Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|07 Oktober 2021

Lindungi Hutan dengan Menebang Pohon

Untuk mengetahui cadangan karbon hutan kita perlu persamaan alometrik. Perlu perubahan metodologi agar penelitian tak harus menebang pohon.

BISAKAH? Bisakah melindungi hutan dengan menebang pohonnya? Jangan salah sangka dulu. Ini untuk keperluan penelitian. Di era krisis iklim, ketika kita jumlah emisi bisa dihitung, kita mesti tahu kemampuan hutan menyerap karbon agar emisi itu tak menjadi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.

Tapi justri di sini dilemanya. Saya berdiri di depan pohon meranti yang menjulang. Banirnya 3 meter. Pucuknya yang menuding langit setinggi 50 meter. Diameter batangnya lebih dari satu meter. Raksasa hutan ini menempati strata hutan paling atas dan menaungi pohon-pohon lain di bawahnya. 

Saya berkeliling banir untuk mengaguminya, sekaligus sedih karena harus menebangnya. Raksasa itu menjadi “tumbal” ilmu pengetahuan. Ia ditebang untuk menyelamatkan pohon-pohon di hutan lain dari deforestasi. 

Meranti raksasa itu ditebang untuk mengetahui nilai cadangan karbon hutan yang tersimpan dan menjadi salah satu sampel dalam penyusunan rumus alometrik untuk menduga nilai cadangan karbon hanya berdasarkan diameter dan nama jenisnya. 

Dengan luas lebih dari 90 juta hektare hutan alam, Indonesia menempati posisi ke tiga hutan alam terluas setelah Brasil di Amerika Latin dan Republik Demokrasi Kongo di Afrika. Hutan tropis Indonesia merupakan rumah dari berbagai satwa liar dan tumbuhan dengan nilai endemis yang tinggi.

Namun, hutan tropis Indonesia juga habitat alami jenis-jenis pohon komersial, seperti meranti yang roboh ini, keruing, kapur, ulin, merbau. Akibatnya, ia terancam ditebang untuk kepentingan ekonomi.

Maka perlu ada nilai lain pada hutan selain hanya kayu. Salah satunya cadangan karbon hutan. Rimba Indonesia memiliki peran besar dalam mitigasi perubahan iklim sebagai penyimpan karbon di bumi, menyerap gas karbon dioksida sebelum teremisi ke atmosfer.

Dalam dokumen National Determined Contribution (NDC) yang baru saja diperbaiki dan dilaporkan ke PBB, Indonesia mengandalkan peran hutan alam dalam upaya pencapaian target penurunan emisi nasional melalui sebagai mandat Kesepakatan Paris 2015.

Penghindaran deforestasi dan degradasi hutan serta restorasi ekosistem yang mampu mengurangi emisi dan meningkatkan serapan gas CO2, akan berkontribusi besar dalam mencegah suhu bumi naik 20 Celsius dibanding masa praindustri. Karena itu akurasi penghitungan inventarisasi gas rumah kaca, khususnya di sektor kehutanan, menjadi penting.

Salah satu sumber kesalahan pendugaan nilai cadangan karbon dan emisi adalah kesalahan menetapkan rumus alometrik penduga biomassa pohon yang tidak tepat dan tidak mewakili ekosistemnya. Masalahnya, untuk menghitung biomassa dengan akurat selama ini melalui pendekatan destructive sampling yang mengharuskan pohon ditebang dan ditimbang.

Rumus alometrik memerlukan data berat kering pohon, dari batang, cabang, ranting, dan daun. Setelah pohon ditebang, bagian pohon dipisahkan dan ditimbang untuk mengetahui berat basahnya. Sampel unsur-unsur pohon itu lalu dibawa ke laboratorium untuk dikeringkan.

Seorang peneliti CIFOR pada 2015 mengatakan bahwa lebih dari 6.000 pohon ditebang hanya untuk penelitian alometrik di Indonesia. Sebagian besar untuk penelitian skripsi. Sayangnya jumlah persamaan alometrik yang dipublikasikan di jurnal internasional masih sangat terbatas.

Sepertinya data-data yang dihasilkan dari penelitian destructive sampling di Indonesia hanya digunakan sebatas untuk penyusunan skripsi mahasiswa strata satu atau penelitian lokal yang sulit dipublikasikan di jurnal internasional karena minimnya data.

Keryn Paul, peneliti biomassa pohon Australia, mengatakan para ilmuwan perlu mempertimbangkan jumlah minimal sampel untuk menyusun persamaan alometrik. Ia menyarankan jumlah sampel minimal sebanyak 50 dengan kisaran diameter yang mewakili tegakan hutan yang akan menjadi target penghitungan.

Menurut buku Monograf Model-Model Alometrik yang dipublikasikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah sampel yang terpakai untuk penelitian alometrik pohon hutan alam di Indonesia rata-rata 29 untuk tiap studi. Tentu ini belum memenuhi kaidah statistik secara umum dalam penelitian alometrik.

Maka sebagai jalan tengahnya, peneliti perlu berhenti menebang pohon. Untuk mengembangkan rumus alometrik Indonesia, data bisa diambil dari kompilasi penebangan. Karena itu perlu ada bank data atau repository data destructive sampling, sehingga pohon yang telah ditebang untuk keperluan penelitian itu bermanfaat.

Lembaga penelitian dan perguruan tinggi bisa berperan dalam kompilasi data ini. Dengan bank data itu, peneliti akan tahu diameter, jenis, atau tipe hutan apa saja yang belum terwakili. Atau penebangan hanya pada lokasi yang sudah pasti akan ditebang, seperti hutan produksi, bukan di hutan lindung apalagi hutan konservasi.

Dengan bank data itu para peneliti memiliki alasan kuat ketika harus menebang pohon. Saya sudah menyusun beberapa persamaan alometrik di beberapa jenis hutan di Indonesia, seperti rawa gambut, hutan dipterokarpa, dan hutan dataran rendah tanah mineral. Beberapa jenis ekosistem lain perlu persamaan alometrik ini untuk mengetahui nilai cadangan karbon hutan sehingga berguna dalam mitigasi krisis iklim dan nilai ekonomi hutan.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


PhD dari Fenner School of Environment and Society, The Australian National University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain