Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|26 Oktober 2021

Sel Tumbuhan Pengganti Energi Fosil

Energi biomasa lignoselulosa yang berasal dari sel tumbuhan layak ditimbang menjadi pengganti energi fosil. Perlu teknologi tambahan.

ZAMAN batu berakhir bukan karena manusia kehabisan batu. Era minyak juga akan berakhir bukan karena kita kehabisan minyak.” Ucapan terkenal Menteri Minyak Arab Saudi Ahmed Zaki Yamani dalam wawancara dengan The Telegraph pada 2000 terbukti sekarang. Krisis iklim akan mengakhir era keemasan energi fosil.

Kapankah masa itu berakhir? Pernyataan Zaki tak terlalu akurat. Menurut Nyoman Jaya Wistara, guru besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, cadangan minyak bumi akan habis 50 tahun lagi. Sementara dunia masih belum terlihat bekerja keras mengalihkan energi fosil ke energi terbarukan.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada 23 Oktober 2021, Nyoman mengatakan bahwa batu bara baru akan habis 140 tahun lagi dan gas 41 tahun. Padahal, Indonesia baru menghentikan kontrak baru batu bara pada 2025. Jika kontrak itu berusia 25 tahun, Indonesia baru benar-benar bersih dari pemakaian batu bara pada 2050.

Ketika itu terjadi, cadangan batu bara tinggal setengahnya. Artinya, jika zaman batu berakhir karena manusia menemukan teknologi bercocok tanam, zaman minyak berakhir karena energi fosil ini memang hampir habis, bukan lagi bisnis yang menjanjikan.

Meski seruan-seruan pemakaian energi fosil berakibat buruk pada lingkungan dan masa depan manusia, kita baru terdorong menciptakan teknologi penggantinya setelah temuan krisis iklim meruyak. Setelah pelbagai bencana iklim datang silih berganti membuat kerugian ekonomi.

Asap pekat selama sepekan di London pada awal 1950 tak menyadarkan penduduk bumi bahaya asap batu bara. Kita terus mengeruknya, karena mudah dan murah, tanpa menimbang dampak buruknya bagi lingkungan. Jumlah kematian akibat asap batu bara diperkirakan sebanyak 10,2 juta jiwa per tahun.

Berangkat dari problem genting dunia hari ini, Nyoman meneliti pemakaian biomassa lignoselulosa. Dalam pidato ilmiah “Energi dan Material Maju Terbarukan Biomassa Lignoselulosa”, ia memaparkan potensi besar biomassa ini sebagai pengganti energi fosil.

Lignoselulosa adalah komponen polisakarida yang terdiri dari tiga tipe polimer, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Ketiganya adalah komponen penyusun utama dinding sel tumbuhan. Sehingga, jika dijadikan energi, bahan bakunya tak hanya kayu tapi limbah pelbagai tanaman.

Sebetulnya, kata Nyoman, sumber bahan bakar biomassa tidak hanya dari bahan tanaman yang mengandung lignoselulosa, bisa juga dari tanaman apa pun yang mengandung pati dan gula. “Masalahnya, sumber biomassa berpati dan bergula akan mengancam ketahanan pangan,” katanya.

Nyoman mengusulkan energi masa depan berasal dari sel tumbuhan. Potensi biomassa lignoselulosa bisa diproses menjadi produk tertentu, seperti bioetanol, biogas, minyak berbasis biomassa (bio-oil), bioarang, hingga selulosa yang berukuran nano (nanoselulosa) untuk kebutuhan industri elektronik, manufaktur dan otomotif.

Sumbernya pun beragam, bisa dari pohon cepat tumbuh, trubusan, tanaman jenis bukan kayu, maupun serat lignoselulosa daur ulang. Sayangnya, biomassa lignoseulosa memiliki kelemahan mendasar bila digunakan menjadi bahan bakar cair seperti bioetanol.

Kelemahan tersebut akibat sulitnya proses prakonversi menjadi bioetanol. Perlakuan fisik, kimia, biologis, mekanis, dan kombinasinya untuk pohon cepat tumbuh dan pohon bukan kayu hanya menghasilkan bioetanol yang sedikit. “Sehingga perlu meningkatkan efisiensi hidrolisis,” kata dia.

Metode hidrolisis selulosa dalam produksi bioetanol sejauh ini belum memuaskan. Jika teknologi ini bisa ditemukan secara massal, menurut Nyoman, sebagai produsen bubur kertas besar, Indonesia bisa menjadi pemasok bioetanol besar.

Dengan begitu perusahaan pulp bisa berekspansi menambah lini energi. Menurut Nyoman, integrasi pabrik pulp dan bioetanol menjadi topik penelitian hangat di negara-negara produsen bubur kertas. “Untuk jangka pendek, pembuatan bahan bakar dari biomassa lignoselulosa dalam bentuk padat, lebih realistis,” kata dia.

Masalahnya, kalori biomassa padat tergolong rendah. Perlu tambahan perlakuan dengan mengubahnya menjadi briket, pelet, dan karbonisasi. Soal lain: abunya banyak sehingga panasnya tak bertahan lama.

Potensi biomassa lignoselulosa ini menjadi jawaban atas kebutuhan energi terbarukan di masa depan. “Sebagai mitigasi krisis iklim, bahan bakar biomassa layak dikembangkan,” kata Nyoman.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain