Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru|12 Mei 2021

Ekonomi Kehutanan: Multiproduk dan Multipihak

Tiga cara mengelola hutan secara lestari: menjaga sekaligus memanfaatkannya. Unduh gratis buku teks Ekonomi Kehutanan: Multiproduk dan Multipihak karya Profesor Dudung Darusman.

SELALU ada pertentangan dalam pembangunan: kelompok konservasionis dan kelompok populis. Kelompok konservasionis berpandangan bahwa alam telah memberikan kita semua fasilitas, kita harus menjaganya sekuat mungkin. Kelompok populis sebaliknya: manfaatkan untuk kesejahteraan karena begitulah alam menyediakan sumber dayanya.

Pertentangan itu melahirkan dua kutub pandangan, bahkan di kalangan ilmuwan yang mempengaruhi kebijakan: kutub eksploitatif yang tak memperhitungkan daya dukung alam dan kutub menjaga yang membuat alam tak bermanfaat sama sekali bagi manusia dan mahluk hidup lain. Indonesia menganut kutub mana?

Para dosen Fakultas Kehutanan IPB, melalui buku Ekonomi Kehutanan: Multiusaha dan Multiproduk, menawarkan jalan ketiga yang telah menjadi muara dua kutub itu: pembangunan berwawasan lingkungan. Alam, termasuk hutan, dipandang sebagai ekosistem sumber daya alam untuk menopang kelangsungan hidup manusia dan mahluk lain. Karena itu jika dikelola secara arif, ia akan membuat pembangunan ekonomi menjadi mandiri.

Menurut mereka, konsep pembangunan berwawasan lingkungan belum sepenuhnya diterapkan sehingga setelah 75 tahun Indonesia merdeka kita belum mandiri secara ekonomi. Dalam arti hutan belum menjadi penopang kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan. Hutan yang melingkupi 65% wilayah Indonesia hanya memberikan kontribusi 1% saja ke dalam ekonomi. 

Di era Orde Baru, kepemilikan sumber daya hutan pernah memiliki peran yang besar di era 1970 sampai 1990-an, namun tidak lestari secara ekologi maupun ekonomi. “Bangsa Indonesia sudah seharusnya menyadari dan mengakui sejak awal, bahwa sejak tahun 1970-an sampai sekarang telah berbuat salah urus dalam mengemban amanah pengelolaan dan pemanfaatan hutan, tidak hanya dalam hal landasan pemikiran dan keilmuannya, tapi juga sebagai akibatnya dalam pelaksanaannya yang tidak efektif dan tidak efisien,” tulis Profesor Dudung Darusman dalam pengantar.

Dengan kata lain pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan Indonesia selama ini tidak berdasarkan prinsip ekonomi yang ilmiah. Buku ini menjabarkan pengelolaan sumber daya hutan alam ke depan secara ilmiah dan sistematis. Konsepnya seperti ini:

Pertama, kepemilikan sumber daya alam termasuk hutan merupakan sumber utama atau andalan bagi kekuatan ekonomi Indonesia dalam menyejahterakan penduduk. Kedua, kekuatan ekonomi Indonesia akan terwujud apabila manusia Indonesia berperan sebagai pencipta nilai tambah dari sumber daya alam itu, yakni berperan sebagai produsen dan distributor atau pedagang. Produsen adalah pencipta nilai tambah produk, dan distributor adalah pencipta ketersediaan produk, sedangkan konsumen di sisi yang lain adalah penerima nilai kegunaan.

Ketiga, produsen dan distributor akan berperan baik apabila bisa menyediakan produk yang terbaik, karena konsumen akan memilih nilai kegunaan yang terbaik. Kebaikan produk tidak hanya dilihat dari harga, tapi 4 kriteria: jumlah, kualitas, harga dan penyediaan/pelayanan, atau sangat populer dengan kriteria QQPD (quantity, quality, price, and delivery).

Para penulis buku ini yakin Indonesia berpeluang menjadi pemeran ekonomi kehutanan terkuat di dunia , karena modal dasarnya tersedia: sumber daya hutan, lahan, dan iklim yang unggul dibanding negara-negara lain di dunia. Modal dasar itu memberikan keunggulan komparatif yang akan mewujud menjadi kekuatan ekonomi apabila dilengkapi dengan keunggulan kompetitif pengelolanya.

“Untuk menunjang keunggulan kompetitif itu, berupa penerapan ilmu dan teknologi kehutanan yang lebih maju, perlu arahan ilmu ekonomi kehutanan, ilmu yang membahas bagaimana memanfaatkan sumber daya hutan dan kehutanan seefektif dan seefisien mungkin untuk memenuhi kepentingan hidup warga negara yang majemuk,” tulis Profesor Dudung.

Unduh gratis buku teks Ekonomi Kehutanan: Multiproduk dan Multipihak karya Dudung Darusman, Hardjanto, dan Bahruni di sini.

Redaksi

Bagikan

Komentar

Artikel Lain