Rimbawan pemerhati ilmu kebijakan hutan

LEMBAGA Dakwah Islam Indonesia (LDII) memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo mengatakan selama ini pondok pesantren menggantungkan kebutuhan listrik kepada perusahaan listrik negara (PLN). Akibatnya beban biaya meningkat seiring besarnya pemakaian setrum. "PLTS di Wali Barokah sebagai tahap awal," kata Prasetyo Sunaryo.

Agaknya, Wali Barokah menjadi satu-satunya pesantren yang memanfaatkan energi terbarukan untuk kebutuhan penerangan dan sumber energi listrik. Sebelum PLTS, pesantren di tengah Kota Kediri, Jawa Timur, itu mendapat suplai setrum dari pembangkit tenaga mikro hidro dari perkebunan teh Jamus. Namun, kapasitasnya masih kecil.

Pemimpi Pondok Wali Barokah KH Soenarto menambahkan bahwa aplikasi pembangkit PLTS ini bentuk syukur kepada Allah berupa karena di Indonesia sinar matahari ada sepanjang tahun. “Ke depan kami siapkan pondok sebagai objek wisata religi dan edukasi teknologi PLTS, sehingga menginspirasi masyarakat berpartisipasi dalam penerapan energi baru terbarukan,” kata pria asal Klaten tersebut.

PLTS Wali Barokah tersebut berukuran 40 x 41 meter. Menurut aplikatornya, Horisworo, sumber dana pembelian panel yang buatan Kanada itu berasal sumbangan anggota. “Harga termasuk peralatan penunjangnya mencapai Rp 10,1 miliar,” kata dia.

Kapasitas PLTS tersebut akan menghasilkan 1 juta watt. Dan saat ini belum dioptimalkan seluruhnya, karena kebutuhan pondok dengan 5.000 santri tersebut sudah terpenuhi. Setelah PLTS, pesantren akan mengembangkan sumber listrik dari biomassa atau sampah yang dibuang para santri.

Ngobrolin Hutan Sosial yang diadakan oleh Textonia--anggota Forest Digest--di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, April 2019.

Dua Diskusi Perhutanan Sosial

TEXTONIA mengadakan dua serial diskusi tentang perhutanan sosial di Ruang Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 5 dan 15 April 2019. Pada 5 April diskusi membedah buku “Lima Hutan Satu Cerita” karya Tosca Santoso yang dibahas oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Didik Suharjito dan anggota Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Diah Suradiredja.

Buku ini menyajikan lima hutan sosial dengan cerita yang serupa: soal perjuangan para petani mendapatkan hak pengelolaan hingga suka duka menjadikan lahan mereka sebagai perhutanan sosial yang menguntungkan atau tak menguntungkan secara ekonomi. Resensi buku adalah di rubrik Buku ada di sini.

Sementara diskusi kedua berupa peluncuran hasil penelitian empat universitas yang dipimpin Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada Mudrajad Kuncoro. Penelitian tersebut dituangkan dalam buku Dampak Perhutan Sosial: Perspektif Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan. Ada pengaruh signifikan perhutanan sosial terhadap tiga parameter perspektif hutan sosial di Lampung dan Yogyakarta. Pembahasan buku selengkapnya ada di sini.

Daftarkan alamat email anda untuk berlangganan GRATIS artikel terbaru kami

Bagikan

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Lain