Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|08 Juli 2021

Bumi Tanpa Keragaman Hayati

Keragaman hayati tengah musnah pelan-pelan. Untuk melindunginya perlu skema saling menguntungkan dalam ekonomi dan lingkungan.

BUMI sedang kolaps, pelan-pelan. Penyebabnya sudah sama kita tahu: krisis iklim. 

Produksi emisi untuk menggenjot ekonomi, mencapai peradaban, selama tiga abad, membuat atmosfer kehilangan daya menyerap panas dari matahari dan panas dari aktivitas mahluk hidup di dunia. Emisi itu menghasilkan gas rumah kaca yang membuat pemanasan global, suhu menjadi naik secara pelan-pelan.

Produksi emisi tahunan bumi rata-rata 51 miliar ton setara CO2. Agar kita bisa terhindar dari bencana krisis iklim, produksi emisi harus dikurangi hingga 45% agar suhu tak naik melampaui 1,50 Celsius pada 2030 dibanding masa praindustri 1800-1850, bahkan nol—artinya emisi tak jadi gas rumah kaca ke atmosfer—pada 2050.

Emisi diproduksi oleh aktivitas manusia. Karena itu makin banyak jumlahnya dunia makin terancam. Saat ini jumlah orang yang nongkrong di bumi mencapai 7,8 miliar. Profesor Johan Rockstrom dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Jerman, memprediksi jumlah manusia akan tembus 9 miliar pada 2045.

Jika manusia bertambah, sebaliknya mahluk hidup lain berkurang. Yuval Harari dalam Sapiens menulis bahwa Homo sapiens praktis menjadi penguasa di bumi sejak muncul 200.000 tahun lalu. Sejak mereka menyebar menaklukkan dunia, jumlah satwa liar berkurang secara teratur.

Menurut Profesor Rockstrom, selama 1970-2014, satwa liar berkurang 60%, dari 16.704 populasi yang mewakili 4.005 spesies di seluruh dunia. Pertambahkan manusia dan aktivitas ekonomi yang menghilangkan hutan sebagai habitat satwa menjadi penyebab utama kemusnahan satwa liar.

Jika jumlah manusia 9 miliar pada 2045, menurut Rockstrom, kapasitas biosfer bumi akan berkurang separuhnya. Biosfer, bagian atmosfer paling bawah untuk mahluk hidup, tergerus akibat okupasi manusia. Artinya, hewan dan tumbuhan liar juga akan musnah pelan-pelan.

Keragaman hayati berperan menyimpan karbon. Sebab, hewan membutuhkan tumbuhan makan, tumbuhan membutuhkan hewan untuk tumbuh dan menyebar. Jika mereka musnah, tak ada lagi penyerap emisi sehingga tak ada lagi menyerap panas yang terpantul dari selubung bumi. Kehancuran planet ini tak terbendung lagi.

Karena sudah tahu penyebab dan akibatnya, satu-satunya cara mencegah kehancuran itu adalah dengan mencegah produksi emisi. Dalam publikasi Why Biodiversity Matters, Rockstrom membuat simulasi jangka panjang mencegah bencana krisis iklim. 

Krisis iklim akibat aktivitas manusia membuat satwa liar berkurang pelan-pelan

Krisis iklim vs satwa liar

Caranya, tiada lain kecuali menekan produksi emisi. Emisi hanya diizinkan sepanjang bisa diserap ekosistem bumi sehingga tak jadi gas rumah kaca yang mencederai atmosfer. Energi fosil harus dihentikan, ganti dengan energi bersih, gaya hidup manusia berubah dengan seminimal mungkin tak melukai alam.

Mencegah kemusnahan satwa liar bisa dengan mendorong habitatnya terjaga, yakni hutan dan alam. Perusakan lingkungan harus mendapat sanksi berat seperti hukum ekosida yang sedang dirumuskan PBB. Sebaliknya, perlu insentif bagi mereka yang melindungi bumi.

Pajak dan perdagangan karbon salah satu cara menumbuhkan hubungan mutualisme ekonomi dan lingkungan. Tanpa menciptakan skema saling menguntungkan, manusia yang jumlahnya bertambah terus itu akan semakin berkuasa dan menimbulkan kerusakan di planet ini.

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University

Bagikan

Komentar

Artikel Lain