Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|14 September 2021

Komodo Terancam Punah

Status komodo dalam daftar merah IUCN naik dari rentan menjadi terancam punah. Konversi habitat yang membuat krisis iklim menjadi kombinasi maut penyebabnya.

KABAR buruk datang berturut-turut. Sebelum Indonesia menghentikan kerja sama perdagangan karbon melalui penghindaran deforestasi dan degradasi hutan, IUCN—persekutuan internasional untuk konservasi dan lingkungan—mengumumkan bahwa status komodo berubah dari rentan menjadi terancam punah.

Spesies endemik Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur ini sudah terdaftar warisan dunia. Menurut IUCN, naiknya status komodo dalam daftar merah satwa yang hilang ini akibat perubahan iklim. “Naiknya suhu global dan permukaan air laut akan mengurangi habitat yang cocok bagi komodo setidaknya 30% dalam 45 tahun ke depan,” demikian rilis IUCN pada 4 September 2021. 

Tak hanya perubahan iklim yang alamiah. Ancaman bagi komodo, menurut IUCN, adalah kehilangan habitat akibat aktivitas manusia. Kendati jumlahnya stabil di dalam taman nasional, konversi lahan, laut, dan hutan oleh manusia kian mengancam kadal besar yang bertahan dari masa 70.000 tahun lalu ini.

Jumlah individu komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Dengan naiknya status komodo, daftar merah satwa di dunia kini berjual 138.374 spesies, 38.543 di antaranya terancam punah. Perubahan iklim satu-satunya penyebab utama kepunahan hewan itu. Dalam dua abad terakhir, perubahan iklim tak terjadi secara alamiah, melainkan akibat ulah manusia yang memompa emisi ke atmosfer secara tak terkendali.

Emisi berasal dari pembakaran energi untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat peradaban manusia. Emisi tersebut terpompa ke udara karena produksi emisi membutuhkan lahan dan konversi hutan. Akibatnya, emisi yang tak terserap berubah menjadi gas rumah kaca. Gas rumah kaca membuat atmofer kehilangan daya serap terhadap emisi sehingga emisi memantul kembali ke bumi berupa kenaikan suhu bumi.

Laut sebagai penyerap 23% emisi juga kian rusak. Namun, kabar baik dari IUCN adalah empat dari tujuh spesies tuna yang paling banyak ditangkap naik jumlahnya. Menurut Dr. Bruno Oberle, Direktur Jenderal IUCN, kenaikan jumlah tuna itu berkat kebijakan beberapa negara menerapkan kuota penangkapan ikan dan memerangi pengambilan ikan secara ilegal.

Tuna sirip biru Atlantik (Thunnus thynnus) pindah dari terancam punah ke risiko rendah atau least concern sementara tuna sirip biru Selatan (Thunnus maccoyii) pindah dari sangat terancam punah ke terancam punah. Albacore (Thunnus alalunga) dan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) berpindah dari hampir terancam ke risiko rendah.

Kenaikan status secara global lepas dari eksploitasi di tingkat regional. Stok tuna secara regional tetap terkuras. IUCN mencontohkan populasi tuna sirip biru Atlantik dari Mediterania naik meningkat setidaknya 22% selama empat dekade terakhir. Tapi populasi asli Atlantik barat spesies yang lebih kecil, yang bertelur di Teluk Meksiko, menurun lebih dari setengahnya pada periode yang sama. Sementara itu, tuna sirip kuning terus dieksploitasi di Samudera Hindia.

“Spesies tuna bermigrasi ribuan kilometer,” kata Dr. Bruce B. Collette, Ketua IUCN Tuna and Billfish Specialist Group. “Jadi koordinasi pengelolaannya secara global juga penting,”

Tuna sirip biru Pasifik (Thunnus orientalis) berpindah dari rentan ke hampir terancam dalam pembaruan ini karena ketersediaan data dan model penilaian stok yang lebih baru. Spesies ini tetap sangat terkuras kurang dari 5% dari populasi aslinya. Spesies tuna lain yang dinilai ulang untuk pembaruan daftar merah ini termasuk tuna mata besar (Thunnus obesus) yang tetap rentan, dan tuna cakalang (Katsuwonus pelamis) yang tetap berada pada status risiko rendah.

Menurut para peneliti IUCN, pembaruan Daftar Merah IUCN juga mencakup penilaian ulang yang komprehensif dari spesies hiu dan pari dunia. Sebanyak 37% populasi terancam punah, menunjukkan bahwa langkah-langkah pengelolaan yang efektif masih kurang di sebagian besar lautan dunia.

Semua spesies hiu dan pari yang terancam ditangkap secara berlebihan, kata IUCN, sebanyak 31% lebih dipengaruhi oleh hilangnya dan degradasi habitat. Sementara perubahan iklim menyumbang pengaruh 10%.

Kehilangan habitat dan perubahan iklim adalah dua sisi mata uang. Salah satu menyebabkan yang lain. Salah satu cara mencegahnya melalui perdagangan karbon, sehingga perlindungan habitat mendapatkan manfaat ekonomi yang menjadi titik krusial dalam mitigasi krisis iklim. Komodo salah satu satwa langka yang terancam oleh keduanya.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain