Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|22 Oktober 2021

Peran Pemuka Agama Mencegah Krisis Iklim

Pemuka agama punya peran menyadarkan tiap individu sadar bahwa bumi terancam krisis iklim. Perlu diimbangi peran negara lewat kebijakan.

SETIAP agama punya ajaran melindungi bumi, menjaga lingkungan, mencegah kerusakan alam. Karena itu para pemuka keagamaan punya peran besar menyerukan masyarakat agar turut serta dalam mencegah krisis iklim—ancaman terbesar planet bumi hari ini.

Dalam film dokumenter The Mahuzes, yang diproduksi Watchdoc, kita bisa melihat peran pastor membantu masyarakat Mahuze dari Suku Marind di Merauke, Papua, menjembatani konflik adat dengan perusahaan pemilik konsesi hutan. Konflik berhenti sehingga masyarakat adat kembali bisa mempraktikkan kearifan lokal menjaga hutan mereka. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah melihat pentingnya pendekatan agama melalui organisasi keagamaan dalam menjaga lingkungan. “Hampir semua program kami memiliki dialog antar agama,” ujar Laksmi Dhewanthi, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, pada acara “Agama dan Perubahan Iklim” 20 Oktober 2021.

Laksmi menunjukkan bahwa program kementerian adalah mendorong sekolah Adiwiyata, sekolah hijau, atau pesantren hijau. Dari segi perencanaan, kata Direktur Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Medrilzam, pemerintah juga memasukkan peran organisasi dan pemuka agama ke dalam program pembangunan rendah karbon. 

Hanafi Guciano, ahli keuangan hijau, mengapresiasi pernyataan-pernyataan pejabat pemerintah yang melibatkan pemuka dan organisasi agama dalam program mencegah krisis iklim. Menurut dia, organisasi keagamaan memiliki kekuatan tersendiri dari sisi keuangan, yakni bisa mengumpulkan dana dengan cepat dari masyarakat. “Bisa dilihat dari sumbangan berbagai bencana,” katanya. “Seharusnya organisasi agama bisa memasuki ranah lain yakni kepedulian pada lingkungan.”

Hanafi menyerukan agar para pemuka agama menyampaikan bahasa krisis iklim da pentingnya perlindungan lingkungan dalam mimbar-mimbar dakwah di tiap agama. Menurut dia, bahasa pemuka agama akan cepat dipahami orang banyak ketimbang krisis iklim yang kompleks memakai bahasa ilmu pengetahuan yang saintifik.

Besarnya jumlah anggota organisasi agama merupakan sebuah potensi untuk menciptakan gerakan-gerakan kecil yang berdampak terhadap mitigasi perubahan iklim. Selain itu, jika tokoh agama sudah sadar akan pentingnya pembahasan lingkungan, ini akan mendorong semangat pengikutnya terus menjaga lingkungan. “Ini belum terakomodasi dengan baik dan harus dikoordinasikan dengan pemerintah,” kata Hanafi.

Peran pemuka agama akan menyentuh orang per orang sehingga memberikan kesadaran sejak dari individu tentang pentingnya menjaga lingkungan. Masalahnya, kesadaran individu itu acap kali rontok oleh kebijakan yang jauh lebih masif dan merusak karena memakai instrument hukum dan kekuasaan negara, seperti pemberian izin untuk industri ekstraktif yang merusak lingkungan.

Kampanye-kampanye positif dari pemuka agama acap tak sebanding dengan keinginan pembangunan mempercepat kemajuan. Sama seperti kampanye “jejak karbon” yang membuat tiap orang menjadi sadar aktivitas mereka berdampak pada alam. Namun, jejak karbon individu jauh lebih kecil dibanding jejak karbon industri yang memproduksi emisi dalam jumlah jutaan kali lipat.

Maka kampanye agama, juga program-program kecil seperti disebut Laksmi Dhewanthi, akan lebih efektif jika diimbangi oleh kebijakan negara yang jauh lebih perkasa. Seperti dikatakan Greta Thunberg, aktivis lingkungan dari Swedia, banyak individu sudah menyelesaikan tugas mereka menjaga bumi. “Tinggal Anda sekalian yang belum menyelesaikan pekerjaan rumah Anda,” katanya di depan parlemen Inggris dua tahun lalu. Maksud Greta, tentu, pekerjaan para pemimpin negara membuat kebijakan yang lebih ramah lingkungan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain