Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|12 November 2021

Perdagangan Lebah Mengancam Keragaman Hayati

Lebah punya nilai ekonomi tinggi. Invasi koloni antar pulau mengancam keragaman hayati.

TAK hanya deforestasi atau pemakaian pestisida, penemuan nilai ekonomi lebah membuat keragaman hayati terancam. Manfaat madu untuk kesehatan dan meningkatkan imunitas membuat eksploitasinya menjadi tak terkendali.

Informasi yang kian mudah, juga kemajuan dalam memproduksi madu, membuat produksinya juga naik fantastis. Lima belas tahun lalu ketika bisnis madu lebah mulai menggeliat, seorang pemburu bisa mendapatkan 70 koloni lebah di alam secara mudah. Mereka menjualnya per koloni kepada pengumpul Rp 50.000.

Perburuan lebah yang tak lestari, seperti menebang pohon karena mudah dan praktis, membuat lebah berkurang jumlahnya. Ketika dibudidayakan, lebah juga banyak yang mati. Kematian lebah di tempat budidaya sekitar 30%

Turunnya jumlah lebah membuat suplainya langka. Akibatnya harga madu menjadi tinggi. Harga tinggi kian mendorong perdagangan meningkat. Akibatnya, ada impor lebah antar pulau untuk dibudidayakan.

Perdagangan antar pulau ini, kata Windra Priawandiputra, dosen biologi IPB University, kian mengancam keberadaan lebah. “Akan mendorong invasi spesies dari daerah lain yang dibawa untuk dibudidayakan,” kata dia dalam webinar Universitas Mulawarman.

Akibatnya, lebah lokal atau endemik lambat laun bisa hilang karena dominasi spesies tertentu dari wilayah lain. Menurut Windra, agar keanekaragaman lebah terjaga, peternak tidak membeli lebah dari tempat lain apalagi dari luar pulau. "Budidayakan lebah lokal," katanya.

Di dunia ada lebih dari 20.000 jenis lebah. Ada yang punya sengat, ada yang tidak. Lebah madu tanpa sengat memiliki morfologi yang unik dan biasanya ukurannya lebih kecil daripada lebah madu bersengat. Kita menyebutnya lebah Trigona.

Lebah tanpa sengat atau disebut kelulut, nama lokal, dimanfaatkan masyarakat untuk menghasilkan madu, polen, dan propolis. Selain bermanfaat bagi manusia, lebah juga dibutuhkan tanaman untuk bereproduksi. Bila lebah hilang ekosistem terganggu. 

Lebah tanpa sengat di Indonesia ada 46 jenis yang sudah teridentifikasi. Spesies terbanyak terdapat di pulau Kalimantan, yakni 29 spesies. Setelah itu Sumatera 23 spesies dan Jawa ada 7 spesies. “Di Jawa sepertinya sudah lebih banyak sekarang, karena terjadi disrupsi distribusi lebah dari jual beli tadi,” ujar Windra.

Produk lebah tanpa sengat dikenal lebih mahal karena kuantitasnya lebih sedikit. Bahkan, produktivitasnya per tahun hanya berkisar 6,5 kilogram apabila sumber pakannya banyak. Sedangkan lebah sengat bisa menghasilkan 24 kilogram madu. 

Yang menarik, produktivitas propolis lebah tanpa sengat lebih tinggi daripada lebah biasa. Kandungan antioksidan dan antibiotiknya pun lebih kaya.

Berdasarkan penelitian tim IPB University, lebah tanpa sengat berkembang dengan baik pada lahan yang didominasi hutan dibandingkan di lahan pertanian dan di halaman rumah.

Sebab lebah membutuhkan resin untuk membuat koloni mereka tumbuh.  Tanaman hutan penghasil resin di antaranya, meranti dan damar.

Selain di hutan atau dekat hutan, agar panen berkelanjutan, lebah tanpa sengat cocok dengan tanaman buah seperti mangga, lengkeng, alpukat juga kopi. Mereka juga membantu meningkatkan produktivitas tanaman. "Buah yang dipolinasi lebah tanpa sengat lebih manis," kata Windra.

Nilai ekonomi tinggi, lebih kaya antioksidan, berada di hutan justru menjadi ancaman jika perburuannya tak lestari. Sementara pusat pengembangbiakan lebah belum ada di Indonesia. Swasta belum tertarik masuk ke bisnis jangka panjang ini.

Kesatuan Pengelolaan Hutan atau program perhutanan sosial sebetulnya bisa menjadi lokasi baru pengembangbiakan lebah melalui pembangunan inti plasma sehingga untuk memenuhi bisnis tidak perlu menghabiskan koloni di alam. Masalahnya, teknik budidaya ini perlu sosialisasi agar tekniknya benar dan mendukung kelestarian lebah.

Dengan nilai ekonominya yang tinggi, lebah tidak perlu menjadi emas baru dalam mempengaruhi kelestarian sumber daya alam kita.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Penggerak @sustainableathome

Bagikan

Komentar

Artikel Lain