Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|18 Agustus 2021

Indonesia Bisa Nol Emisi 2050

Perhitungan Bappenas menyebutkan Indonesia bisa mencapai nol emisi pada 2050, bukan 2060 seperti proposal pemerintah dalam dokumen NDC. Industri batu bara bersedia berubah.

DOKUMEN baru NDC Indonesia mengajukan nol emisi atau net zero emissions baru bisa pada 2060, meniru janji pemerintah Cina kepada PBB. Pemerintah Indonesia mengajukan proposal baru mencapai nationally determined contributions atau janji menurunkan emisi hingga netral yang meleset 10 tahun dari kesepakatan Perjanjian Paris 2015. 

Tanpa mengubah target penurunan emisi pada 2030, nol emisi Indonesia akan terjadi pada 2060—meski ada keterangan tambahan bisa lebih cepat. Perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, menunjukkan Indonesia sangat mungkin bisa menargetkan nol emisi pada 2050, bahkan bisa 2045.

Studi tersebut menyebutkan Indonesia akan memiliki sumber energi yang tidak mengandalkan batu bara, yang menjadi penyumbang emisi terbesar. Sumber energi tersebut antara lain nuklir 13,6%, energi baru dan terbarukan (EBT) lain 10,6%, air 7,7%, panas bumi 33,1%, dan matahari + angin 34,9%.

Dino Patti Djalal, Kepala Foreign Policy Community of Indonesia, mengutip riset IESR dalam jumpa pers “Muda Bersuara 2021: Selamatkan Generasi Emas 2045 dari Krisis Iklim” pada 16 Agustus 2021. Juru bicara bidang luar negeri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan menangani perubahan iklim.

Menurut Dino, rekomendasi itu disusun 30 pakar iklim. Rekomendasi FPCI menurunkan emisi karbon fokus pada sektor energi, kehutanan, dan kebijakan domestik dan luar negeri. Dalam sektor energi, menurut dia, perlu ada transformasi sehingga energi terbarukan dalam sistem energi primer mencapai 70% pada 2050.

Dalam sektor kehutanan, rekomendasi FPCI berupa nol deforestasi. Walaupun angka deforestasi kian menurun dari tahun ke tahun, namun potensi penggundulan hutan masih terbuka. 

Dalam dokumen NDC, kata Dino, pemerintah masih mengizinkan penebangan hutan alam seluas 6,8 juta hektare. “Karena itu harus ditambal dengan kegiatan reforestasi agar seimbang antara pelepasan emisi dan penyerapannya,” kata dia.

Untuk sektor kebijakan, FPCI merekomendasikan pembentukan Green Economic Hub, yakni pusat hubungan antara ekonomi lokal dan internasional. Menurut Dino Indonesia bisa menjadi negara yang memiliki kekuatan mencegah krisis iklim jika kebijakan pemerintah memutus mata rantai proyek yang terkait dengan batu bara secepat mungkin. “Kita memerlukan kebijakan tegas,” katanya. “Korea sudah menghentikan pinjaman untuk proyek batu bara. 

Dino bercerita bahwa industri batu bara sekarang juga sudah memahami dampak krisis iklim. “Mereka mau berubah sehingga perlu kebijakan untuk mendorongnya,” kata dia.

Skenario net zero emission bisa mendorong pendapat per kapita 2,5 kali lipat lebih tinggi (atas) dan PDB 2% lebih tinggi per tahun dibanding skenario business as usual

Selain transisi batu bara, menurut Diono, penting bagi pemerintah mengurangi susidi bahan bakar fosil dalam APBN yang saat ini masih sebesar 8-9%. Ia usul agar dana tersebut harus direlokasi ke dalam anggaran program penanganan iklim.

Di akhir kesempatan diskusi, perwakilan Muda Bersuara membacakan “Pernyataan Sikap” yang mengukuhkan suara pemuda dalam mendesak target nol emisi yang ambisius dari Indonesia.

“Kami putra dan putri Indonesia, yang mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, mengimbau bangsa Indonesia—pemerintah dan rakyat Indonesia—untuk mencegah ancaman perubahan iklim dan mengambil bagian penting dalam upaya global untuk menjaga kenaikan suhu bumi hanya sekitar 1,5╦ÜCelsius, sesuai dengan Perjanjian Paris 2015”.

“Kami putra dan putri Indonesia, yang mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, mengimbau pemerintah menetapkan target baru berdasarkan data ilmiah dan selaras dengan langkah dunia, yaitu menurunkan 50% emisi nasional di tahun 2030 dan mencapai net-zero emission tahun 2050”.

“Kami putra dan putri Indonesia, yang menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, mengimbau bahwa konsep net-zero emission menjadi suatu jargon publik dan politik yang merakyat yang disuarakan secara kolektif dan konsisten. Ini adalah harga mati untuk menyelamatkan generasi kami, Generasi Emas 2045”.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain